Menikahi Sahabat Papa

Menikahi Sahabat Papa
Bab 19 // Dinner Part 2


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 20.00 wib, Gustaf meraih tangan Vanly untuk berdansa. Gustaf menaikkan tangannya meminta untuk diputarkan lagu klasik yang seirama dengan tariannya. Gustaf dan Vanly berdansa dengan sangat lihainya. Terlihat sesekali Vanly memutar tubuhnya dan terjatuh di pelukan suaminya. Malam itu sungguhlah sangat romantis bagi mereka.


Setelah lelah berdansa, Vanly dan Gustaf duduk kembali untuk melahap makanannya. Sesekali Gustaf menyuapi istrinya makanan yang ada dipiringnya. Vanly menerima semua perlakuan Gustaf.


Gustaf mencoba memulai pembicaraan "Sayang" panggilnya dengan lembut.


"Apa mas?" jawab Vanly singkat.


"Kalo suatu saat kamu hamil, kamu ingin punya anak laki-laki atau perempuan?" Tanya Gustaf antusias.


Deg....


Apakah mas Gustaf menginginkan anak secepatnya dari rahimku? Tapi aku belum siap. Aku masih terlalu muda untuk mengandung. Dan pendidikanku? Aku tidak mau meninggalkan nya.


"Sayang" panggil Gustaf membuyarkan lamunan istrinya.


"Ehh iyaa" sahut Vanly kaget.


"Kenapa? Kan mas hanya tanya. Atau kamu memang belum siap?" Tanya Gustaf.


"Sejujurnya, aku belum siap jika harus memiliki anak di umur semuda ini. Aku takut tidak bisa menjadi ibu yang baik buat anakku. Lagian aku masih ingin melanjutkan pendidikanku mas" Jawab Vanly sambil menundukkan kepalanya.


Gustaf tak menjawab perkataan Vanly. Ia berusaha mengerti memang Vanly masih terlalu muda. Ia hanya pasrah dengan apa yang sudah Tuhan atur. Jika memang sudah saatnya ia menjadi seorang ayah, Tuhan pasti akan memberinya keturunan.

__ADS_1


Vanly yang melihat Gustaf terdiam merasa bersalah. Ia tau jika suaminya sangat mendambakan seorang anak karena memang umurnya tidak lagi muda. Vanly bingung harus mendahulukan kebahagian suaminya atau pendidikannya, tapi terkesan egois jika Vanly memilih pendidikannya.


"Mas, maafkan aku. Aku belum bisa jadi istri yang baik. Bahkan aku terkesan egois karena hanya mementingkan keinginan pribadiku" Ucap Vanly dengan mata berkaca-kaca.


Gustaf yang melihat Vanly hendak menitik kan air mata segera berdiri menghampiri istrinya dan memeluk nya.


"Tidak sayang, aku tau kamu tidak egois" Sahut Gustaf sembari menenangkan istrinya.


Setelah Vanly tenang, Gustaf pun mengajak Vanly untuk pulang karena besok ia akan berangkat pagi menuju Australi. Di perjalanan pulang, Vanly melihat ada penjual jagung bakar di pinggir jalan, seketika Vanly merengek ke pada Gustaf jika ia ingin memakan jagung bakar.


"Mas, mau jagung bakar" ucap Vanly dengan mengerucutkan bibir mungilnya.


"Mang, hentikan mobilnya. Dan belikan istriku jagung bakar" perintah Gustaf kepada sopir pribadinya itu. Vanly seketika terlihat tersenyum lebar, ia langsung memeluk suaminya itu. Gustaf hanya terkekeh melihat tingkah jstri kecil nya.


Yummy...


"Mas, apakah kau tidak mau mencicipinya? Ini sangat enak" Ucap Vanly dengan menelan jagung yang di makan.


"Tidak, aku sudah kenyang melihatmu makan" Sahut Gustaf dengan terkekeh melihat sikap istrinya. Vanly pun tidak perduli dengan ledekan suaminya itu, jagung itu memang sangat enak hingga Vanly memakannya sampai habis.


Mobil Gustaf telah memasuki halaman rumah. Mang Ujang segera memarkirkan mobil tuannya di garasi. Gustaf dan Vanly pun segera turun dan masuk ke dalam rumah. Gustaf berjalan mendahului Vanly untuk menyalakan lampu, ketika lampu sudah menyala terdengar suara Gustaf tertawa terbahak-bahak.


Hahahaha..

__ADS_1


Vanly hanya bingung melihat Gustaf yang tertawa hingga berlutut dihadapannya.


Apa yang salah? Kenapa dia ketawa sampai seperti itu?


Gustaf tertawa semakin kencang sambil menunjuk wajah Vanly. Vanly pun angkat bicara.


"Kenapa sih?" Tanya Vanly sewot


"Hitam semua" Ucap Gustaf dengan tertawa


"Apanya?" Tanya Vanly tidak mengerti.


Gustaf pun segera membuka kamera ponsel nya. Dan benar saja Vanly melihat wajahnya belepotan penuh dengan warna hitam bekas jagung bakar yang ia makan tadi. Wajahnya langsung memerah seketika, bukan merah karena marah tapi karena malu. Ia pun segera berlari ke arah kamar. Gustaf pun menyusulnya.


Ketika Gustaf membuka pintu kamarnya ia tidak menemukan Vanly di dalamnya. Namun ia mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Tentu saja Vanly pasti sedang membersihkan dirinya. Gustaf pun berfikir untuk segera membersihkan dirinya juga di kamar mandi sebelah untuk menghemat waktu.


----


Setelah selesai membersihkan diri Gustaf segera kembali ke kamarnya. Dilihatnya Vanly sudah tidur di bawah selimut tebalnya. Gustaf pun bergegas kembali ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya. Ia memeluk istri kecilnya itu. Ia pasti akan sangat merindukannya ketika di Australi nanti.


"Kamu pasti sangat lelah hingga tidur duluan tanpa menungguku, tapi tidak apa-apa. Mimpi Indah sayang" bisik Gustaf ditelinga istrinya. Gustaf pun segera menarik selimut yang di pakai istrinya menutupi tubuh mereka berdua. Gustaf memeluk Vanly dan akhirnya mereka berdua terlelap.


.

__ADS_1


__ADS_2