
"Maaf, Tante. Maksud Tante apa ya?" tanya Kayla, yang memang tidak mengerti apa-apa.
"Sejak kapan kamu punya tanda lahir kayak gitu?" tunjuk Sinta.
"Ini? Ini sudah ada dari saya lahir kok. Ada apa ya, Tante?"
"Iya, ada apa sih Ma? Ada yang aneh dengan tabda lahirnya?" tanya Rian.
"Nggak, bukan apa-apa kok" kata Sinta, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Ya sudah. Kalian berdua sebaiknya pulang. Saya dan suami saya yang akan bicara denga Kiara. Ini masalah keluarga kami, jadi tolong jangan ikut campur" ucap Sinta.
"Kak, jangan tinggalin aku, aku takut" mohon Kiara.
"Kiara, biarkan mereka pulang" kata Rian.
Dengan sangat terpaksa, Kayla dan juga Laura harus segera pergi. Mereka memang tidak punya hak untuk ikut campur di keluarga Kiara.
"Maaf ya Kiara. Kakak nggak bisa temenin kamu bicara sekarang. Tapi kamu kan lagi hamil dan pastinya akan menjadi seorang Ibu. Jadi, mulai dari sekarang belajarlah untuk menghadapi semuanya. Ini sudah resikonya. Kamu pasti bisa, Kakak yakin" ucap Kayla.
"Iya, Kak. Makasih ya setidaknya sudah nemenin aku walaupun hanya sebentar. Kak Laura juga" ujar Kiara.
"Iya sama-sama. Kami pamit dulu ya, nanti kita ketemu lagi" kata Laura.
Kayla dan Laura akhirnya pamit untuk pulang. Kini hanya tersisa Kiara, Sinta, dan juga Rian.
Pikiran Sinta sedang terbagi-bagi saat ini. Satu sisi ia sedang stres memikirkan Kiara yang tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya hamil, dan satu sisi karena melihat tanda lahir Kayla. Tanda lahir itu sangat tidak asing bagi Sinta.
"Pokoknya Mama nggak mau tahu, pacar kamu harus bertanggung jawab atas perbuatannya Kiara. Kalau tidak, maka dia akan dipenjara. Ingat itu! Papa urus Kiara"
__ADS_1
Sinta bangkit dari kurisnya dan berlalu ke kamar. Sedangkan Rian yang sudah sangat kecewa kepada anak semata wayangnya itu, berusaha untuk berbicara secara baik-baik.
Di dalam kamar, Sinta terlihat sedang mengambil sesuatu dari dalam lemari. Ternyata ia mengambil satu box berwarna cokelat yang berukuran sedang. Dibersihkannya debu-debu yang menempel diatas box, terlihat bahwa box itu sangat jarang bahkan hampir tidak pernah dibuka sebelumnya.
Setelah dirasanya sudah bersih, Sinta mulai membukanya. Diambilnya satu foto yang sudah terlihat sedikit kusam, lalu tiba-tiba air matanya menetes. Ternyata itu adalah foto dirinya bersama anaknya dari suami pertama, yang mempunyai tanda lahir sama persis dengan milik Kayla.
Kau kah itu, nak? Apa saat ini kamu benar-benar sedekat itu denganku? Aku sangat merindukanmu sayang. Maafkan Mama, karena dulu meninggalkanmu saat kamu lahir. Batin Sinta.
Sinta mendekap foto itu dengan sangat erat, bulir air mata terus menerus mengalir hingga membasahi pipinya. Sungguh rindu yang amat menyakitkan dirasakannya saat ini. Sudah 18 tahun lamanya, ia tidak berjumpa dengan putri pertamanya itu.
Flashback on
Sinta berusaha lari, meskipun perutnya sudah sangat besar karena sedang hamil tua. Ia berusaha lari dari kejaran suaminya, yang sudah seperti kesetanan.
Akhirnya ia berhasil terlepas dari jeratan suaminya, dengan berangkat ke kota lain menggunakan kereta api.
Sinta merupakan istri sirih. Ia menikah dengan seorang lelaki yang telah memiliki anak dan istri. Seperti de javu bukan? Sekilas hal itu sangat mirip dengan apa yang dialami Kayla.
