
Sesampai dirumah, Vanly pun di sambut oleh bi Piah. Asisten rumah tangganya itu merasa jika nona nya juga berbeda dari tadi pagi. Bi Piah melihat Vanly sangat pucat. Bi Piah pun segera menawarkan makan kepada nonanya namun di tolak mentah-mentah. Vanly malah justru memutuskan untuk berjalan menuju kamarnya untuk tidur.
Bi Piah merasa jika nona nya sedang tidak baik-baik saja, ia pun segera menghubungi Gustaf melalui telpon rumah.
Gustaf
Halo
Bi Piah
Halo tuan, maaf saya lancang menelpon tuan.
Gustaf
Iya bi, ada apa?
Bi Piah
Tadi saya lihat wajah Nona sangat pucat, tuan.
Gustaf
Apakah Vanly tidak mengatakan sesuatu?
Bi Piah
Tidak tuan, non Vanly langsung menuju kamarnya dan menolak untuk menyantap makan siangnya tuan.
Gustaf
__ADS_1
Baik bi, saya akan segera pulang
-----
(di kantor)
"Sebenarnya ada apa dengan Vanly? Tadi pagi dia seperti sedang marah kepadaku, kata bi Piah dia terlihat pucat, apakah dia sedang ada masalah? Apakah dia sedang sakit?" Gustaf berusaha menduga-duga apa yang sedang terjadi kepada istrinya itu.
Gustaf pun meminta Ziko untuk tetap berada di kantor bersama dengan Asisten Jun. Gustaf pun tidak lupa menghubungi dokter untuk memeriksakan keadaan Vanly mengingat besok mereka akan berlibur ke Bali. Gustaf tak ingin jika Vanly sakit ketika di Bali esok.
"Bro, you tetap disini" Ucap Gustaf sembari mengemas tas kantornya.
"Terus siapa yang antar aku pulang?" Tanya Ziko polos.
"Itu ada si Jun yang akan mengantarkan mu" Sahut Gustaf.
Tanpa menjawab ocehan sahabatnya, Gustaf segera berjalan keluar menuju parkiran mobil. Pikirannya sudah berjalan kemana-mana akibat mendengar kabar Vanly yang sedang sakit.
Gustaf pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tak memperdulikan keselamatan dirinya sendiri. Baginya keselamatan orang yang ia cintai adalah yang utama. Bahkan jika sesuatu terjadi pada istrinya ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Sayang, sebenarnya kamu kenapa.. " gerutu Gustaf frustasi memikirkan keadaan istrinya.
Wajah Vanly selalu membayang-bayangi otak Gustaf. Ia tak sanggup jika harus melihat istrinya sakit. Selama satu bulan menikah, Gustaf sama sekali belum pernah melihat Vanly sakit. Mungkin itulah alasannya Gustaf terlalu khawatir akan kondisi istri kecilnya itu.
Hingga akhirnya mobil Gustaf memasuki halaman rumah. Gustaf melihat jika ada satu mobil asing sudah terparkir di halamannya tak lain itu pasti mobil dokter yang sering menanganinya. Gustaf pun segera memasuki rumah. Ia melihat Dokter Nisha sudah menunggunya di ruang tamu.
"Hai dok" Gustaf berusaha ramah kepada dokter yang akan menangani istrinya, walaupun sebenarnya Gustaf sekarang sedang khawatir akan keadaan istrinya.
"Hai tuan! Kapan kita bisa memulai pemeriksaan?" Tanya dokter Nisha tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Sekarang saja dok! Lebih cepat lebih baik" Sahut Gustaf dengan semangat .
"Tapi tunggu sebentar dok, saya akan lihat istri saya terlebih dahulu" sambungnya.
Gustaf pun segera berlari menuju kamar.
Cklekk..
"Mas" Sapa Vanly dengan tersenyum.
Gustaf pun mendekat kearah Vanly, dilihatnya Vanly memang terlihat pucat, Gustaf mencium kening istrinya itu, ternyata badannya pun tidak sedang demam.
"Mas aku kangen" Ucap Vanly yang langsung menghamburkan diri ke dada bidang Gustaf.
Kangen? Bukankah tadi pagi dia sedang marah padaku? Sampai-sampai tak mau berpamitan denganku. Dan sekarang dia bilang kangen? Kenapa moodnya berubah sangat cepat begini.
Gustaf pun membalas pelukan Vanly dengan lembut.
"Apakah kau sedang tidak enak badan sayang?"
"Aku baik-baik saja mas" Ucap Vanly sedikit manja.
"Tapi wajahmu terlihat pucat" Sahut Gustaf dengn lembut.
"Aku sudah memanggilkan dokter untuk memeriksa kondisimu, aku hanya ingin memastikan apakah kamu butuh pengobatan atau tidak. Aku tidak ingin jika kamu sakit sayang, karena besok kita akan ke Bali" Sambung Gustaf.
Vanly pun mengangguk tanda mengerti, Gustaf pun meminta Vanly untuk berbaring sebentar, ia pun turun untuk memanggil dokter Nisha ke atas untuk memeriksa Vanly.
.
__ADS_1