Menikahi Sepupu Sahabatku

Menikahi Sepupu Sahabatku
Diterima


__ADS_3

Tentukan tanggal pernikahannya, aku bersedia menikahi bujang lapuk agar tak selamanya menyandang status perjaka ting-ting.


Bak sehabis memenangkan undian sabun colek berhadiah mobil, Nathan melompat-lompat kegirangan di dalam kamarnya. Tak sia-sia ia kemarin merayu gadis sengklek berparas ayu itu, rupanya Caca menyetujui tawarannya.


"Nathan kamu ngapain? Kesurupan hah?" teriak bu Leli seraya menggedor pintu kamar putranya.


"Maakk besok anakmu nikah..!!" Laki-laki itu tiba-tiba membuka pintu membuat ibunya yang sedang menguping terjerembab.


"Anak sialan!" bu Leli bangkit dan memukul kepala anaknya.


"Terserah ibu mau bilang aku apa, yang penting sebentar lagi aku nikah," Nathan menarik tangan bu Leli dan mengajaknya berputar ria di depan kamarnya.


"Kalian ngapain?" gadis manis tampak memasuki rumah dengan penuh rasa heran, melihat sang ibu yang sudah sempoyongan dengan kakaknya yang menunjukkan wajah tanpa dosa.


"Nia cantik, besok kakakmu ini mau ngelamar calon kakak ipar, dan sebentar lagi kakak akan menikah," sahut Nathan dengan girangnya.

__ADS_1


"Oooo.." Nia menanggapinya dengan ekspresi yang biasa saja, Nathan yang melihatnya pun hanya bisa menepuk jidat. Ia paham jika adiknya belum mengerti maksud ucapannya mengingat mereka memiliki frekuensi otak yang sama alias kebodohan yang sudah mendarah daging.


Selepas dari itu, Nathan memutuskan untuk pergi ke kafe. Sebelumnya ia juga mengirim pesan pada Nindi dan Zafran agar mereka datang, ia ingin menyampaikan kabar gembira ini pada sahabat yang telah menemaninya selama ini.


_


_


_


Jelas saja Zafran tidak tahu, kemarin setelah kegiatan panas itu, meski Tifani merasakan nyeri dan pegal di sekujur tubuhnya, namun ia tetap berinisiatif untuk membersihkan tubuh sang suami yang bercucuran keringat. Dimana saat itu juga, Zafran ambruk setelah berkali-kali mengagahi istrinya, pria itu tertidur dengan lelapnnya, meninggalkan sang istri yang masih tak percaya dengan apa yang dialaminya.


Pria itu kini terlihat seperti orang bodoh, bingung, heran, sekaligus penasaran melebur menjadi satu. Saat ia bangun, tidak ada tanda-tanda mencurigakan karena ia masih menggunakan pakaian lengkap.


"Apa yang terjadi kemarin malam?" kini pria itu memberanikan diri untuk bertanya pada istrinya yang terlihat mematung dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Tifani menggeleng, dadanya terasa sesak, ia tidak menyalahkan suaminya atas apa yang terjadi, namun dia lebih mendominasi ke perasaan kecewa. Kecewa karena perjuangannya sia-sia, berjuang sendiri memang tiada guna, entah dirinya yang terlalu bucin atau memang Zafran yang tidak berperasaan. Bahkan suaminya itu sekaan enggan mengingat momen bersejarah dalam hidupnya.


"Benarkah?" Zafran memastikan dan hanya mendapat anggukkan dari istri kecilnya.


Zafran beranjak, Ia pergi ke kamarnya untuk memastikan sesuatu, mencoba mengingat meski malah pusing yang ia dapat. Mungkin itu akibat dari minuman keras yang ia konsumsi cukup banyak kemarin sore. Padahal dia bukan tipe laki-laki pemabuk, namun entah bisikan setan apa yang membuatnya seperti itu.


"Akhh sial! Enggak mungkin kan kalau gue udah ngelakuin itu sama Tifani," pria itu mengacak rambutnya frustasi, ia melihat sprei tempat tidurnya sudah diganti. Sayang sekali kamarnya tidak terdapat kamera pengintai karena Zafran bukan orang kurang kerjaan.


"Aku pergi ke kafe, kau tetaplah di rumah, jangan kemana-mana!" Zafran keluar dari rumahnya menuju kafe lantaran mendapat pesan darurat dari Nathan yang mengharuskan dirinya untuk datang.


Tak ada sahutan dari sang istri, setelah memastikan Zafran pergi, tangis Tifani pun pecah, ia tak menyangka jika Zafran seperti itu. Tifani tidak tahu jika terdapat masa lalu kelam dari Zafran membuat pria yang dulu sebelas dua belas dengan Nathan dan Nindi, kini berubah menjadi dingin kepada perempuan.


Hampa dan hambar, hanya itu yang dirasakan oleh Tifani, ingin protes tapi pada siapa, hanya bisa menangis akan takdir yang begitu kejam padanya, haruskah dia menyerah? Tidak-tidak, ini baru permulaan, dia tidak mau jika perjuangannya sia-sia.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2