
Vanly dan Gustaf menghabiskan waktu di Pantai Pandawa hingga matahari terbenam. Mereka menyaksikan sun rise di pantai itu. Sun risenya tidak kalah Bagus dari pantai Sanur dan Kuta. Setelah matahari benar-benar menenggelamkan wajahnya, Vanly dan Gustaf pun bergegas untuk kembali ke hotel.
---
Sesampainya di hotel, Vanly dan Gustaf memasuki kamar mandi dan membersihkan diri bersama-sama. Mereka memanfaatkan waktu-waktu bersama untuk membangun keharmonisan yang retak beberapa waktu yang lalu. Sekarang kesalahpahaman antara Gustaf, Vanly dan Ziko telah usai. Hubungan mereka telah kembali seperti semula.
Setelah selesai membersihkan diri, Vanly dan Gustaf pun segera keluar dari dalam kamar mandi dan mengganti bajunya dengan yang bersih. Tak lupa Vanly mengoleskan sedikit pelembab diwajahnya dan body lotion di tubuhnya. Sedangkan Gustaf sudah terduduk di atas ranjang memainkan ponselnya.
Ketika Vanly hendak berjalan menuju tempat tidurnya, Vanly terjatuh terpeleset lantai yang basah akibat rambutnya yang basah.
Bruukk..
"Aww.. " Jerit Vanly memenuhi ruangan.
Sontak Gustaf langsung berlari kearah istrinya dengan cepat. Gustaf menggendong Vanly yang jatuh terduduk di lantai. Ia menggendongnya ke atas ranjang dan membaringkannya.
"Are you okay? Ayo kita kerumah sakit" Ucapnya Khawatir sembari memberi Vanly air putih.
Namun Vanly tak kunjung menjawab pertanyaan suaminya itu. Gustaf semakin khawatir dengan keadaan Vanly. Ia pun mengecek lantai tempat Vanly terpeleset. Dilihatnya lantai itu sedikit basah dan licin. Tanpa pikir panjang Gustaf segera menelpon taxi untuk menjemput mereka di hotel.
__ADS_1
"Ayo sayang kita ke rumah sakit sekarang" Ajak Gustaf, tangannya hendak menggendong Vanly, namun Vanly mengehentikannya.
"Tunggu mas, Vanly ke kamar mandi sebentar, mau buang air kecil"
"Sini, biar mas gendong" Sahut Gustaf sembari menggendong istrinya menuju kamar mandi.
Setelah berada didalam kamar mandi, Vanly melihat bercak darah yang keluar dari vag*inanya. Seketika ia pun panik. Ia berharap tidak akan terjadi apa-apa dengan janinnya.
Cklekk..
Terlihat mata Vanly berkaca-kaca.
"Mas, keluar darah"
Darah? Tuhan baru kemarin Engkau mengirimkanku kebahagiaan yang tiada tandingnya. Apakah kau akan mengambilnya secepat ini? Bahkan aku dan istriku belum sempat melihatnya.
"Apakah kau merasa sakit sayang? Apakah banyak darah yang keluar?" Tanya Gustaf panik.
Belum sempat Vanly menjawab, Gustaf segera menggendongnya menuruni lift. Ia berjalan menuju depan hotel dimana taxi yang dipesannya telah menunggu.
__ADS_1
Jarak antara hotel ke rumah sakit lumayan jauh. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk kesana. Namun Gustaf tak ingin kehilangan waktu yang terlalu lama. Ia meminta sopir untuk mengemudikan mobil dengan kekuatan cepat.
"Lebih cepat pak! Istri dan anak saya sedang dalam bahaya!" Ucapnya sedikit terdengar berteriak.
"Baik pak!" Jawab Sopir sembari menganggukkan kepalanya.
Selama di perjalanan, perhatian Gustaf sama sekali tak berhenti untuk Vanly dan Anak yang sedang dalam kandungan istrinya. Tak henti-hentinya ia memeluk Vanly dan mencium keningnya. Berharap tidak terjadi sesuatu pada Vanly dan anaknya.
"Tuhan, kali ini tolong dengar doaku. Aku hanya ingin orang-orang yang aku sayangi sehat dan selamat. Aku janji tidak akan membiarkan mereka terluka sedikitpun. Tolong izinkan aku untuk melihat anakku, hidup bahagia bersama istri dan keluarga kecilku" Decak Gustaf sedikit frustasi karena beberapa hari masalah selalu menghampirinya.
30 menit sopir melajukan mobilnya, akhirnya Gustaf dan Vanly sampai di rumah sakit ibu dan anak. Gustaf segera melakukan registrasi, sedangkan Vanly menunggunya di ruang tunggu.
"Semoga anak yang ku kandung baik-baik saja, aku tidak ingin Mas Gustaf bersedih karena kehilangan anaknya.
Maafkan aku nak, lalai menjagamu" Ucap Vanly penuh penyesalan.
-
hai guys!
__ADS_1
maaf tugas author numpuk:)
besok author janji up lebih banyak