
Bi Piah tetap mengoleskan minyak kayu putih di leher, telapak tangan dan telapak kaki nonanya berharap agar Vanly segera sadar. Bi Piah pun menarik selimut tebal yang ada di atas ranjang menutupi tubuh nonanya. Terlihat Vanly sangat pucat karena kaget mendengar berita itu.
Tak.. tak.. tak..
Terdengar suara sepatu melangkah ke arah kamar Vanly. bi Piah terkejut melihat siapa yang datang dihadapannya.
"Tuan... " Ucap bi Piah lirih dengan ekspresi tak percaya.
Gustaf pun segera berlari menuju ranjang tempat istrinya berbaring. Gustaf melihat wajah istrinya sangat pucat. Gustaf segera meraih kepala Vanly dan memangkunya.
"Apa yang terjadi pada Vanly bi?" Tanya Gustaf berteriak sembari mengusap pucuk kepala Vanly.
"Tadi nona melihat TV.. " Ucap Bi Piah terbata-bata
"Bicara yang jelas" Teriak Gustaf.
"Tadi nona melihat TV, ada kabar bahwa pesawat dari Sidney Australi ke Indonesia hilang kontak di Kuala lumpur tuan, nona mengira jika tuan menumpangi pesawat tersebut. Nona menangis histeris hingga akhirnya tak sadarkan diri" Ucap bi Piah menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Oh jadi dia sangat mengkhawatirkan ku, dasar istri kecilku" Batin Gustaf sembari mengecup bibir mungil istrinya, kekhawatiran Gustaf kepad Vanly pun menjadi hilang karena mendengar ucapan bi Piah.
"Baiklah bi, biarkan saya yang menjaga nona, bibi antarkan sahabat saya ke kamarnya. Siapkan makan malamnya, nanti saya akan turun ketika nona sudah siuman" Sahut Gustaf dengan menatap wajah Vanly.
Bi Piah pun menganggukkan kepalanya dan segera pergi menuju lantai satu untuk mengantarkan Ziko ke kamarnya.
Didalam kamar Gustaf membaringkan tubuh Vanly dengan pelan, Gustaf terus mengusap pucuk kepala Vanly dan tangan kirinya sibuk menggenggam tangan istrinya itu.
Sekitar 15 menit kemudian Vanly pun sadar, perlahan ia membuka matanya. Ia sangat merasa pusing. Ia melihat ada seseorang yang sedang tersenyum padanya namun wajahnya masih samar.
"Hai sayang, kamu sudah sadar?" Tanya Gustaf dengan mengecup kening istrinya.
Vanly pun mengucek matanya kasar. Penglihatannya mulai jelas, dilihatnya wajah tampan Gustaf sedang tersenyum padanya. Seketika Vanly langsung terduduk dan memeluk Gustaf dengan sangat erat. Gustaf pun membalas pelukan Vanly dengan lembut karena ia takut menyakiti istrinya.
"Mas.. Aku kira pesawatmu.. " Belum selesai ia berbicara, Gustaf melepas pelukannya dan segera mencium bibir istrinya. Itulah yang sangat ia rindukan selama di Australi, yang membuat tidurnya tidak nyenyak. Mereka berciuman sengan sangat dalam melepas semua kerinduan.
Nafas Vanly mulai terengah-engah, Gustaf pun melepaskan ciumannya dengan lembut. Ia kembali memeluk istri kecilnya itu.
__ADS_1
"Yang kamu lihat itu pesawat dari Sidney, bukan Melbourne sayang. Cernalah semua berita dengan baik." Sahut Gustaf memberi pengertian pada Vanly.
"Aku tidak tau, yang aku tau mas hari ini mau pulang dari Australi. Aku ga tau kalo mas akan berangkat dari Melbourne." Jawab Vanly dengan nada seperti anak kecil.
"Iyaa iyaa istriku, tapi dengan kejadian ini aku jadi tau.. Kalo kamu tidak mau kehilangan mas. Iya kan?" Tanya Gustaf dengan tersenyum.
"Istri mana yang mau kehilangan suaminya he? Jangan kan jatuh dari pesawat, suami hilang di ambil pelakor aja ga ada yang mau mas. Mas ih ngeselin" Jawabnya sewot. Gustaf pun terkekeh mendengar ucapan istrinya itu.
"Udah ah, mas cepetan mandi gih.. Baunya asem" Sindir Vanly.
"Sebentar.. Emangnya kamu udah mandi? Dari Baunya sepertinya kamu juga belum mandi deh" jawab Gustaf tak kalah menyindir istrinya itu sembari mendekatkan wajahnya ke tubuh Vanly berusaha menghirup aroma tubuh istrinya.
"Emm.. Tadi udah sore belum" Sahut Vanly sembari menggaruk-garuk kepalanya.
Gustaf pun hanya menggelengkan kepanya, "ya sudah, mas mandi dulu. Habis itu gantian kamu. Jangan lupa persiapkan dirimu untuk nanti malam ya, mas sangat rindu" Goda Gustaf sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Ih otak mesum" jawab Vanly sembari mencubit tangan Gustaf.
__ADS_1
Gustaf pun segera berlari ke kamar mandi sebelum tangannya berubah warna menjadi hitam karena cubitan istrinya itu. Vanly pun tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Gustaf yang seperti anak kecil.
.