
"Usaha apa mas?"
"Kita coba buka toko kue,"
"Wahh kebetulan dulu aku jualan kue," Caca menyetujui ajakan suaminya untuk membuka toko kue.
"Biaya sekolah Radit biar aku yang tanggung, jika dia mau tinggal dimana itu terserah dia," lagi-lagi Nathan membuat Caca terkagum-kagum.
"Apa kita akan pindah sekarang?" Caca terkesiap ketika melihat barang-barangnya sudah tersusun rapi, entah kapan Nathan melakukan itu. Padahal kemarin mereka kembali melakukan kegiatan panas hingga tengah malam.
"Iya, hari ini kita pindah," Nathan mengusap pucuk kepala istrinya, ia tertawa geli melihat wajah Caca yang baru saja bangun tidur.
_
_
"Ini rumahnya?" Caca menganga melihat rumah yang berada di depannya, rumah minimalis dengan desain yang elegan.
__ADS_1
"Iya, kau suka?"
"Sangat suka," Caca mengangguk cepat, kemudian berlari memasuki rumah yang sudah dibuka oleh Nathan, lagi-lagi dia berdecak kagum karena semua perabotan sudah lengkap, mereka hanya tinggal membawa pakaian saja.
"Tapi ini tidak gratis," Nathan tersenyum nakal, tubuh Caca seakan candu baginya.
"Hehh!!" Caca tak habis pikir memiliki suami mesum seperti Nathan, spesies langka yang patut dipunahkan.
Tanpa mereka sadari, seseorang tampak menguntit aktivitas mereka, wanita misterius itu tersenyum di balik masker yang ia kenakan. "Berbahagialah sepuasnya, karena setelah ini kalian akan dihujam penderitaan," dia tertawa kemudian berlalu meninggalkan tempat itu.
_
_
_
Pikirannya semakin kalut tatkala mendapat kabar dari Nindi jika Tifani tidak berada di rumah ibunya ataupun rumahnya, lantas kemana dia? Bukannya mendapat petunjuk, Zafran justru mendapat masalah baru karena Nindi mengancamnya, bahkan sahabatnya itu kecewa dengan dirinya yang telah menuduh serta menyia-nyiakan Tifani.
__ADS_1
"Arrghh..!!" Zafran meraih vas yang ada di depannya kemudian melemparnya serampangan.
"Kemana kamu Fann..." pria itu mengusap sebuah bingkai foto yang terpampang foto pernikahan mereka.
Zafran memutuskan untuk mencari keberadaan Tifani, ia berharap Tifani berada di tempat yang aman, ia tidak ingin berspekulasi yang tidak-tidak. Bak mencari jarum ditumpukan jerami, Zafran kebingungan harus mencari seorang wanita di sekumpulan orang banyak, apalagi desa tersebut ramai penduduk. Dia juga bertanya pada orang lain dengan menunjukkan foto Tifani, namun sayang, satupun dari mereka tidak ada yang melihat istrinya.
Sementara di sebuah kamar yang terpencil, seorang gadis yang tengah mengandung tampak kelaparan. Ia tak membawa uang sepeser pun, apalagi di masa-masa kehamilannya, nafsu makannya meningkat drastis, belum lagi jika menginginkan sesuatu yang tak kesampaian.
"Apa kita akan mati kelaparan?" Tifani mengusap perutnya, mencoba menahan tangis yang sedari tadi dia bendung.
Mencoba bangkit dengan tubuh yang lemas, sejak kemarin Tifani hanya memakan roti yang tersimpan di dalam tasnya.
"Kenapa harus seperti ini? Aku lapar, tapi aku nggak punya uang, kerja pun rasanya enggak sanggup," Tifani menangis tersedu-sedu, mengingat dulu sebelum kehamilannya Zafran selalu memanjakannya walau terkesan terpaksa.
Tifani kembali merebahkan tubuhnya, kepalanya pusing seiring dengan perutnya yang terasa perih, dia merintih namun tidak ada yang bisa menolongnya, tempat itu terletak jauh dari keramaian. Hanya bisa meratapi nasib yang begitu malang, mencoba menimbang-nimbang apakah tindakan yang dilakukannya sudah benar.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1
Kalau yang like & komentar banyak, nanti aku update lagi❤❤