
Dengan tubuh yang sudah terkulai lemas, mulut yang sedari tadi berkoar itu seketika membisu, rasanya sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berucap. Namun di dalam hati, Tifani tak henti-hentinya mengucap syukur, menatap putranya yang kini tengah menyusu dengan sang suami yang sedang duduk seraya mengusap kepalanya.
"Wajahnya mirip Om semuanya!" Tifani memajukan bibirnya, menatap setiap inci wajah putranya yang memang terlihat seperti Zafran jilid dua.
Zafran menghela nafas, "sampai kapan kamu akan memanggil aku dengan sebutan Om?"
"Lalu?" Tifani melirik sekilas.
"Terserah, asal jangan Om."
"Ya udah aku panggil daddy aja," ujar Tifani.
"Nggak sekalian panggil kakek?" seorang wanita tampak memasuki ruangan itu dengan seperangkat alat-alat milik anaknya.
"Dihh kakek, ganteng gini juga!"
"Fanii..!! Mana baby nya? Cewe apa cowo?" teriak Caca heboh, dengan perut yang sudah membuncit, wanita itu tampak celingukan seperti sedang mencari sesuatu.
"Caca Merica! Lu bisa diem nggak?" Nindi mendelik kesal.
"Hehehe..." menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Caca melihat Zafran junior tengah anteng di dekapan Tifani.
__ADS_1
Satu persatu mereka mendatangi Tifani, semua tampak bahagia. Tak terkecuali Tifani, di usianya yang masih sangat muda, kebahagiaannya semakin lengkap karena hadirnya sang buah hati. Meskipun awalnya dilalui kepahitan, namun kesabarannya justru membuahkan hasil.
***
"Mas, kan anak Pak Zafran laki-laki, terus anak kita juga laki-laki. Nah, kira-kira anaknya kak Nindi perempuan apa cewek ya??" dengan tangan yang melingkar erat di pinggang Nathan, Caca mulai berceloteh. Wanita itu tidak sadar jika ternyata dia salah ucap.
"Mau ngapain nyari aki-aki?" suara knalpot yang memekikkan telinga membuat Nathan tidak bisa mendengar dengan jelas.
Caca menekuk wajahnya, bibirnya mulai bergerak maju, ke kiri dan ke kanan. Tangannya memukul punggung Nathan. "Dasar congek! Udah tua sihh pantes aja!"
"Sembarangan! Aku masih muda ya, umur boleh tua tapi jiwa tetap muda. Meski tua-tua begini, aku masih bisa membuatmu terkapar di ranjang!" mulut blak-blakkan Nathan berhasil membuat Caca melotot, bersamaan dengan pengendara ojol yang berhenti di sebelahnya ikut melihat Nathan. Kebetulan mereka sedang berhenti karena jalan dialihkan membuat arus lalulintas sedikit macet.
"Mas mulutnya itu kalau ngomong bisa difilter dulu nggak?" Caca mencebik, merasa malu lantaran pengendara ojol dengan wajah bak Oppa Korea itu tersenyum ke arahnya.
"Mas jangan cengar-cengir gitu dong, kalau pengen nanti langsung praktek aja sama istrinya, saya kadi teorinya!" Nathan melihat kang ojol itu terus menatap ke arah mereka.
"Maaf mas, saya masih jomblo tingting!" ujarnya sebelum melanjutkan perjalanannya.
"Jomblo? Orang se-ganteng dia masih jomblo? Waahh kira-kira mau nggak ya jadi selingkuhan aku??" Caca mulai berandai-andai.
"Gimana Mas? Kamu setuju?"
__ADS_1
Nathan yang tidak mendengar ucapan Caca pun hanya mengangguk.
***
"Sayang, kamu yakin nggak mau tau kelamin anak kita?" Nindi bergelayut manja di lengan Reza membuat pria itu semakin kerepotan mengurus tiga bayi besar dengan yang satunya bayi jadi-jadian.
"Hemmm... Apapun jenis kelaminnya, aku juga pasti akan mengakuinya dan merawatnya."
"Ya iya lah harus! Masa kamu mau enaknya aja, iya kali kamu yang bikin aku hamil, terus aku minta kakek Ono buat menerima anak ini?" Nindi menjawab ketus.
"Kakek siapa?" Reza yang sudah hidup lama dengan Nindi baru kali ini mendengar nama itu.
"Kakek viral yang sering sama gadis muda itu lhoo.. Cihh pura-pura polos, aku liat di laptop kamu, ada salah satu file isinya video nganu semua, judulnya cara nyetak anti gagal, sekali nyoba langsung jadi. Apaan coba!"
"Hah? Aku nggak pernah nyimpen kayak gitu! Bukannya laptop itu sering kamu bawa ke kafe?" Reza tak terima atas tuduhan istrinya.
"Wahh pasti ulah duo cunguk kalau gitu! Eh tapi nggak papa sih, buat nambah ilmu, nanti kita tonton!"
"Nggak!"
▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1
Kasi rekomendasi nama buat baby nya TiZaf, Othor lagi males mikir😂