Menikahi Sepupu Sahabatku

Menikahi Sepupu Sahabatku
Kembali Pulang


__ADS_3

"Siapa?"


"Pak Zafran,"


"Hah!"


Memakai pakaiannya tanpa mencuci muka terlebih dahulu, mulut lemes Nathan menggerutu seraya menemui sahabatnya yang telah mengganggu mimpi indahnya.


"Ada apa?" dilihatnya Zafran yang seperti manusia tak bernyawa, tubuhnya semakin kurus, raut wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam, kantung mata serta lingkaran hitam menandakan betapa letihnya jiwa yang telah kehilangan itu.


"Nat, bantuin gue," mata Zafran berkaca-kaca, tak kuasa menahan beban hidupnya.


Nathan menghela nafas, ditariknya tubuh kekar itu agar menyender di bahunya, "Gue enggak bisa apa-apa, gue juga nggak tau dimana keberadaan Tifani."


Bukannya menyender, Zafran justru membenamkan wajahnya di dada bidang Nathan, sontak hal itu membuat Caca yang membawa nampan berisi minuman menganga lebar, bersamaan dengan Nathan yang termangu ketika merasakan bajunya basah.


"Lo baik-baik aja kan?" Nathan menepuk punggung Zafran, baru kali ini dia melihat sisi rapuh Zafran, dia tak menolak saat Zafran memeluknya, malah Nathan membalas pelukan itu seraya mengusap-ngusap punggungnya.


Nathan tau betul bagaimana Zafran, sudah hidup mandiri sejak kecil karena orang tuanya seakan tidak peduli dengannya, dibalik sifatnya yang ramah dan periang, pria itu jarang mendapat kasih sayang apalagi perhatian dari mereka.


"Apa semua udah terlambat?" Zafran mendongak, menatap sahabatnya yang masih muka bantal.

__ADS_1


Nathan hanya menggeleng, tidak tau harus berucap apa lagi, dia memang tidak tau menau soal lokasi Tifani saat ini, namun dia tidak tega melihat Zafran seperti ini, hanya Nindi, hanya wanita itu yang tau keberadaan istri Zafran.


"Nggak ada kata terlambat untuk berjuang, meskipun gagal, coba lagi dan jangan menyerah!"


Tidak ada sahutan dari Zafran, hanya terdengar hembusan nafas yang mulai teratur, Caca yang masih setia memperhatikan drama bertajuk uwu-uwu in the morning itu memiringkan kepalanya, melihat atasannya yang tertidur lelap di pelukan sang suami.


Jangan cemburu Ca, engga mungkin kan kalau pak Zafran jadi pelakor, emang sih kalau sekarang pak Zafran kayak lelaki kurang belaian.


_


_


_


Hatinya terenyuh, Nindi melirik Tifani yang menunduk sedih, mereka kini sedang berada di klinik dokter kandungan untuk memeriksakan kehamilan Tifani, apalagi belakangan ini pola makannya tidak terjaga. Nindi paham jika disaat-saat seperti ini, suami berperan penting dalam memenuhi kebutuhan istrinya.


"Apa kamu yakin?"


Tifani mengangguk, sudut matanya berair melihat para ibu hamil lainnya yang ditemani suami mereka masing-masing.


"Oke, setelah ini kamu kembali ke rumah Zafran,"

__ADS_1


"Kak, habis ini beli gunting sama cukuran rambut ya?"


"Buat apa? Mau buka usaha barbershop?"


"Mau botakin kepala Om Zafran,"


"Uhukk," Nindi yang tengah meminum air langsung tersedak mendengar ucapan adiknya.


"Ngidam?" tanya Nindi seraya memikirkan jika sahabatnya yang selalu tampil keren, namun sebentar lagi akan botak karena ulah istrinya.


Tifani hanya tersenyum, hingga beberapa saat kemudian namanya terpanggil, Tifani bernafas lega ketika dokter mengatakan jika kandungannya baik-baik saja.


"Fan..." lirih Zafran melihat Tifani memasuki rumah, namun Zafran menganggap jika itu hanya sebuah halusinasi. Memang belakangan ini dia sering bermimpi bertemu dengan Tifani.


Tubuhnya mendadak kaku, saat seonggok tubuh mungil itu menubruk dadanya. Zafran masih belum percaya jika semua ini nyata, bukan sekedar fatamorgana. Ia menangkup pipi Tifani yang semakin chubby, senyumnya mengembang menyadari jika ini memang benar adanya.


"Ketika diriku yang tak dianggap keberadaannya," celetuk Nindi yang tengah berdiri di ambang pintu seraya bersidekap.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Jangan lupa

__ADS_1


Like


Komen


__ADS_2