
Gustaf sekarang sedang berada diruang pribadinya. Hampir duapuluh menit Gustaf menunggu Asisten kesayangannya itu. Ia penasaran mengapa Asistennya begitu serius ditelpon tadi. Apa sebenarnya yang ingin ia katakan?
Tok.. tok.. tok..
"Ya masuk!" Sahut Gustaf dari dalam ruangan.
Asisten Jun pun memasuki ruangan itu setelah mendengar jawaban dari Gustaf.
"Permisi tuan." Ucap Asisten Jun dengan sopan.
"Ya duduklah," Jawab Gustaf dengan wajah datarnya.
Terlihat keheningan yang menimpa mereka berdua. Biasanya antara Gustaf dan Asisten Jun saling melempar basa-basi yang sebenarnya tidak perlu untuk dibicarakan.
Gustaf pun memulai pembicaraan.
"Ehm, Sebenarnya ada apa Jun?" Tanya Gustaf mengawali pembicaraan.
"Maaf tuan, sebelumnya saya ingin berterimakasih kepada tuan karena telah menjadikan saya sebagai orang yang kuat dan disiplin. Hingga bisa berada di karir saya yang sekarang, saya sangat-sangat bersyukur. Terimakasih karena tuan telah membantu saya ketika ayah saya meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya, terimakasih karena tuan membantu ibu dalam mencari pundi-pundi uang. Terimakasih karena telah mengangkat saya sebagai anak angkat tuan, menyekolahkan saya, hingga menjadikan saya sebagai Asisten pribadinya tuan," Ujar Asisten Jun dengan mata yang mulai memerah.
__ADS_1
"Dulu saya hanya remaja yang tidak punya apa-apa, tapi berkat kebaikan tuan saya bisa mempunyai semua ini. Jika dulu tuan tidak membantu saya dan ibu, mungkin sekarang saya akan jadi anak nakal, bahkan bisa jadi gelandangan karena tidak mempunyai perekonomian yang layak." Sambungnya.
Gustaf hanya mendengarkan Asisten Jun berbicara tanpa mencelanya. Ia berusaha memahami apa yang sebenarnya ia ingin sampaikan.
"Saya kemari, ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Tanpa mengurangi hormat saya kepada tuanku, saya ingin.. " Ujarnya sedikit terbata-bata.
"Saya ingin mengajukan pengunduran diri saya sebagai Asisten Pribadi tuanku." Sambung Asisten Jun.
Deg..
Ada sesuatu yang menghantam hati Gustaf. Anak yang sejak remaja ia sekolahkan dan ia didik ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Ia tidak menyangka jika Asisten Jun akan berkata seperti itu.
"Apa sebenarnya kurangku hingga kamu berani mengundurkan diri?" Sambung Gustaf.
"Maaf tuanku, anda tidak kurang sedikitpun. Saya berhutang Budi pada anda tuan." Ucap Asisten Jun meluruskan apa yang dipikirkan Gustaf.
"Lalu?"
"Sebenarnya tuan,"
__ADS_1
"Bicara yang jelas!" Bentak Gustaf.
"Sebenarnya, saya sudah menambatkan hati kepada seseorang yang sangat saya cintai. Saya berniat untuk menikahinya tuan. Namun, ia sedang melanjutkan studinya di Singapore, jadi bagaimanapun saya harus mengalah, saya harus ikut kesana tuan. Saya tidak ingin mengganggu studinya." Ucap Asisten Jun.
"Ternyata kamu telah jatuh Cinta? Belajar dari mana kamu?"
Tentu saja Gustaf akan bertanya seperti itu, karena yang ia lihat, Asisten Jun adalah orang yang sangat tanggung jawab dalam pekerjaan. Jika dikantor ia sama sekali tidak pernah menyentuh ponselnya untuk chatting bersama teman bahkan ceweknya. Jika ada misi-misi tertentu, ia pun dengan sigap mengerjakannya. Ia tak pernah terlihat jatuh Cinta kepada siapapun, yang terlihat dari Asisten Jun hanyalah kesetiaannya kepada Gustaf.
"Sebenarnya saya sudah lama menjalin hubungan dengannya sebelum ia ke Singapore, saya mengizinkannya untuk melanjutkan pendidikannya karena tuanku. Saya melihat tuanku sangat mendukung nona muda dalam melanjutkan pendidikannya. Sedikit demi sedikit saya belajar cara mencintai wanita dari tuan dan nona muda."
"Selain itu, saya rasa umur saya sudah cukup matang untuk menikah tuan, saya ingin melihat ibu tersenyum menggendong cucunya." Ucap Asisten Jun tulus.
"Baiklah, akan aku pikirkan terlebih dahulu untuk resiko pengunduran dirimu. Kamu boleh pulang." Sahut Gustaf dengan wajah datar.
Asisten Jun pun melangkahkan kakinya keluar ruangan dan disusul oleh Gustaf yang berjalan menuju kamarnya. Gustaf memasuki kamarnya dan dilihatnya Vanly telah terbangun dari tidurnya.
---
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, dan VOTE
__ADS_1