
Setelah menikmati makan malam di rumah Gustaf, Asisten Jun pun pamit untuk kembali kerumahnya. Walaupun masih beberapa hari lagi ia akan berangkat ke Singapura, namun ia tak ingin kehilangan sedetik pun waktu bersama ayah angkatnya, yaitu Gustaf. Begitupun sebaliknya.
Gustaf dan Vanly menaiki anak tangga dengan perlahan. Tak lupa Gustaf menggandeng tangan istri kecilnya itu. Posesif yang ia lakukan semata-mata hanya untuk menjaga sang istri yang sedang mengandung anaknya.
"Pelan-pelan sayang," Ucap Gustaf dengan lembut.
"Mas selalu berlebihan." Jawab Vanly yang seakan tidak terlalu suka dengan sikap posesif suaminya.
------
Sesampainya di kamar, Gustaf dan Vanly merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Seketika terlintas di otak Gustaf untuk merangkai nama anak yang sedang dikandung istrinya itu. Berhubungan kandungan Vanly yang mulai menginjak usia lima bulan, namun Gustaf dan Vanly sama sekali belum berfikir untuk menyiapkan nama anaknya.
"Sayang," Panggil Gustaf.
"Hemmm.." Sahut Vanly cuek.
"Kita belum menyiapkan nama untuk anak kita!" Ucap Gustaf sembari memiringkan tubuhnya menghadap Vanly.
"Kan Vanly lahirannya masih lama mas." Jawab Vanly.
"Tapi apa gak sebaiknya kita rangkai mulai sekarang sayang?" Bujuk Gustaf sembari menyingkirkan rambut Vanly yang sedikit menutupi wajah cantiknya.
"Mas aja deh yang rangkai!"
"Kan anak kita berdua sayang" Rayu Gustaf lagi.
__ADS_1
"Baiklah." Jawab Vanly pasrah.
Setelah merayu istrinya dengan penuh kata-kata manis, akhirnya Vanly mau mengikuti semua ajakan suaminya. Bahkan ia juga sangat antusias untuk merangkai nama anak yang masih belum lahir itu.
"Jagoan kita harus ada nama Sutopo nya sayang, karena ia adalah penerus keluarga Sutopo." Ucap Gustaf penuh kebanggaan.
"Iya mas, tapi gimana kalau ada gabungan nama kita? itu pasti jauh lebih bagus kan?" Timpal Vanly.
"Benar juga sayang, enaknya digabung jadi apa namanya?" Tanya Gustaf serius.
"Emm, bagaimana kalau Gusvan? singkatan dari Gustaf dan Vanly" Jawab Vanly dengan tersenyum.
"Gusvan? nama yang unik." Sahut Gustaf setuju.
"Kurang panjang sayang, kita harus menambahkan satu nama lagi agar namanya terlihat keren." Sanggah Gustaf.
"Nama apa lagi ya yang cocok?" Tanya Vanly sembari memutar bola matanya bak memikirkan sesuatu yang sangat penting di otaknya.
"Coba Vanly searching di google ya mas?" Sambungnya.
"iya sayang." Jawab Gustaf dengan lembut.
Setelah lama mengotak-atik ponselnya, Vanly pun melontarkan nama-nama yang Indah menurutnya. Gustaf pun mendengarkannya tak kalah bersemangat.
"Abraham, Alexa, Arsenio, Gerald, Zidan, semuanya Bagus mas." Ucap Vanly putus asa.
__ADS_1
"Abraham Gusvan Sutopo, Bagus juga kan Van?" Sahut Gustaf.
"tapi kalu manggil Abraham terlalu panjang mas," Lagi-lagi Vanly tidak setuju dengan pendapat suaminya. Padahal semua nama itu Vanly sendiri yang memilihnya.
"lalu maunya gimana sayang?" Tanya Gustaf mengalah.
"Kalau Arsenio Gusvan Sutopo bagaimana?" Ujar Vanly.
"Arsenio juga kepanjangan sayang." Sanggah Gustaf.
"Kan bisa dipanggil Arsen doang mas, itu gak panjang." Jawab Vanly yang masih kekeh dengan pilihannya.
"Baiklah." Ujar Gustaf menyerah.
"Siapapun nama anak kita, aku akan tetap menyayanginya melebihi aku menyayangi diriku sendiri. Cepat lahir kedunia baby A. Daddy sudah tidak sabar untuk memelukmu" Ucap Gustaf sembari memberi sedikit kecupan di perut buncit Vanly.
"Ya sudah, ayo tidur mas. Vanly ngantuk." Ajak Vanly.
"Ayo sayang"
Setelah itu lampu kamar pun dimatikan. Gustaf dan Vanly mengakhiri malamnya dengan tidur dengan nyenyak.
----
Jangan lupa like, komen, and vote❤
__ADS_1