Menikahi Sahabat Papa

Menikahi Sahabat Papa
Bab 46 // Diam Tanpa Kata


__ADS_3

Pesawat mendarat dengan selamat di Bandara International Ngurah Rai, yang terletak di Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Ziko turun terlebih dahulu, disusul oleh Gustaf yang menggandeng Vanly menuruni tangga pesawat. Ia menggandeng Vanly dengan sangat erat dan hati-hati, ia takut jika terjadi sesuatu terhadap istri dan anak yang sedang di kandung Vanly.


Terjadi kesunyian diantara mereka berdua. Tidak ada yang berniat memulai pembicaraan. Bahkan biasanya Gustaf yang selalu mencari topik pembicaraan hanya terdiam seribu bahasa. Bahkan ia enggan menatap wajah cantik istrinya itu. Ketika memasuki dalam bandara, Gustaf memilih berjalan dibelakang Vanly.


Vanly pun merasa bingung dengan sikap suaminya. Ia pun sedikit merasa bersalah karena tidak bisa mengontrol tidurnya.


"Bodohnya aku! Kenapa bisa aku tertidur di bahu Mas Ziko? Lalu kenapa dia tidak membangunkanku? Sekarang Mas Gustaf hanya diam kepadaku. Aku tidak tau harus berkata apa kepadanya. Apa jangan-jangan mas Gustaf sedang marah? oh Tuhan! Maaf kan aku mas yang lalai menjaga perasaanmu" gerutu Vanly penuh penyesalan.


Di luar bandara, Sopir dari hotel telah menunggu mereka. Gustaf pun segera memasukkan barang-barang yang di bawa ke dalam bagasi. Mobil pun dilajukan dengan kecepatan sedang. Pemandangan yang mereka lalui sangatlah Indah, namun itu tidak menarik perhatian mereka sama sekali. Hanya keheningan yang tetap memenuhi dalam mobil itu.


Vanly merasa pusing menghantam kepalanya. Ia hendak memakai minyak kayu putih, namun Gustaflah yang menyimpannya. Akhirnya ia putuskan untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.


"Mas, minyak kayu putihnya mana? Aku pusing" Ucap Vanly dengan sedikit meringis ke arah Gustaf.

__ADS_1


Tanpa membalas pertanyaan Vanly, Gustaf pun mengambil sebotol minyak kayu putih yang ada di dalam tasnya untuk istrinya. Ia pun tak bertanya apa yang sedang Vanly rasakan. Ia hanya diam membisu selama perjalanan. Itu membuat hati Vanly merasa tersayat-sayat.


Ziko yang duduk disamping sopir pun sedari tadi memperhatikan pasangan suami istri ini. Ziko sendiri merasa apa yang ia lakukan tadi tidak benar. Ia merasa jika kondisi ini sedang tidak baik-baik saja.


"I made a big mistake!" gerutu Ziko dalam hati.


Setelah satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di hotel Bintang lima yang telah Gustaf pesan beberapa hari yang lalu. Kamar mereka berada di lantai yang sama, namun Ziko memilih untuk menaiki lift yang berbeda.


Setelah menaiki lift, akhirnya Gustaf dan Vanly sampai terlebih dahulu di lantai tiga. Mereka segera bergegas masuk ke kamarnya.


Brakk...


Terdengar suara pintu kamar mandi yang di banting oleh Gustaf. Vanly pun berkaca-kaca melihat kelakuan suaminya. Ia sadar jika saat ini Gustaf benar-benar sedang marah kepadanya. Vanly pun memutuskan untuk berdiri di depan pintu kamar mandi untuk menunggu suaminya.

__ADS_1


Cklekkk..


Setengah jam berlalu, Akhirnya Gustaf keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan celana pendek seatas lutut tanpa mengenakan baju di tubuhnya. Gustaf dikejutkan dengan Vanly yang berdiri didepan pintu entah sejak kapan. Namun Gustaf pun segera berjalan menuju cermin dan menyisir rambut basahnya.


"Mas" Vanly yang merasa diacuhkan pun membuka pembicaraan sembari berjalan mendekati suaminya.


Namun Gustaf pun tak menjawab panggilan dari istrinya. Ia masih tetap fokus menyisir sehelai demi helai rambutnya itu.


"Mas kenapa kamu mengacuhkanku?" Tanya Vanly rapuh.


Gustaf masih tetap tak bergeming. Ia justru berjalan menuju ranjang dan mengotak-atik ponselnya. Vanly yang mulai geram pun berjalan mendekatinya dan mulai berteriak.


"Mas! Apakah kau tidak mendengarku" Suaranya bergema memenuhi ruangan itu.

__ADS_1


Gustaf yang sedari tadi menundukkan kepala sembari mengotak-atik ponselnya pun segera berdiri. Terlihat mata Gustaf berkaca-kaca. Vanly yang melihat keadaan Gustaf seperti itu pun langsung memeluknya.


__ADS_2