
Di sebuah rumah sederhana yang dihuni keluarga bahagia, terdengar gelak tawa dari dalam rumah karena sang pemilik rumah kedatangan tamu istimewa kategori VIP, katanya.
Nathan dan Zafran, tentu nama yang tak asing bagi kalian yang sudah membaca novel berjudul Berawal Dari MPLS. Dua orang laki-laki yang memiliki banyak julukan dari manusia tak berakhlak yang menjuluki seseorang seenak jidat. Pebinor, bujang lapuk, gay, dan masih banyak lagi.
"Oke teman-teman disini saya sudah bersama para bujang lapuk yang entah kenapa masih betah melajang sampai saat ini, mungkinkah gosip yang tersebar mengenai mereka menyukai sesama jenis itu benar apa adanya? Penasaran ya? Makanya pantengin terus video ini sampai habis. Hahahaha..." seorang ibu dari tiga anak bernama Nindi tertawa melihat raut wajah sahabatnya yang berubah masam.
"Tau gini lebih baik gue nggak kesini," Zafran menggerutu seraya menyesap kopi asin membuat rasa nano-nano menyeruak di tubuhnya. Hal itu lantaran Nindi tak fokus membuatnya karena sambil mengurus anak kembarnya yang berusia satu tahun.
"Nyesel?" Nindi memicingkan matanya, padahal ini adalah pertemuan pertama kali sejak sebulan berpisah. Ya, orang tua Nathan dan Zafran melarang mereka untuk pergi karena justru keluarnya mereka malah membuat telinga panas.
"Bukan nyesel sih ya, lebih pada kecewa. Kira-kira apa ya penyebab gue sampai saat ini susah banget nyari perempuan baik-baik?" celetuk Nathan.
"Perempuan baik-baik gimana maksud lo?" Nindi tampak tak mengerti.
"Bukan member cabe-cabean lah, gue mau nyari perempuan yang kalem, polos, dan lugu kayak di novel-novel," sambil membayangkan sosok gadis yang diimpikannya, sudut bibir laki-laki itu terangkat.
"Ngaca tolong! Lo cari perempuan baik-baik, tapi lo udah merasa baik nggak? Laki-laki pakboy minta gadis alim? Hehh mimpi!" Nindi mencibir Nathan seraya melempar kulit jeruk yang tepat mendarat di wajah Zafran.
__ADS_1
"Lo punya dendam apa sih sama gue Nin?" Zafran berdecak.
"Maaf secukupnya, bukan sebesar-besarnya karena apapun yang berlebihan itu tak baik kecuali uang."
"Bentar, pakboy itu siapa? Rentenir apa tukang nagih cicilan?" Nathan mencoba mengingat-ingat seseorang yang bernama pakboy.
"Tukang semir sepatu! Jan ngadi-ngadi napa, lo kek manusia purba yang hidup di era modern, katarak plus kudet alias kurang apdet,"
"Katrok Nin, udah tua tapi ngomong masih belepotan, kalau enggak bisa bahasa Inggris mending diem aja, malu gue dengernya, iya nggak Za?" Nathan melirik suami Nindi yang sedang membawa pakaian basah untuk dijemur. Pria yang bernama Reza itu hanya mengangguk dan berlalu meninggalkan mereka.
"Rezaaa..!! Nanti malam kamu nggak dapat jatah!" teriak Nindi membuat Reza yang sedang menjemur d*l*man istrinya terlonjak kaget.
"Mungkin lo kena semacam lagu yang viral di toktok itu," Nindi kembali ke topik awal.
"Lagu apaan?" tanya mereka bersamaan.
"Kutukan mantan," sahut Nindi.
__ADS_1
"Eh yang bener aja lo! Tapi....Masuk akal juga ya?" seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Nathan uring-uringan.
"Emang udah berapa anak orang yang lo baperin?"
"Kurang lebih sejak kelas enam SD, ada sembilan puluh delapan cewek," jawab Nathan enteng membuat Nindi kaget bukan main.
"Gila! Sebanyak itu? Tapi lo nggak pernah ngajak mereka bercocok tanam kan?" Nindi menatap Nathan dengan penuh selidik.
"Enak aja lo, gue nggak sebej*t itu ya!" Nathan menjawab ketus.
"Iya kan siapa tau, lo udah kebelet terus sampai tusuk anak orang," Nindi menaik turunkan alisnya.
"Nin, sejak lo punya anak, tingkat kemesuman lo makin nggak bener ya." Zafran menggelengkan kepalanya, dimana dulu Nindi adalah gadis bar-bar tapi sebetulnya dia sangat polos.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Gimana kesan pertamanya? Ayo like dan komen sebanyak-banyaknya, biar aku makin semangat nulisnya🥰
__ADS_1