Menikahi Sepupu Sahabatku

Menikahi Sepupu Sahabatku
Teror


__ADS_3

Hari ini adalah peresmian toko kue milik Nathan dan Caca, acara itu dihadiri oleh beberapa warga yang nampak penasaran dan ingin mencicipi aneka kue tanpa harus merogoh kocek alias gretongan. Hingga tak terasa acara itu memakan waktu satu hari.


"Lo kenapa sih pakai topi dari tadi? Enggak panas?" tangan usil Nathan seakan gatal ingin menyingkirkan topi yang menutupi kepala sahabatnya.


"Ck, apa sih kepo banget!" Zafran mencoba menghindar, pria itu menepis tangan Nathan yang hampir menyentuh topinya.


Sementara Nindi dan Tifani sudah tertawa cekikikan karena sudah tau apa yang terjadi dengan Zafran.


Apapun akan aku lakukan asal kamu mau memaafkanku.


Baiklah, aku mau kepala Om, botak sekarang juga!!


Dan benar saja, kemarin rambut indah Zafran dibabat habis oleh istrinya, tatanan rambut yang awalnya sudah teramat rapi berubah menjadi compang-camping karena Tifani tak melakukan dengan benar.


"Udah selesai kan? Gue pulang dulu," Zafran menarik tangan Tifani kemudian keluar dari rumah sahabatnya, ia tak mau jika nanti kentara kalau kepalanya sudah mulus tanpa sehelai rambut pun.


Bersamaan dengan itu, Nindi juga ikut pamit karena hari sudah menjelang malam, ditambah lagi hujan gerimis serta angin kencang yang membuatnya ingin cepat pulang.


"Aku mandi dulu ya Mas," Caca berlalu meninggalkan Nathan yang masih duduk dengan laptop di pangkuannya.

__ADS_1


Caca menyambar handuk kemudian memasuki kamar mandi, perempuan itu berteriak, melihat bangkai tikus yang tergeletak di lantai kamar mandinya serta tulisan indah yang terpampang di cermin, tubuhnya gemetar, menyadari jika itu adalah darah. Memang belakangan ini, Caca sering diteror baik itu lewat surat maupun barang.


_


_


"Mau apa lagi?"


Tawa Tifani pecah, seakan tak ada bosannya menertawakan suami tuanya yang terlihat menggemaskan, "Aku mau liat Om pakai ini aja."


Jari jemari Tifani menjinjing sebuah benda yang membuat wajah Zafran bersemu merah, dilihatnya celana d*lam berwarna pink bunga-bunga, entah dari mana Tifani mendapatkan itu, namun sesaat dia teringat dari mana lagi kalau bukan dari butik kakaknya.


"Sa-sayang itu kapak mainan kan?" Zafran berjalan mundur hingga tubuhnya menempel di dinding, dengan seringai di wajahnya, Tifani mengangkat kapak itu tinggi-tinggi.


"Apa perlu kita coba?"


"Tidak!"


"Oh ayo lah suamiku, kau mau menurut atau aku penggal kepalamu?"

__ADS_1


Menelan ludah dengan susah payah, dengan berat hati pria itu mengiyakan permintaan istrinya yang tengah mengidam, diambilnya benda itu, langkahnya tertahan saat mulut lemes cap lambe turah itu kembali berucap, "gantinya disini aja, jangan di kamar, biar sekalian aku liat,"


Melebarkan matanya mendengar ucapan istrinya, lagi-lagi dia hanya bisa mengangguk dan tersenyum meski di dalam hati dia mengumpat kesal, hukuman yang diberikan Tifani memang tak main-main, gadis itu membalas Zafran dengan cara yang tak biasa.


Mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu di depan sang istri, membuang rasa malunya demi kenyamanan serta kebahagiaan Tifani, mata Tifani berbinar-binar, melihat pemandangan indah yang sayang jika dilewatkan.


Namun seketika dia memejamkan matanya saat Zafran mengganti sarung pedang pusakannya, "Om, apa sebaiknya aku juga membotaki bulu tangan dan kawan-kawan?"


"Apa?"


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Akohh capek banget, hari satu chapter aja ya🥺❤❤


Jangan lupa


Like


Komen

__ADS_1


__ADS_2