Saat sedang mengandung, perubahan terjadi didalam rumah tangganya. Ia kerap kali dipukuli tanpa sebab bahkan dimaki-maki tanpa alasan yang jelas. Hal itu membuat Sinta sangat terkejut. Ia mulai curiga kepada suaminya dan menemukan fakta bahwa, suaminya ternyata telah memiliki keluarga lain sebelumnya. Yang berarti, ia hanyalah istri simpanan saja.
Karena telah mengetahui hal itu, Sinta memutuskan untuk bercerai. Namun, suaminya tidak mau dan malah bertambah murka. Alhasil, Sinta berusaha kabur disaat kandungannya yang sudah mencapai usia 8 bulan.
Sebulan kemudian, ia melahirkan seorang bayi yang sangat lucu. Ia berencana untuk memulai hidup baru bersama anaknya. Namun, rencana itu sia-sia.
Suami Sinta ternyata masih mencari keberadaannya. Karena ia takut anaknya akan dalam bahaya, ia memutuskan untuk menaruh bayinya yang baru berusia beberapa hari, didepan pintu sebuah panti asuhan.
Satu-satunya tanda pengenal yang diberikan Sinta hanyalah naman anaknya, yang dituliskan disecarik kertas. Dan namanya adalah KAYLA.
Flashback off
__ADS_1
Sinta mengusap air matanya. Ia tidak mau larut dalam kesedihan. Ia takut suaminya Rian dan juga anaknya Kiara akan curiga, kalau melihatnya menangis.
Awalnya Sinta belum yakin saat Kayla menyebut namanya. Ia pikir itu hanyalah sebuah kebetulan. Namun, saat ia melihat tanda lahir itu. Itu sangat jelas membuktikan bahwa Kayla yang dilihatnya hari ini, merupakan Kayla anak kandungnya.
Ternyata dia sudah menikah. Aku senang ternyata dia baik-baik saja selama ini. Dia dirawat oleh orang yang benar-benar sangat menyayanginya seperti anak kandung sendiri. Aku penasaran ingin tahu siapa orang tua angkat Kayla. Ingin rasanya aku berterima kasih kepada mereka, karena telah merawatnya hingga sebesar ini.
Untuk saat ini, Sinta masih ingin merahasiakan semuanya dari Kayla. Menurutnya, semua pasti akan ada waktu yang tepat. Dan untuk sekarang, bukanlah waktu yang tepat, karena ia ingin menyelesaikan masalah Kiara lebih dulu.
.
.
.
Kayla dan Laura akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing, sehabis dari rumah Kiara.
Kebetulan saat ia pulang, bersamaan dengan jam pulang sekolah Revan. Sehingga Kayla memutuskan untuk menjemput Revan. Keduanya tidak langsung pulang ke rumah, melainkan singgah di toko es krim.
Karena keasyikan menikmati es krimnya, Kayla sampai lupa memberitahukan kepada Aldo, kala ia sudah menjemput lebih dulu Revan. Alhasil, saat ini Aldo sedang kelimpungan mencari keberadaan anaknya itu.
"Pak, anak saya dimana? Saya itu sudah bayar mahal-mahal sekolah anak saya berharap dia dijaga dengan baik, tapi buktinya sekarang apa? Anak saya nggak tahu kemana" ucap Aldo, yang sudah emosi.
"Mohon maaf, Pak. Tapi saya tadi tidak bisa lihat karena sangat ramai anak-anak pulang sekolah. Tetapi seingat saya, anak Bapak kayaknya pulang dengan seorang wanita deh. Iya, saya yakin nggak salah lihat deh, Pak" kata Pak Satpam.
Apa Tasya yang jemput? Awas saja kalau benar ternyata dia. Geram Aldo.
"Oke, terima kasih"
Aldo hendak menyuruh Raffa untuk mencari keberadaan Tasya saat ini. Untung saja hp nya berbunyi tepat waktu. Muncul satu pesan dari Kayla. Istrinya itu mengirimkan foto dirinya bersama Revan sedang menikmati es krim.
__ADS_1
"Ternyata mereka sedang makan es krim. Hampir saja aku mematahkan kedua kaki Tasya, karena mengira dia membawa pergi Revan. Memang istriku ini sangat manis" kata Aldo.
Ia tersenyum menatap foto yang dikirim istrinya itu, kemudian mencium layar hp nya, saking gemasnya.