
Penasaran dengan jawaban yang akan keluar dari mulut blak-blakkan Caca, meski sejujurnya Nathan berharap Caca akan menerima tawarannya. Karena ia merasa jika ini adalah satu-satunya cara untuk membungkam ibunya yang setiap hari mengomel lantaran putranya tidak laku. Bukan tidak laku, melainkan Nathan belum berniat untuk membangun rumah tangga.
Aku rasa diri ini masih terlalu muda untuk hal itu.
Kalimat mutlak yang sering muncul di benaknya, merasa masih senang untuk bermain-main padahal orang tuanya sudah kelimpungan. Tentu saja mereka iri, terutama bu Leli tatkala ibu-ibu partner gosipnya memamerkan menantu beserta hasil cetakannya, dalam kata lain ialah cucu.
"Jadi?" tanya Nathan karena sudah penasaran sampai tulang rusuk, namun rupanya gadis itu masih berpikir keras mengenai tawarannya.
Raut wajah kekecewaan tersirat dari wajah laki-laki itu, harapan tak sesuai kenyataan ketika mendapat gelengan dari gadis di hadapannya.
"Umur aku masih muda, aku rasa masih ada cara lain selain itu," Caca berlalu meninggalkan Nathan yang masih terpaku mendengar jawabannya.
"Baiklah, mari kita lihat seberapa jauh kamu bisa bertahan," ucap Nathan menyeringai, ia merasa semakin tertarik dengan kepribadian gadis itu, apalagi mengingat ucapan Nindi kemarin malam.
__ADS_1
"Dia gadis baik-baik, meski sikapnya bar-bar awwhh dan slengekan, tapi dia ahh tidak per..nahh berpacaran. Ayahnya s..sudah meninggal tepat saat ahh dia lulus SMA, sshhh kini dia hanya hidup bersama ibunya yang mengidap penyakit jantung ahh dan juga adik laki-lakinya bernama Radit, aduh pelanh-pelan Za, sakit!"
Ucapan diiringi suara laknat yang masih terngiang-ngiang di kepala Nathan, menghubungi sahabatnya di malam hari justru menjadi malapetaka bagi dirinya yang sering menonton video gadis muda bersama kakek gula.
Dia tak tau saja jika kemarin sahabatnya mengalami insiden kecil, terpeleset di kamar mandi hingga menyebabkan kakinya keseleo, Reza pun memijat kaki istrinya untuk meredakan sakitnya. Tetapi Nathan menyalahartikan suara itu, ia malah bergidik ngeri membayangkan jika Reza ternyata suka bermain kasar. Sungguh pemikiran yang tak sesuai dengan dirinya yang selalu merasa masih polos dan suci sebening embun di pagi hari.
Beralih pada sepasang laki-laki dan perempuan dengan umur yang terpaut cukup jauh itu, kini mereka masih berlari meski sebetulnya kaki mereka seakan sudah sangat pegal. Berlari seraya menarik tangan Tifani yang sudah hampir pingsan karena tak kuat lagi, Zafran melirik sebuah rumah kosong yang sudah lama terbengkalai.
"Om, aku capek," lirihnya dan berakhir pingsan di pelukan Zafran.
"Hei bangun! Astaga..Kemarin gue mimpi apa sih sampai hari ini apes banget," Zafran membopong tubuh mungil itu untuk bersembunyi di rumah kosong tersebut, hitung-hitung untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
"Kalau dilihat baik-baik, sebenarnya manis juga nih cewek, ehh apaan sih, sadar Zaf! Lo jangan jadi pedofil," seraya memukul kepalanya agar berhenti berfikir yang tidak-tidak, Zafran masih memperhatikan setiap inci wajah Tifani.
__ADS_1
"Tapi kok kayak familiar ya?" Zafran mencoba mengamati sambil membayangkan seseorang yang mirip seperti gadis yang berada di pangkuannya saat ini.
"Iya pak, saya yakin kalau ada pasangan yang sedang berbuat mesum di tempat ini!!"
Samar-samar Zafran mendengar keributan dari luar rumah tersebut, matanya melotot ketika melihat gerombolan massa sedang menuju ke arahnya bersama kepala desa.
Mampus lo Zafran!
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Minimal like mencapai 15 ke atas, aku update chapter selanjutnya, suwer tekewer kewer kaga bo'ong✌
Kurang baik apalagi sih aku jadi Othor hmm?😝
__ADS_1