
"Selamat menikmati patah hati," dengan senyum kemenangan, Riki mengakhiri panggilan video itu membuat Nathan semakin frustasi.
"Lo tenang, kita coba lacak keberadaan mereka," ujar Reza yang sedari tadi hanya menyimak.
"Gue enggak bisa main lacak-lacak, kalau main ranjang-ranjang baru ahlinya," ucap Nathan dengan penampilan yang sudah kacau.
"Heh lo bisa serius nggak? Gue gibeng lama-lama!" Nindi mencubit lengan sahabatnya, bisa-bisanya penyakit mesumnya kumat di situasi genting saat ini.
"Kita enggak bisa melacak keberadaan mereka, nomor teleponnya udah nggak aktif," ucap Reza setelah selesai mengotak-atik ponselnya.
"Arrgghh..!!" Nathan mengusap wajahnya kasar.
"Om, bukannya itu tempat kita waktu digrebek warga ya?" celetuk Tifani membuat semua menoleh ke arah pasangan suami istri itu. Rupanya ibu hamil itu sekilas melihat sekeliling Riki.
Zafran terdiam sejenak kemudian mengangguk, setelah itu mereka semua terkecuali Nindi, Tifani, bu Leli, dan Nia berbondong-bondong ke rumah kosong itu.
__ADS_1
"Aduhh, Sheila sayang...Kali ini aja, biarin papamu pergi ya," Nindi mencoba melepaskan genggaman tangan Sheila dari baju suaminya.
"Papapapa huwaaaa," mulut bayi itu terbuka lebar, ia terus menarik baju Reza seakan melarangnya untuk ikut pergi.
"Sheila... Papa pergi sebentar kok, kamu sama kak Zahra dulu ya?" memberi kecupan bertubi-tubi, perlahan genggaman Sheila mulai melonggar.
Setelah drama singkat antara ayah dan anak itu, mereka bersama-sama menuju lokasi Caca saat ini. Sebuah rumah kosong, tempat terkutuk bagi Zafran dan kini peristiwa buruk kembali terjadi di tempat itu.
"Waww hebat, semudah itu kalian menemukan kita," Riki bertepuk tangan menyambut kedatangan Nathan dan yang lainnya.
"Kau apakan dia hah?" teriak Nathan dengan nafas memburu, ia tidak peduli meski Zafran dan Reza menyuruhnya untuk berhenti, dia tetap membabi buta pria itu.
Para rekan Riki pun tak tinggal diam, mereka juga ikut menyerang Nathan, alhasil tempat itu kembali menjadi saksi bisu insiden baku hantam. Pukulan demi pukulan, Nathan dan yang lainnya sedikit kewalahan lantaran lawan mereka tak sebanding, ditengah aksi menegangkan itu, Nathan melihat Riki berlari ke arah Caca dengan membawa pisau di tangannya.
"NATHAN..!!"
__ADS_1
Raut wajah Zafran, Reza, bahkan ayah dari Nathan berubah pias, melihat sebuah pisau belati yang menancap pada punggung Nathan. Nathan menatap Caca yang berada dalam dekapannya, dia tersenyum sebelum akhirnya ambruk. Bersamaan dengan itu, polisi datang mengamankan Riki beserta rekan-rekannya.
"Nat, lo harus bertahan," ucap Zafran seraya membopong Nathan, sementara Reza mengangkat Caca yang dalam keadaan setengah sadar seperti terkena pengaruh obat.
Mereka membawa Nathan dan Caca untuk mendapat perawatan, menatap pasangan yang seharusnya sekarang sudah sah itu, Reza dan Zafran hanya bisa geleng-geleng kepala.
Sementara di rumah, semua tengah berusaha menghibur Sheila yang terus menangis. Entah kenapa bayi menggemaskan itu sampai menangis tak henti-hentinya.
"Mam pon papa," celoteh Vano seraya meraih ponsel milik Nindi, bayi itu seakan tau jika Sheila merindukan sang ayah mengingat dia sangat lengket dengan Reza.
Dan benar saja, saat melakukan panggilan video, tangis Sheila berhenti melihat wajah Reza yang terpampang di benda pipih itu. Seakan tak ada habisnya, mereka kembali panik ketika Reza menceritakan semuanya, bahkan bu Leli sampai pingsan mendengar putranya terluka.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Semakin banyak yang kasi jempol & komentar, semakin cepet juga aku update🥰😚❤❤
__ADS_1