
Setelah sesampainya dirumah, Vanly dan Gustaf memutuskan untuk bersantai-santai di depan televisi. Mereka menonton serial yang kebetulan mereka sama-sama menyukainya. Bi Piah berjalan mendekati Vanly dan Gustaf dengan membawa dua gelas jus.
"Permisi tuan, nona. Ini saya buatkan jus alpukat." Ucap Bi Piah.
"Terimakasih ya Bi, tau aja kalau Vanly pengen jus alpukat." Jawab Vanly sembari mengambil segelas jus alpukat untuknya.
"Apakah nona dan tuan mau makan sekarang?" Tanya Bi Piah.
"Tidak Bi, nanti saja." Ujar Vanly.
"Baiklah nona, saya kembali kedapur dulu."
Vanly pun mengangguk mendengar ucapan Asisten rumah tangganya itu. Ia meminum jus buatan Bi Piah dengan lahapnya. Bahkan ia masih merasa kurang puas dengan meminum segelas jus yang ukurannya lumayan besar.
"Mas, masih mau" Ucap Vanly polos.
"Ya sudah, mas bilangin ke Bi Piah dulu ya?"
"Gak usah mas," Sahut Vanly dengan cepat.
"Terus?" Tanya Gustaf bingung.
"Mau minum punya mas aja." Ucap Vanly dengan senyum pepsodent dibibir mungilnya.
"Baru saja satu tegukan, dia memintanya. Astaga, bini gua waktu hamil nafsu makannya berubah drastis." Decak Gustaf dalam hati.
Vanly yang melihat suaminya hanya terdiam dan tak menjawab perkataannya pun sedikit kesal.
"Mas nih," Ucap Vanly dengan raut wajah sedih.
"Iya sayangku, ini kamu minum aja. Mas sudah kenyang." Jawab Gustaf yang tak tega melihat perubahan diraut wajah istrinya.
__ADS_1
Vanly pun langsung mengambil gelas yang berisikan jus alpukat itu dan diminumnya hingga habis. Gustaf hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah istrinya.
"Mas, Vanly mau tidur." Ucapnya sembari beranjak berdiri.
"Aww..." Ada sesuatu yang menghantam perutnya.
"Kenapa sayang?" Tanya Gustaf panik.
Tanpa menjawab pertanyaan suaminya, Vanly langsung menarik tangan Gustaf dan diletakkannya di atas perut Vanly. Gustaf merasakan sebuah gerakan atraktif dari dalam perut Vanly. Ia pun tersenyum sembari mengusap lembut perut istrinya itu.
"Jangan menendang perut mama terlalu kencang ya sayang," Ujar Gusfat pada perut buncit istrinya.
Vanly hanya tersenyum melihat tingkah suaminya itu. Bahkan sesekali Gustaf menciumi perutnya yang mulai membesar.
"Mas, bisakah kita kembali ke kamar sekarang? Kaki ku sudah sangat pegal." Ucap Vanly pada Gustaf yang masih asyik menciumi perutnya.
"Tentu saja sayang! Mari kita ke atas."
Gustaf dan Vanly berjalan menuju lantai dua dengan bergandengan tangan. Sesampainya dikamar, Vanly merebahkan tubuhnya dengan lembut, Gustaf pun melakukan hal sama seperti istrinya. Gustaf memeluk istrinya dan mengusap pelan pucuk kepala Vanly, hingga akhirnya Vanly pun tertidur dipelukannya.
Gustaf memejamkan matanya perlahan. Baru beberapa menit ia tidur terdengar suara ponselnya berbunyi.
Drrtt.. drtt.. drtt..
Dilihatnya Asisten Jun lah yang menelponnya. Ia pun segera mengangkatnya.
"Dasar si Jun, ia mengganggu waktu tidurku saja." Gerutu Gustaf lirih.
Gustaf
Ya Jun, Ada apa?
__ADS_1
Asisten Jun
Maaf tuanku,
Gustaf
Bicaralah dengan jelas,
Asisten Jun
Saya ingin membicarakan hal yang sangat penting
Tidak biasanya si Jun membicarakan hal yang penting dengan serius seperti ini. Dikantor kan sedang tidak ada masalah. Lalu apa yang hendak ia bicarakan? Apakah ia sedang mengalami masalah?
Gustaf
Kemarilah, aku tunggu dirumah
Asisten Jun
Baik tuanku, saya akan segera kesana
setelah itu, Asisten Jun pun mematikan telponnya. Gustaf bergegas menuju ruang pribadinya. Tak lupa ia memberi kecupan lembut dibibir Vanly, agar ia tak terbangun akibat ulahnya.
----
**Hai guys!
maaf author lama ga up, setres banyak tugas menumpuk:(
btw, Selamat menunaikan ibadah puasa ya bagi yang menjalankan❤❤❤
__ADS_1
Tetap support author ya,
jangan lupa LIKE, KOMEN, dan VOTE**