Menikahi Sahabat Papa

Menikahi Sahabat Papa
Bab 49 // Kembali


__ADS_3

Matahari mulai tenggelam, namun Gustaf dan Vanly masih belum sama sekali keluar untuk berjalan-jalan menikmati pesona Pulau Dewata Bali. Hari ini Gustaf dan Vanly memutuskan untuk tetap berada di hotel, karena kejadian di pesawat tadi membuat mereka belum sempat berbicara dengan Ziko. Terutama Gustaf yang masih merasa kesal kepadanya.


Cklekk...


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Vanly keluar hanya menggunakan handuk yang dililitkan di daerah dadanya dan satu handuk kecil bergelantungan di atas bahu kirinya. Vanly membuka koper yang belum sama sekali di buka sejak ia mengemasinya. Ia membongkar isi koper tersebut.


Lingerie?


Bukankah aku menolak untuk membawanya? Kenapa bisa ada dikoper ini. Ini pasti ulah Mas gustaf!


Seketika sorot tajam mata Vanly mengarah ke arah Gustaf. Namun Gustaf fokus kepada ponsel yang ia pegang.


"Mas" Sapa Vanly dengan wajah datar.


"Ada apa sa.. " Belum sempat Gustaf melanjutkan kata-katanya, ia terkaget melihat Vanly yang memegang lingerie yang sengaja ia masukkan ke dalam koper kemarin.


"Maafkan aku!" Sahur Gustaf meringis.


"Pokoknya aku ngambek!" Jawab Vanly ketus.


"Sayang, jangan gitu dong.. Kalau kamu tidak mau pakai ya tidak apa-apa. Simpan saja" Sahut Gustaf sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu


Vanly pun hanya tersenyum melihat tingkah suaminya. Vanly segera mengganti bajunya, bukan dengan menggunakan lingerie pemberian Gustaf, namun menggunakan baju tidur berbahan rayon yang ia kenakan.


Setelah itu, Vanly ikut duduk di samping suaminya. Ia berfikir untuk membahas kejadian tadi pagi di dalam pesawat yang melibatkannya dengan sahabat baik suaminya.

__ADS_1


"Mas, bukankah sebaiknya Mas Gustaf berbicara pada Mas Ziko? Kalian hanya salah faham"


Gustaf pun memikirkan perkataan Vanly dengan lama. Sebenarnya ia memaang ingin berbicara pada Ziko, karena ia tidak ingin bertengkar dengan sahabatnya hanya karena masalah sepele. Apalagi perusahaan Gustaf menjalin kerja sama dengan perusahaan Ziko. Namun, ia masih merasa kesal karena sahabatnya berani menyediakan bahu untuk istrinya, bahkan ia berani untuk memandang wajah cantik Vanly yang tertidur.


"Mas.. " Suara itu membangunkan Gustaf dari semua lamunannya.


"Mas harus berbicara pada Mas Ziko!" Ucap Vanly sedikit memohon sembari mengatupkan kedua tangannya.


"Baiklah, aku akan berbicara dengannya" Sahut Gustaf dengan wajah datar.


Gustaf dan Vanly bergegas meninggalkan kamar. Mereka berjalan menuju kamar Ziko. Sesampai di depan pintu kamar Ziko, Gustaf memencet bel berulang kali, namun tetap saja tidak ada jawaban dari dalam kamar. Bahkan kamar itu terkesan tidak berpenghuni.


"Apakah kita salah kamar?" Tanya Gustaf penasaran.


Terlihat seorang room boy berjalan menuju kamar 315. Vanly dan Gustaf pun saling bertatapan.


"Bukankah room boy bertugas membersihkan kamar yang sudah kosong penghuni?" decak Gustaf tak percaya.


Gustaf pun segera berjalan mendekati room boy tersebut. "Mas mau bersihin kamar ini?" Tanya Gustaf basa basi.


"Iya tuan, apakah ada yang bisa di bantu?" tanya room boy itu.


"Bukankah pemilik kamar ini masih tinggal disini, lalu mengapa kau bersihkan?" Tanya Gustaf penasaran.


"Maaf tuan, Penghuni kamar ini sudah check out tadi sore"

__ADS_1


*Flashback


"Aku tidak boleh membiarkan perasaan ini tumbuh begitu saja. Vanly itu istri sahabatku, istri rekan bisnisku. Aku tidak pantas melakukan kejadian seperti tadi pagi. Aku harus segera pergi dari kehidupan rumah tangga Gustaf dan Vanly. Aku tidak ingin persahabatanku hancur, aku tidak ingin perusahaanku bangkrut karena Gustaf mencabut sahamnya. Aku harus segera pergi dari Indonesia" decak Ziko dalam hati.


Hari ini otaknya benar-benar terasa banyak beban. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian di dalam pesawat tadi. Ia pun memutuskan untuk memesan tiket kepulangan ke Australi malam ini juga. Ia melakukan check out dan memesan taxi menuju bandara.


---


Gustaf pun segera mengambil ponselnya di dalam saku celananya. Dilihatnya ada satu pesan singkat dari Ziko. Ia pun segera membukanya.


Ziko


Hai bro! I don't know, aku masih pantaskah memanggilmu sebagai saudara laki-lakiku. But I hope, I can call you bro forever. I'm so sorry because today, i have a big mistake. Jika aku masih bisa di maafkan, tolong maafkan aku. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti hari ini.


Bro, I will tell you, aku akan berangkat ke Australi malam ini. Maaf aku tidak bisa berlama-lama disini. Perusahaanku mebutuhkan ku,


Aku harap kita bisa bertemu suatu hari nanti!


Vanly menyaksikan raut wajah kesedihan di wajah suaminya. Vanly pun segera mengajak Gustaf untuk kembali ke kamar hotel. Vanly menenangkannya dengan lembut. Ia menjelaskan pada Gustaf jika persahabatannya dengan Ziko akan tetap baik-baik saja.


---


jangan lupa like, dan komen hal positif ya..


VOTE juga novel ini agar author semakin bersemangat dalam menulisā¤

__ADS_1


__ADS_2