Menikahi Sahabat Papa

Menikahi Sahabat Papa
Bab 53 // Pemeriksaan


__ADS_3

Setelah menunggu sekitar 10 menit, Vanly dan Gustaf akhirnya memasuki ruang periksa. Dokter sudah menunggu di sana. Tanpa basa basi lagi, dokter langsung memeriksa keadaan janin yang sedang dikandung Vanly.


Dokter melakukan Ultrasonografi pada Vanly. Ia menggerakkan alat itu ke kanan dan ke kiri di atas perut Vanly yang masih datar.


"Apakah darah yang keluar banyak bu?" Tanya dokter tersebut.


"Tidak dok, hanya sedikit" Jawab Vanly jujur.


"Apakah ibu mengalami sakit perut ataupun keram perut?" Tanya dokter itu kembali.


"Tidak bu" Jawab Vanly singkat.


Setelah itu dokter masih tetap berfokus pada ultrasonografi yang dilakukan. Ia melihat keadaan janin yang ada di dalam kandungan Vanly. Janin itu masih ada di dalam rahim Vanly berupa biji kacang yang sangat kecil.


Beberapa saat kemudian dokter melakukan analisa atas keadaan Vanly dan janinnya.

__ADS_1


"Janin ibu tidak kenapa-kenapa, janinnya sangat kuat. Cuman saya harap ibu harus lebih berhati-hati lagi karena janin yang masih berumur mingguan biasanya rentan untuk keguguran. Hari ini saya akan berikan vitamin yang bisa anda tebus di apotek, usahakan selalu minum susu ya bu, karena itu membuat janin ibu semakin kuat dan membantu tumbuh kembangnya dengan baik"


"Baik bu" Jawab Vanly sembari menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Dokter memberikan resep obat yang harus di tebus pasangan suami istri itu. Mereka pun bergegas menuju apotek yang ada di dalam rumah sakit. Saat berjalan menuju apotek, tangan Gustaf tak sedikitpun melepas genggamannya pada Vanly. Ia sudah berjanji untuk selalu menjaga istri dan calon anaknya itu. Hari ini Tuhan masih memberi mukjizat anaknya masih sehat berada di rahim Vanly.


"Apakah kamu lelah sayang? Kalau lelah mas gendong aja! " Ucap Gustaf yang masih tetap menggandeng Vanly dengan erat.


Vanly pun membelalakkan matanya mendengar ucapan suaminya yang terkesan aneh.


"Ya demi kebaikanmu sayang, mas tidak ingin sesuatu terjadi padamu dan anak kita!" tegas Gustaf.


"Yes I know, tapi untuk sekarang Vanly masih kuat untuk jalan. Jadi mas tidak perlu menggendong Vanly" Sahut Vanly dengan cepat.


Gustaf pun menuruti permintaan istrinya itu. Namun ia masih tetap menggenggam tangan Vanly selama berada di di apotek. Setelah mendapatkan obatnya, Gustaf dan Vanly memutuskan untuk mencari makan terlebih dahulu. Mereka singgah di suatu rumah makan khas Bali didekat rumah sakit. Gustaf dan Vanly memesan bebek betutu dan sate lilit yang terkenal dengan cita rasa dan cara memasaknya yang unik.

__ADS_1


Sembari menunggu pesanan di sajikan, Gustaf dan Vanly pun berbincang-bincang untuk memecah keheningan di antara mereka.


"Mas, bagaimana kalau besok kita mampir ke toko oleh-oleh? Aku ingin membelikan beberapa oleh-oleh untuk teman-temanku dan Bi Piah" Ucap Vanly penuh semangat.


"Tapi sayang.. Apakah kamu sudah merasa lebih baik?" Tanya Gustaf serius.


"Iya mas, aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja" Jawab Vanly santai.


"Tapi.. " belum selesai Gustaf berbicara, terlihat mata Vanly berkaca-kaca. Gustaf pun tak tega melihat istrinya berubah menjadi sedih seperti itu. Memang belakangan ini Vanly cepat merasa sedih jika ada sesuatu yang tak sesuai dengan keinginannya. Mungkin memang bawaan hamil muda, hingga membuat moodnya berubah-ubah.


"Baiklah sayang" Ucap Gustaf pasrah.


Pelayan pun mengantarkan makanan yang sudah di pesan. Vanly dan Gustaf pun segera menyantapnya. Setelah selesai makan, mereka pun memutuskan untuk kembali ke hotel.


.

__ADS_1


__ADS_2