
Membuntuti kemanapun gadis itu pergi, Nathan benar-benar seperti orang tak waras. Entah apa yang ada di pikiran perjaka ting-ting itu, namun rasanya setelah mendapat penolakan dari Caca, membuat dirinya semakin gencar untuk mendekatinya.
"Gue bener-bener udah gila!" mulai merasa tak habis pikir dengan dirinya yang sampai mengikuti Caca bahkan ke toilet wanita sekalipun.
"Eh tapi..Serius itu neng lampir nangis?" mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya, berharap yang dia lihat hanya sebuah halusinasi. Namun ternyata memang benar jika Caca tengah menangis seraya berbicara dengan seseorang lewat telepon.
"Ibuu..." lirih Caca, tubuhnya ambruk seketika, dalam sehari entah sudah berapa kabar buruk yang ia dapat.
"Hei, kau kenapa?" Nathan berjongkok di depan gadis yang tengah menangis tersedu-sedu.
"Om, tolong aku!" Caca menarik tangan Nathan, ia menatap laki-laki itu dengan wajah berderai air mata.
"Tolong apa? Sebelumnya bisakah kau berhenti memanggilku Om?" merasa risih karena sebenarnya umur mereka hanya terpaut enam tahun.
"Antar aku menemui ibuku," ucap Caca dengan tatapan memelas, ia terpaksa meminta tolong pada bos menyebalkannya itu.
"Baiklah," seraya mengangguk menyetujui, meski sebetulnya dia masih bingung.
Beberapa menit yang lalu, Caca mendapat kabar duka dari adiknya, salah satu penyemangat hidupnya telah tiada. Meninggalkan dirinya bersama sang adik, beberapa kali ia berharap semoga ini hanyalah mimpi. Jiwanya terasa ling-lung, bingung sekaligus putus asa untuk menghadapi hari-hari berikutnya.
Sepanjang perjalanan, Caca terus menangis, bersamaan dengan hujan lebat mengguyur tubuh mereka. Nathan merasa khawatir, ia tau jika gadis yang duduk di belakangnya sedang menangis, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan dia masih belum tau penyebab gadis bar-bar itu sampai menangis.
__ADS_1
Jika Nathan sedang dilanda kebingungan, berbeda dengan laki-laki tak berdosa yang kini tengah dihakimi warga. Menatap mereka satu persatu, kumpulan manusia dengan tatapan tajam seakan ingin membakarnya hidup-hidup. Entah kesalahan apa yang ia perbuat di masa lalu hingga kini mendapat kesialan yang bertubi-tubi.
"Apa yang habis kalian lakukan?" tanya pak Kades dengan tatapan penuh selidik.
"Kami hanya bersembunyi dari kejaran orang jahat," menjawab jujur dan penuh keyakinan, Zafran sungguh dibuat mati kutu oleh keadaan.
"Orang jahat apanya? Jelas-jelas tidak ada yang mengejar kalian," celetuk salah satu warga.
"Sudahlah kamu tidak bisa mengelak lagi, kamu pasti habis memperk*sa gadis sampai pingsan bukan? Kasihan sekali gadis itu, masa depannya sudah hancur, padahal dia masih SMA," warga lainnya ikut menimpali seraya geleng-geleng kepala.
Zafran merasa kalah telak, ia tak mampu berkata-kata lagi, keadaan Tifani saat ini malah memperkeruh suasana. Berulang kali ia mencoba menghubungi kedua sahabatnya namun tak bisa, kini satu-satunya harapan ialah Tifani sendiri.
"Tifani anakku..!!" teriakan nyaring menggema di area itu, ia adalah bu Nur yang merupakan ibu dari Tifani.
Sebuah fakta kini terkuak, dimana ternyata Tifani adalah adik dari sahabatnya, bocah ingusan yang dulu sering mengganggunya saat ia dan Nathan belajar di rumah Nindi. Kini bocah itu telah tumbuh menjadi gadis manis namun menyebalkan, Zafran memang sudah lama tidak bertemu dengan adik sahabatnya itu.
"Tapi tante, saya ti---," belum sempat Zafran menyelesaikan ucapannya, namun ibu Tifani kembali berbicara.
"Tidak apa? Tidak sengaja? Jika kamu ingin begituan, kenapa kamu malah mengajak anak saya? Bagaimana nasib Tifani kedepannya? Berani-beraninya kau menanam bibit kecebong di rahim anak saya!!" geram wanita paruh baya itu, saat ingin kembali berucap, tiba-tiba ponsel tulalitnya berbunyi.
"APA!" lagi-lagi wanita itu berteriak membuat semua orang yang tengah menatapnya mengelus dada.
__ADS_1
"Pak Kades, saya permisi dulu. Nanti kakaknya Tifani akan ke sini, saya ada urusan mendesak," bu Nur pamit undur diri, ia nampak keluar dari rumah kosong itu dengan langkah terburu-buru.
"Eunghhh," terdengar lenguhan dari seorang gadis yang masih terbaring dengan kepala di pangkuan Zafran.
"Akhirnya kamu sadar juga," Zafran bernafas lega, berharap Tifani bisa menyelesaikan kesalahpahaman ini.
"Nak, apa yang kamu rasakan? Ceritakan pada kami, apa benar laki-laki ini telah merusak dirimu?" ujar pak Kades.
Tifani masih belum mengerti, kenapa bisa ada warga di tempatnya, pikirnya.
"Katakan kalau kita tidak berbuat yang aneh-aneh," Zafran berbisik karena mengerti jika gadis itu tengah kebingungan.
"Iya pak, laki-laki ini memaksa saya untuk melakukan hubungan intim hiks..hiks."
Jdeeerrr
Bak tersambar geledek di siang bolong, Zafran membulatkan matanya mendengar jawaban Tifani yang berbanding terbalik dengan keadaan. Rasanya ingin pindah ke planet lain saat ini juga, bagaimana bisa Tifani malah membalikkan fakta yang ada. Sementara Tifani tersenyum menyeringai tatkala melihat wajah rupawan Zafran sudah pucat pasi.
Enak nggak enak, enakin aja mas.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1
Maaf banget baru update😭 Othor lagi sibuk banget soalnya, dan seperti biasa chapter selanjutnya aku update saat like mencapai LEBIH DARI 15, tolong lontong banget ya, jan bilang aku pelit. Jujur untuk nulis satu chapter itu perlu waktu yang berjam-jam, jadi aku mau tulisan aku dihargai meski cuma berupa like dan komentar🥰