
Malam pun tiba Gustaf yang selesai membersihkan badannya segera naik ke atas ranjang. Dia melihat Vanly mengutak-atik ponselnya.
"Sayang" Sapa Gustaf dengan tersenyum
Vanly melihat ke arah suaminya. Gustaf seperti ingin mengatakan sesuatu padanya.
Apakah tentang kejadian tadi pagi?
Gustaf pun memulai pembicaraan
"Sayang, dulu aku dengar dari Bams bahwa kamu sering masuk jajaran top tiga di kelas. Apakah tidak sayang jika kamu gak melanjutkan pendidikan?"
"Ehm.. Sebenarnya aku ingin mas, tapi sekarang posisinya berbeda. Aku sudah menjadi seorang istri, aku mempunyai tanggung jawab besar padamu dan rumah ini. Mana mungkin aku bisa melanjutkan pendidikan." Jawab Vanly serius.
"Jika aku izinkan meneruskan pendidikan, Apakah kamu mau Van?" tanya Gustaf.
Vanly pun mengangguk kan kepalanya tanda ia setuju. Baginya pendidikan itu sangatlah penting. Sebenarnya ketika Bams belum jatuh sakit, Vanly hendak melanjutkan pendidikannya di Universitas favorite, namun takdir berkata lain. Bams jatuh sakit hingga di akhir hayatnya Bams memintanya untuk menikah di usia muda.
"Lanjutkanlah pendidikan mu, aku akan membiayainya." Ucap Gustaf singkat.
__ADS_1
Mata Vanly langsung berkaca-kaca, impiannya untuk melanjutkan pendidikan dikabulkan Tuhan melalui suaminya. Gustaf memegang tangan Vanly dan mencoba memberinya pengertian.
"Pendidikan itu penting, kamu istriku suatu saat akan melahirkan anak-anakku, Pendidikan pertama yang di dapat oleh anak ialah dari ibunya. Jika ibunya cerdas anak kita juga cerdas, jadi kamu harus melanjutkan pendidikanmu agar kamu mampu mendidik anak kita jadi orang yang kuat, jujur, dan cerdas"
Vanly terharu dengan ucapan Gustaf. Suaminya begitu dewasa. Gustaf kembali memulai pembicaraan.
"Tapi, Jika suatu saat kamu hamil aku hanya mengizinkanmu untuk pergi ke kampus hingga usia kandungan tujuh bulan, setelah itu kamu kuliah online saja sampai anak kita berumur tiga bulan."
Vanly gemetar mendengar perkataan Gustaf. Apakah dia benar-benar menginginkan anak secepat ini? Bahkan Vanly sangat tidak siap untuk mempunyai anak. Dia merasa masih sangat muda untuk menjadi seorang ibu.
"Bagaimana Van, apakah kamu setuju?" tanya Gustaf membuyarkan Pikiran Vanly yang sedang berjalan-jalan memikirkan pernyataan suaminya.
Setidaknya Vanly bisa melanjutkan pendidikannya, masalah hamil itukan Tuhan yang mengatur, jika memang dia diberi kepercayaan untuk memiliki anak secepatnya maka dia harus bersyukur, jika Tuhan belum memberinya kepercayaan untuk memiliki anak dia harus berterimakasih karena Tuhan melancarkan pendidikannya.
Waktu semakin larut, Gustaf mulai menguap, ia berpamitan untuk tidur terlebih dahulu. Sedangkan Vanly masih terngiang-ngiang dengan ucapan suaminya itu.
Vanly susah tidur malam ini. Dia membolak balikkan tubuhnya. Goncangan di ranjang akibat ulah Vanly membuat Gustaf terbangun dari tidurnya.
"Sayang, kok belum tidur?" tanya Gustaf sambil mengucek matanya
__ADS_1
"Gatau mas dari tadi dibuat merem gak bisa." Jawab Vanly sembari mengerucutkan bibir mungilnya.
Gustaf segera memeluk Vanly dan mencium pucuk kepalanya. Gustaf berharap dengan sikapnya ini mampu membuat Vanly tidur malam ini. Ketika Vanly mulai memejamkan matanya tiba-tiba suara ponsel Gustaf berbunyi.
Drtt.. drtt.. drrtt..
"Siapa yang mengirimi pesan ke Mas Gustaf tengah malam begini?" Tanya Vanly didalam hati.
Gustaf yang mendengar suara ponsel nya berbunyi segera mengeceknya. Ternyata setelah di cek, Anita lah yang telah mengirimkan pesan kepadanya. Gustaf segera mematikan ponselnya, agar Anita tidak mengganggunya.
Disisi lain, Vanly melihat Gustaf bersikap aneh, sangat jarang Gustaf mematikan ponselnya karena ia sangat tau bahwa ponsel sangat penting bagi suaminya, karena jika ada urusan mendadak asisten Jun pasti akan mengabarinya lewat ponsel. Namun, Vanly mencoba berpikir positif.
hai guys!
author lagi bingung cari ide nih,
makanya agak belibet bahasanya,
maaf kalo belum bisa memuaskan kalian semua,
__ADS_1
author akan berusaha memperbaiki nya⭐