
Masih di situasi yang sama, Nathan memasuki kafe dengan wajah berseri-seri membuat para kaum hawa terkesima dengan karismanya yang memabukkan. Melepas kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, Nathan mengedarkan pandangannya mencari seseorang. Caca, gadis yang telah membuatnya tergila-gila, namun kini gadis itu belum menampakkan dirinya.
"Kamu lihat Caca enggak?" tanya Nathan pada pegawai yang dekat dengan Caca.
"Enggak Pak, sepertinya hari ini Caca tidak datang," gadis berkacamata tebal itu menjawab dengan sedikit malu-malu.
"Oh, ya sudah, kembali bekerja!" Nathan tersenyum manis kemudian berlalu meninggalkan gadis itu yang masih terbengong.
"Heyoo Nathan yang gantengnya kebangetan da..Lah kok kosong? Pada kemana nih?" laki-laki itu mendapati ruangannya kosong.
"Sorry gue telat," Nindi memasuki ruangan dengan sedikit kesusahan karena menggendong Sheila dan juga Vano.
"Aduh duhh..Emak plus enam dua, ribet amat sih," laki-laki itu tertawa membuat Nindi mendelik.
"Hahahaha mamam tuhh!!" kini giliran Nindi yang tertawa melihat putri bungsunya menjambak rambut sahabatnya saat Nathan mengambil Sheila.
"Kalau masuk ketuk pintu atau salam dulu bisa kan?" celetuk Nathan ketika melihat Zafran yang datang dengan wajah lesu.
"Ada apa bro? Habis nikah kok gitu? Kebanyakan main apa enggak dikasi jatah?" Nindi tertawa geli, apalagi saat Zafran melayangkan tatapan tajam padanya.
"Banyak omong! Mau ngapain lo nyuruh kita kesini?" tanya Zafran.
"Caca mau nikah sama gue," jawab Nathan dengan bangganya.
"Terus?" Nindi dan Zafran memasang ekspresi biasa saja membuat Nathan mendengus.
__ADS_1
"Ya terus sebentar lagi gue nikah,"
"Oooh, gitu doang?" ucap Nindi dan Zafran bersamaan.
"Dosa apa sih yang gue punya di masa lalu hingga punya sahabat laknat kayak gini?" Nathan geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang menyebalkan.
"Akhhh!!" teriak Nathan ketika kaki mungil Sheila dengan sengaja menginjak pedang pusakanya.
Seketika Nindi dan Zafran tertawa cekikikan melihat penderitaan sahabatnya, bahkan si kecil Sheila pun ikut tertawa dan terus melompat-lompat di pangkuan Nathan, sementara Vano asik berceloteh seraya bertepuk tangan.
_
_
_
"Fan.." suasana rumah yang biasanya ramai akan ulah istrinya, namun kini mendadak sunyi, Zafran memasuki kamarnya saat tidak melihat keberadaan istrinya di luar rumah. Mencari seseorang di rumah kecil itu tidaklah sulit, apalagi desain rumah Zafran sangat sederhana.
"Astaga Fani..!!" pria itu terkejut ketika melihat istrinya tergeletak di lantai dengan obat berjenis pil yang berceceran dimana-mana.
Zafran mengangkat tubuh mungil itu, lebih terkejut lagi ketika merasakan suhu tubuh Tifani yang panas. Wajahnya pucat, bibir tipis berwarna merah menggoda itu berubah menjadi warna putih, pria itu kalang kabut, takut jika istrinya berbuat nekat.
"Fann bangun.." Zafran menepuk pelan pipi Tifani, merasa tak mendapat respon, Ia pergi untuk mengambil air hangat dan kain.
Dengan telaten pria itu mengompres istri kecilnya, membalurkan minyak tel*n di sekitar hidung dan kakinya, matanya tertuju pada leher Tifani yang terdapat beberapa bekas ******. Saat sedang asyik memperhatikan bekas itu, terdengar lenguhan dari istrinya membuat Zafran mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Om.." Tifani tiba-tiba memeluk tubuh kekar itu, terdengar isakan kecil membuat Zafran kebingungan.
"Kamu kenapa?" meski ia belum paham, namun Zafran membalas pelukan Tifani seraya mengusap kepalanya lembut.
"Jangan pergi.." ucap Tifani dengan suara serak, ia menatap suaminya dengan mata sayu.
Zafran menatap manik cokelat istrinya dengan dalam, terlihat banyak kesedihan dari gadis periang itu.
"Om.." panggil Tifani lagi karena sedari tadi Zafran hanya diam.
"Ada apa?"
"Boleh aku minta sesuatu?"
"Apa?"
"Bisakah Om jika pulang tidak larut malam dan tidak dalam keadaan mabuk?"
Deg
Seketika pria itu merasa bersalah, ucapan lugu istrinya berhasil membuatnya sadar jika selama ini dia sudah melakukan kesalahan. Ia mengangguk dan mencoba bersikap biasa saja, namun pikirannya masih tertuju pada leher Tifani, sebagai pria dewasa, tentu saja ia tahu itu bekas apa, namun ia penasaran dengan siapa yang telah seenak jidat membuat mahakarya di miliknya.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Bersambung
__ADS_1