Menikahi Sepupu Sahabatku

Menikahi Sepupu Sahabatku
Mual


__ADS_3

Setiap orang tentu memiliki kemampuan yang berbeda, berusaha tersenyum meskipun hati kacau balau, bak pemain film profesional. Pasangan suami istri yang tengah berseteru itu bisa bersandiwara di depan keluarga maupun sahabatnya. Hingga kini, semua kembali seperti semula, Zafran kembali bersikap acuh pada Tifani. Sementara Tifani kembali larut dalam kesedihan, mengusap perutnya yang sedari tadi mengeluarkan suara, gadis itu terisak.


Namun suaminya seakan tuli, pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan tentang siapa yang melakukan itu pada istrinya. Tifani memilih untuk merebahkan tubuhnya di ranjang, meninggalkan sang suami yang terduduk diam seperti patung.


Zafran melirik istrinya, nafasnya mulai teratur, mengusap sisa-sisa air mata di pipi Tifani. Ia beranjak kemudian pergi ke dapur, pria itu membuatkan bubur karena tak tega melihat Tifani yang tidur dengan perut kelaparan. Memang seharian ini, Zafran tidak begitu memperhatikan istrinya yang tengah hamil muda.


"Fan.." Zafran menyentuh lengan Tifani.


"Emmhh," gadis itu membuka matanya karena merasa terusik.


"Om.." Tifani tersenyum, namun matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam.


"Makan," menyodorkan semangkuk bubur pada Tifani, tanpa berniat untuk menyuapinya, Zafran langsung berbaring membelakangi Tifani.


Tifani tersenyum simpul, antara harus senang atau sedih, meski sebetulnya ia tak berselera, namun ia sadar jika ada janin yang juga perlu nutrisi yang cukup, sesuap demi sesuap, Tifani menaruh buburnya yang masih tersisa setengah kemudian menyusul suaminya yang telah terbang ke alam mimpi.


_

__ADS_1


_


_


"Om, jangan pergi hiks,"


"Jangan tinggalin aku, ini anak kamu Om,"


"Jangan..!!"


"Hei..Fan, kamu kenapa?" Zafran terus menepuk pipi Tifani.


"Om.." sontak Tifani langsung bangun dengan nafas yang masih tersengal-sengal, ia merengkuh tubuh kekar itu, menenggelamkan wajahnya di tubuh sang suami.


Tak ada reaksi apapun dari Zafran, dia tak menolak tapi tidak juga membalas pelukan Tifani. Namun seketika dahinya mengkerut saat merasakan bajunya basah, punggung Tifani pun bergetar, gadis itu menangis, ia tidak terima dengan takdir yang begitu kejam, mulai lelah dengan cobaan yang datang tiada hentinya.


Dalam sekejap, gadis itu turun dari tempat tidur dengan tergesa-gesa menuju kamar mandi. Tiba-tiba dia merasa mual, entah karena tubuh suaminya yang memabukkan atau karena hormon kehamilannya.

__ADS_1


"Kamu enggak papa kan?" entah apa yang ada di pikiran pria itu, sudah jelas-jelas wajah istrinya pucat tapi dia masih bertanya tidak apa-apa.


"Om, aku mau rujak," Tifani menautkan jari jemarinya, menatap memelas pada sang suami.


"Hah?" Zafran tak habis pikir dengan permintaan ngidam istrinya.


"Besok aja, sekarang tidur!" Zafran membopong tubuh Tifani dan membaringkannya di tempat tidur.


"Tapi aku mau se.." mata gadis itu berubah sendu, wajahnya menunduk takut ketika Zafran menatapnya horor.


Tifani menarik selimut hingga menutupi wajahnya, lagi-lagi dia menangis, dia benci situasi seperti ini. Kenapa semua berubah begitu cepat? Kini gadis bar-bar itu menjadi cengeng, Tifani mengusap perutnya yang masih datar.


Sementara Zafran, dia hanya diam termenung, mencoba mencari petunjuk agar masalah ini tidak sampai merembet kemana-mana. Hatinya menyangkal bahwa itu bukan anaknya, tetapi dia tidak ingat kapan pernah menyentuh istrinya. Hal itu menjadi dilema tersendiri di rumah tangganya, sebuah kesalahpahaman yang sebenarnya bisa diatasi dengan kejujuran, namun sampai saat ini Tifani belum mengucap sepatah kata pun mengenai peristiwa itu.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Kalau mau hujat Babang Zafran, monggo dipersilahkan🤣

__ADS_1


__ADS_2