Menikahi Sepupu Sahabatku

Menikahi Sepupu Sahabatku
Misterius


__ADS_3

"Mas aku hamil,"


Nathan yang tengah berguling ke sana kemari di tempat tidur pun sontak membenarkan posisinya. Ia tatap wajah wanita yang telah berstatus istrinya itu, dipeluknya tubuh ramping Caca yang masih berdiri di hadapannya.


"Kenapa kau tak memberitahu?"


"Terus yang tadi apaan?" Caca melepaskan tangan Nathan yang melingkar di pinggangnya.


"Kenapa?" Nathan mengernyitkan dahinya, melihat Caca yang melipat kedua tangannya di dada dengan bibir yang dimajukan. Gadis itu merajuk.


"Aku mau ketemu cucu kakek yang kemarin," cicitnya.


"Siapa?"


"Mas Al,"


"Hah?" Nathan memikirkan siapa yang dimaksud istrinya, namun seketika dia terkejut saat Caca menyebut nama asli pria itu.


"Ngapain kesana lagi? Terpesona sama si Tornado itu? Aku kurang apa sih?" Nathan berdecak, tak terima jika Caca terpikat senyum manis wajah rupawan seorang Ipul.


"Topan, bukan Tornado!"


"Sama aja!"


Kedua makhluk yang tadinya akur, kini memilih untuk diam dengan posisi saling membelakangi, mempunyai ego yang sama-sama tinggi membuat mereka tak mau mengalah.

__ADS_1


"Pak tua!" Caca menggebrak meja membuat Nathan yang tengah duduk di depan cermin seraya mencabut kumisnya terjatuh ke lantai.


"Kamu bilang apa tadi?" manik cokelat itu menajam, menatap sang istri bak seekor elang yang akan mencabik-cabik mangsanya.


"Pak tua, kenapa? Salah? Kalau kamu enggak mau nganterin aku ke tempat kemarin, aku bakal pergi sendiri!" Caca mendorong Nathan kemudian berjalan ke luar rumah.


"Ca, mau kemana?" Nathan mengejar langkah Caca yang sudah menjauh.


Sementara itu, seorang wanita misterius sedang mengintai mereka, dia tersenyum seraya menelepon seseorang. "Lakukan sekarang!"


_


_


_


"Hahaha jelek banget kayak Om Zafran!" wanita berbadan dua itu tertawa terbahak-bahak, melihat adegan konyol dari seorang tokoh di film kesukaannya.


"Fann..." Zafran tak kuasa karena tubuh Tifani bergerak aktif di pangkuannya, apalagi dirinya saat ini dalam keadaan terikat.


"Apa?" Tifani menoleh, namun raut wajahnya nampak tak bersahabat, ia kesal karena suami tuanya menganggu konsentrasinya.


"Lepasin," pria itu merengek seraya mengangkat kedua tangannya yang disatukan oleh seutas tali pengait bra milik istrinya. Bukannya Zafran tak mampu untuk melepaskannya, namun dia takut jika membuat Tifani murka.


Namun Tifani mendadak tuli, ia kembali memfokuskan matanya pada layar televisinya. Zafran yang sudah kehilangan kesabaran pun melepas paksa ikatan itu, dia mengangkat paksa tubuh Tifani dan membawanya ke kamar.

__ADS_1


"Om! Filmnya belum selesai!!" teriak Tifani seraya memukul bahu Zafran.


"Lanjut nanti aja," pria itu membaringkan tubuh istrinya secara perlahan, mengabaikan mulut lemes yang terus bergerak itu, Zafran melepaskan pakaiannya.


"Kita mau ngapain?"


"Mencari surga dunia,"


"Dimana?"


"Disini,"


Tifani yang merasa dirinya masih polos pun memasang wajah bego, membiarkan sang suami yang membuka pakaiannya.


"Ada apa?" dahi pria itu berkerut, melihat istrinya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Dingin, aku mau tidur. Mending Om masak, aku laper!"


Kaget, Zafran menghela nafas saat Tifani sudah tertidur pulas. Gagal mendapat asupan daripada harus berhadapan dengan singa berwujud istrinya.


Dengan keadaan setengah telanj*ng, Zafran pergi ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin untuk meredam hawa panas yang menyeruak dalam dirinya.


Resiko memiliki istri gadis belia, Zafran harus punya kesabaran extra, apalagi sekarang terdapat bibitnya yang sudah tumbuh di rahim Tifani, membuatnya semakin menggila menghadapi kelakuan istrinya.


▪︎▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2