
"Kebun?"
"Iya, biar kita enggak kalah saing sama pasutri ReNin,"
Pagi-pagi sekali Nathan bersiap untuk pergi ke rumah pemilik perkebunan sayur dan buah-buahan, kebetulan lokasinya dekat dengan kebun yang dikelola oleh Nindi dan juga Reza, kemarin Nathan sudah sempat bernegosiasi tentang harga tanah itu, namun dia mengalami sedikit kendala karena sang pemilik tanah mematok harga yang sangat fantastis.
"Kek, itu harganya kemahalan,"
"Ha? Kebahenolan? Ngomong apa kamu ini? Kita kan lagi transaksi jual beli tanah!" terlihat seorang kakek tua yang tengah duduk dengan secangkir kopi di tangannya, mata rabunnya terus menatap Caca yang terlihat seperti bidadari di matanya.
"Mahal kek mahal!!" teriak Nathan geram harus menghadapi manusia menyebalkan satu ini, jika bukan karena letaknya yang strategis, Nathan tidak akan mau berurusan dengannya.
"Beraninya kamu berteriak sama orang tua! Kamu tau tahta drama hah?"
Baik Nathan maupun Caca berusaha agar tidak tertawa apalagi meralat ucapan kakek itu, karena Nathan sudah tau jika pria tua itu tidak suka disalahkan, apapun yang diucapkan selalu benar.
"Ya sudah saya kasi potongan harga sebesar lima ratus rupiah saja," kakek yang kerap disapa kakek Upil itu berhasil membuat Nathan melongo.
__ADS_1
"Lima ratus rupiah?" Nathan menggeleng samar, rupanya menghadapi kakek ini memerlukan kesabaran extra.
"Kalau begitu, kasi anak kamu biar jadi istri ketiga cucu saya," ujarnya seraya menunjuk Caca yang sedang asyik menikmati teh manis rasa asin.
Lagi-lagi Nathan terkejut, apa wajahnya setua itu hingga tak pantas bersanding dengan Caca?
Nathan mengepalkan tangannya di depan kakek Upil yang genit itu, matanya terus menatap istri kesayangannya bak lampu yang terkena aliran korsleting, kedap kedip tak jelas membuat Nathan ingin mencongkel bola mata yang sudah katarak itu.
"Mereka siapa kek?" seorang pria tampak keluar dari kamar seraya menggendong anak perempuan.
"Sya? Kenalkan dia adalah calon istrimu, dan lelaki tua bangkotan ini adalah ayahnya," ucap sang kakek menjelaskan kepada cucu kesayangannya, Nathan tau dia siapa, lelaki tampan itu adalah sosok yang dulu ia ejek karena menjadi pasangan Nindi saat MPLS.
"Bodoh kalau lo percaya sama kakek lo yang kelewat pinter ini!" Nathan mencebikkan bibirnya, ia memutuskan untuk pulang dengan wajah ditekuk.
_
_
__ADS_1
"Om, aku ikut ke kafe ya?"
"Hmm.." hanya berdehem, Zafran masih kesal dengan kelakuan istrinya yang selalu menyiksanya. Tanpa rasa curiga sedikitpun, padahal Tifani telah berencana untuk membalas dendam pada gadis yang pernah lancang duduk di pangkuan suaminya.
Tifani berteriak girang, entah kenapa dia tak ingin jauh-jauh dari suaminya, seperti jiwa dan raga jika terpisah maka tiada guna.
"Hati-hati Fan!" Zafran terkejut saat Tifani berlari menuju kamarnya.
Tifani hanya cengengesan, setelah itu dia kembali berjalan dengan pelan, "tunggu pembalasanku!"
"Sudah?" Zafran memperhatikan Tifani yang sudah rapi, melirik dari atas sampai bawah, Zafran tersenyum, istri kecilnya terlihat sangat menggemaskan.
"Ayo!" tangannya meraih tangan besar itu, menariknya hingga sampai di tempat motor kesayangan suaminya.
Zafran melajukan motornya dengan kecepatan sedang, tubuhnya menegang saat Tifani memeluknya erat, apalagi tangannya tidak terkondisikan seakan dunia miliknya sendiri. Hembusan nafas Tifani sangat terasa di lehernya, membangkitkan sesuatu di dalam dirinya, apalagi Zafran sudah lama tak mendapat asupan vitamin E dari istrinya, terakhir dia mendapat saat sebelum Tifani pergi.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1
Bagi like, vote, atau hadiahnya buat mereka❤❤
Jangan lupa tambahkan komentar juga.