
"Jelasin!" pinta Caca dengan wajah datar, belum sembuh luka terdahulu, kini datang lagi masalah baru bagaikan air garam yang mengguyur lukanya.
Nathan yang sedari tadi bungkam akhirnya membuka mulutnya, menatap satu persatu orang-orang yang ada disana, meskipun berat, Nathan harus jujur dan terima akan resiko yang didapat.
"Terjadi sekitar tiga tahun lalu, dimana aku tidak sengaja menabraknya hingga menyebabkan dia keguguran. Tetapi aku sudah bertanggung jawab, dan wanita itu mengatakan kalau dia tidak apa-apa."
"Hingga beberapa bulan kemudian, aku bertemu lagi dengannya, entah apa yang terjadi, hingga keesokan harinya aku berada di sebuah penginapan dengan keadaan tanpa busana bersama wanita licik itu!" tangannya menuding wanita yang bernama Amanda.
"Lalu kenapa kamu tidak menikahinya hah?" bu Leli berteriak, merasa kecewa dengan putranya yang telah menyembunyikan aib dari keluarga.
"Dia tidak mau Bu, setelahnya aku tidak pernah bertemu lagi dengannya, dia menghilang entah kemana,"
Karena ini memang tujuanku, menjadi duri di tengah kebahagiaan kalian. Seringai licik terbit di wajah ayu Amanda. Hidupnya hancur karena kehilangan calon bayinya, belum lagi setelahnya dia mendapati sang suami selingkuh dengan sahabatnya sendiri, diceraikan karena dianggap tidak becus menjaga janin di rahimnya. Amanda benar-benar frustasi dan memilih untuk mencari Nathan, melampiaskan dendam yang tak masuk akal, bagaimanapun juga pria itu telah mau bertanggung jawab, namun Amanda yang sudah dibutakan oleh kebencian seakan kehilangan akal sehat.
__ADS_1
"Jika kamu tidak percaya jika Lisa memang putrimu, kita bisa lakukan tes DNA," ucap Amanda dengan santainya.
"Itu benar, jika Lisa memang benar putrimu, maka dengan berat hati kamu harus menikahi Amanda," sang ayah yang sedari tadi diam memberikan saran.
Bak ribuan belati yang menghujam tubuhnya, Caca meremas pakaiannya. Setelah kehilangan calon bayinya, kini dia harus menyiapkan mental untuk berbagi suami jika benar Lisa adalah anak dari suaminya.
Setelah semuanya setuju, satu persatu mereka meninggalkan ruangan tempat Caca menjalani perawatan. Kini hanya tinggal Nindi, Zafran beserta sang istri dan juga Nathan.
"Kan kak Caca emang perempuan kak," celetuk Tifani polos membuat Nindi menepuk jidatnya.
"Zaf, lo bawa pergi deh Tifani," titah Nindi mengingat jika ini adalah pembahasan orang dewasa.
"Kebetulan aku laper Om," Tifani menaikkan sudut bibirnya, melihat Zafran yang menarik tangannya untuk keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Ca, lo yang kuat ya," Nindi beralih mengusap pundak sepupunya dan memeluknya, tak ada tangisan dari wanita itu, hanya tatapan kosong yang menerawang aksa.
"Lo kalau mau nangis, nangis aja Ca, jangan sok kuat," tangan Nindi mengusap punggung Caca, alhasil tangis Caca pun pecah, Nindi mengeratkan pelukannya, memberi kekuatan pada wanita yang tengah menghadapi ujian hidup level tertinggi.
Nathan yang melihat itu hanya bisa diam dengan perasaan bersalah, dia memilih keluar untuk membeli sesuatu, dirinya khawatir karena sejak kemarin Caca tidak pernah mau menyentuh makanan sedikit pun.
"Mmm gue pulang dulu ya, tadi Reza bilang kalau Vano nangis," ujar Nindi saat melihat Nathan memasuki ruangan.
Selepas kepergian Nindi, Nathan memberanikan diri untuk mendekati Caca yang terlihat seperti manusia tak bernyawa. Menyodorkan segelas susu, dengan cepat sang istri menepisnya, pria itu tak marah, Nathan berjongkok seraya memunguti pecahan gelas dan mengelap susu yang tumpah itu.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Bersambung
__ADS_1