
Tak terasa hari berlalu begitu cepat, Nathan telah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya, apalagi sebentar lagi akan hadir malaikat kecil di antara mereka. Setelah diperbolehkan oleh dokter, Nathan sangat rajin mengajak istrinya bercocok tanam, dan kini benih yang dia tanam sudah tumbuh di rahim istrinya.
"Mas!!" teriak Caca dari dalam kamarnya, Nathan yang sudah kelelahan pun tidak menyahuti panggilan istrinya.
"Mas kamu jangan pura-pura congek, nanti budek beneran tahu rasa kamu!" lagi-lagi wanita itu berteriak memanggil Nathan yang belum muncul batang hidungnya. "Kalau enggak muncul dalam hitungan tiga, nanti malam sampai satu bulan kedepan nggak ada yang namanya jatah, cocok tanam, atau asupan!"
"Astaga Caca...." Nathan yang berada di dapur pun mengusap wajahnya kasar, berlari menuju kamar dengan tergesa-gesa, pria itu benar-benar letih. Entah sudah berapa kali dia keluar masuk kamar akibat perbuatan usil Caca.
"Ada apa hmm?" tersenyum semanis mungkin, meskipun di dalam hati ingin menerkam istrinya yang tersenyum menyebalkan seraya menunjuk gelas yang terletak di nakas.
"Ambilin.." pintanya manja.
"Caca sayang.. Itu letaknya kan udah di samping kamu, kamu itu tinggal ambil sendiri bisa kan? Aku capek harus bolak-balik kayak orang menceret," ucap Nathan hati-hati agar tidak memancing amarah Caca yang kini menjadi berkali-kali lipat sejak kehamilannya.
Menelan salivanya kasar, Nathan dibuat berkeringat dingin saat Caca menatapnya tajam, "ambilin atau--"
"Iya sayang iya," Nathan menyerah, dia mengambil gelas itu dan memberikannya pads Caca.
"Papa..." seorang gadis kecil tampak memasuki kamar mereka.
__ADS_1
"Mama nggak dipeluk?" Caca melipat tangannya, merasa iri karena Lisa hanya memeluk Nathan.
"Peluk dong, kan aku sayang mama papa. Oh iya, aku kesini ngajak kak Zahra juga," celotehnya seraya mendaratkan ciuman di pipi Caca.
_
_
_
"Om, jangan pergi!" dengan tubuh yang masih terbungkus handuk, Tifani menghampiri suaminya yang sudah rapi.
Melihat hal itu, Tifani tersenyum menyeringai, didekatinya suaminya itu, sontak Zafran mundur hingga mentok di dinding. "K-kamu mau ahhhh," satu desahan lolos saat tangan nakal Tifani menari-nari di area pedang pusakanya.
Memejamkan matanya sambil meracau tidak jelas, Tifani benar-benar membuatnya gila, tubuhnya tidak bisa menolak, bahkan meminta lebih, namun seketika dia membuka matanya saat Tifani menghentikan aksinya.
"Udah, pergi sana! Adik kecil jangan nakal-nakal ya," ujarnya seraya meremas benda itu, Tifani berlalu meninggalkan Zafran yang sudah tegang.
***
__ADS_1
"Hamil?" Reza memiringkan kepalanya, antara terkejut dan bahagia, padahal mereka tidak sedang melakukan program hamil.
"Kenapa? Nggak seneng? Mau nuduh kalau ini bukan anak kamu?" sarkas Nindi.
"Bukan gitu, cuma--" Reza tak mampu berkata-kata lagi, mengurus si kembar saja sudah kewalahan, dan kini akan kembali hadir cetakan mereka jilid tiga.
"Cuma apa? Kamu sih waktu itu nggak pake pengaman, terus ngeluarin di dalem lagi!" ucap Nindi blak-blakkan.
"Kan khilaf," Reza cengengesan seraya menggaruk rambutnya.
"Khilaf berkali-kali?" Nindi memutar bola matanya malas.
"Apanya yang keluar di dalam?"
Reza dan Nindi bersitatap kemudian melihat ke arah pintu, tampak seorang remaja tengah berdiri seraya menenteng kresek.
"Radit!"
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1
END