Menikahi Sepupu Sahabatku

Menikahi Sepupu Sahabatku
Sakit


__ADS_3

Alih-alih akan mendapat perhatian khusus saat sakit, namun justru mendapat ceramah dari sang ibu. Hal itu dialami oleh seorang laki-laki yang tengah terbaring di tempat tidur, tak ada angin tak ada hujan, Nathan mendadak demam di pagi hari.


"Makanya buruan cari pasangan, setidaknya saat kamu sakit ada yang merawat!" bu Leli mengomeli putranya.


Nathan tak menjawab, ucapan ibunya memang dirasa mutlak, tanpa bisa diganggu gugat, mau membantah pun percuma.


"Ini makan dulu habis itu minum obat, nggak ada alasan nggak mau minum obat karena pahit, asal kamu tau kalau semua yang manis itu menyakitkan!" menyodorkan semangkuk bubur pada sang anak, meski sebetulnya dia merasa kesal pada putranya, tapi namanya seorang ibu pasti juga khawatir jika anaknya sedang tidak baik-baik saja.


Nathan pun mengambil posisi duduk dan bersender di sandaran ranjang. Hambar dan pahit, hanya itu yang dirasakan oleh lidahnya ketika memakan bubur beras yang hanya diisi garam.


"Udah kenyang buk," Nathan menyudahi makannya, menyisakan bubur yang masih tinggal setengah. Laki-laki itu pun meminum obat meski terasa sangat pahit, persis seperti kehidupannya saat ini.


"Aaawwhhh panas buk, itu pakai air apa sih?" keluh Nathan karena merasa kalau jidatnya ditempeli besi panas.


"Air mendidih! Manja banget sih, ini cuma air hangat, kamu diam atau ibu tempel lakban di mulut lemes kamu itu!" ancam bu Leli karena merasa gemas dengan anaknya yang tak mau diam.


Beralih ke laki-laki yang sedang menikmati sepiring nasi dengan lauk telur ceplok rada gosong lantaran laki-laki itu lupa mengecilkan apinya.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup, ia bersiap-siap untuk pergi ke kafe yang dirintis olehnya beserta kedua sahabatnya sekitar enam tahun yang lalu. Kini kafe tersebut sudah berkembang dan membuka cabang dimana-mana.


"Udah lama Nin?" Zafran melihat sahabatnya yang sedang berkutat dengan laptopnya seraya memangku putranya yang kerap disapa Vano.


"Lumayan, tumben Nathan nggak kesini? Oh iya, tadi ada pegawai baru, namanya Jessica, sepupu gue," wanita itu menatap sekilas ke arah sahabatnya dan beralih menatap Vano yang tampak mengantuk.


"Gue juga nggak tau, hai baby Vano. Ngantuk ya? Sini sama om Zafran aja," laki-laki itu meraup tubuh mungil Vano, bayi berusia satu tahun itu pun menurut, berbeda dengan kembarannya yang pemilih.


"Wajahnya kenapa? Tangan, pahanya juga. Lo pelihara kucing?" seraya menggendong Vano agar tertidur, Zafran melihat banyak luka bekas cakaran di bagian tubuh Vano.


"Ya ampun, terus sekarang Sheila sama siapa?"


"Ikut Reza ke bengkel," Nindi menjawab sekenanya.


"Nggak kebayang kalau Sheila remaja, sebelas dua belas sama lo kayaknya!" berlalu menuju kamar khusus yang memang tersedia di kafe tersebut, Zafran membaringkan tubuh Vano dengan hati-hati.


"Lo kayaknya digemari anak-anak ya? Mulai dari Zahra sampai Vano, bahkan Sheila juga lengket sama lo," Nindi menyandarkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


"Gue bukan Nathan yang ganteng-ganteng tapi ditakuti bocah,"


Mereka berdua tertawa mengingat sampai saat ini Nathan sangat sulit mengambil perhatian anak-anak Nindi. Terutama si kecil Sheila, alih-alih bisa memangku tubuhnya, belum apa-apa bayi menggemaskan itu sudah mengeluarkan taringnya.


"Kak Nindi, ini kopinya, ehh ada cowo ganteng, fix dia calon suami aku!" teriak seorang gadis yang tak lain adalah Caca.


"Berisik!" sembari melempar majalah ke arah Caca, Nindi menghunuskan tatapan tajam pada gadis berusia dua puluh dua tahun itu.


"Ini sepupu lo?" Zafran mengerutkan dahinya.


Nindi menanggapinya dengan anggukan, ia menyesap kopi yang dibawa oleh Caca.


"Lumayan sih, cuma kurang tinggi dan kalem aja," celetuk Zafran.


▪︎▪︎▪︎▪︎


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2