
Mendorong dada bidang Nathan, Caca melepaskan tautannya dan menarik nafas dalam-dalam. Memegang tangan nakal suaminya yang sudah berkeliaran kemana-mana, wanita itu menggeleng. Dokter belum mengizinkan mereka untuk melakukan hubungan intim lantaran Caca baru saja mengalami keguguran.
"Hah!" pria itu membuang nafas dengan kasar, matanya sayu terbakar nafsu, namun dia tidak ingin egois, dengan cepat Nathan beranjak lalu menyambar air dingin dari dalam kulkas dan meneguknya hingga tandas.
"Apa ini sakit?" tanya Caca seraya mengobati luka Nathan.
"Tidak, lebih sakit saat kamu mengabaikan aku," Nathan mencolek dagu Caca membuat gadis itu mendengus.
"Ada apa hmm?" memperhatikan istrinya yang tiba-tiba murung, Nathan mendekap tubuh mungil itu.
"Jika Lisa memang anak kamu, apa kamu akan menikahi Amanda?" Caca menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
Diam, Nathan tak mampu berkata-kata. Hatinya menolak untuk berbagi, suami mana yang tega mendua jika dia sudah memiliki wanita yang amat sangat dicintainya. Bahkan melihat pujaan hatinya menangis saja sudah membuat hatinya menjerit.
"Aku tidak mau dimadu," menusuk-nusuk dada suaminya menggunakan jari telunjuknya, Caca merengek dengan wajah yang dibuat seimut mungkin.
"Aku juga tidak mau menikah lagi," ucap Nathan seraya menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Caca.
"Lantas?"
"Kita mati saja,"
__ADS_1
"Apa?"
_
_
_
"Ah... Om," mendesah keenakan seraya memejamkan matanya, Tifani terus meracau sambil memanggil nama suami tercintanya.
"Lebih kenceng lagi Om!" protes Tifani karena merasakan tempo Zafran semakin pelan.
"Baru beberapa menit udah capek!" Tifani mencebikkan bibirnya dan menaikkan kaus longgarnya.
Zafran bernafas lega, merutuki kesialan yang terus menghampirinya. Sudah terbang melayang memikirkan akan mendapat asupan, namun ternyata malah menjadi tukang pijit selama beberapa jam, belum lagi setelahnya harus menggaruk punggung sang istri yang katanya terasa gatal.
"Fan.." melompat dan duduk di sebelah Tifani, Zafran memberi tatapan memelas.
"Apa?" melirik sang suami yang terlihat menginginkan sesuatu.
"Mau itu boleh?" tanya Zafran hati-hati, tangannya meraih bantal untuk antisipasi jika nanti istrinya mengamuk.
__ADS_1
"Itu apa?" memasang wajah bego, Zafran benar-benar dibuat frustasi dengan tingkah Tifani.
"Main celap celup,"
"Minum teh sambil celupin biskuit maksudnya?"
Menepuk jidatnya lalu jungkir balik, aksi pria itu berhasil membuat Tifani tertawa. "Mau ngajak berkembang biak kan maksudnya?" pertanyaan yang keluar dari bibir Tifani berhasil membuat Zafran menghentikan aksinya berguling ke kiri dan ke kanan.
Mengangguk cepat dengan wajah berbinar, menelan ludahnya kasar saat tiba-tiba Tifani membuka kausnya, sebagai pria normal, jelas saja langsung membangkitkan sesuatu di bawah sana, meskipun ukuran dada Tifani tidak terlalu besar karena umurnya yang masih belia, namun tidak masalah bagi Zafran, justru hal itu masuk kategori ideal baginya.
"Ayo lakukan!" Tifani membuyarkan lamunan Zafran, namun nahas, baru saja Zafran akan mendekat, sebuah suara cempreng terdengar menggema dari luar rumahnya.
"Kak Nindi!" Tifani meraih kausnya dan mengenakannya lagi, wanita itu meninggalkan Zafran yang masih terpaku.
"Sialan tuh nenek kuyang, sabar bro, sekarang pakai tangan kiri aja..." tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai. Tangannya mengusap pedang pusakanya yang sudah tegak, ia beranjak dan menyambar handuk dengan serampangan, tanpa sadar jika itu adalah handuk pink milik Tifani dengan sebuah bra yang tersangkut di handuk tersebut.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Bersambung
Astaga.. Astaga, tadi nulis apaan yakk? Auahh gelap🏃♀️
__ADS_1