Menikahi Sepupu Sahabatku

Menikahi Sepupu Sahabatku
Setres


__ADS_3

Menjelang pernikahan, namun Nathan seakan enggan untuk melaksanakan pernikahannya kali ini. Hatinya telah berlabuh pada Caca, tak ada ruang lagi yang tersisa untuk orang lain di hatinya. Berdiam diri di dalam kamar, tak peduli dengan orang-orang yang sudah heboh di luar.


"Nathan..!! Berapa lama lagi kamu bersolek hah?" suara cempreng Bu Leli seperti akan membelah pintu kamarnya.


"Tunggu aja ampe lumutan!" Nathan mengapit kedua telinganya menggunakan bantal.


Nathan berdecak, saat pintu kamarnya dibuka paksa, apalagi teriakan ibunya yang kembali menggema di kamar itu.


"Kamu apa-apaan hah? Kenapa masih pakai baju kucel kayak gini?" tangannya meraih sebuah sapu yang terletak di belakang pintu, wanita itu memukul putranya yang masih mengenakan pakaian rumahan.


Tak ingin kalah, pria itu menyabet kemoceng dan menantang wanita itu.


"Apa apa?" Nathan menggigit bibir bawahnya dan melebarkan manik matanya membuat bu Leli semakin naik pitam.


"Kamuuu...!!!" bu Leli melempar sapu ke arah putranya.


"Eits engga kena enggak kena.." terus menghindar seraya menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, aksi pria itu membuat sang ibu dan ayahnya tak habis pikir.


"Apa dia setres?" wanita itu melirik ayah Nathan yang memperhatikan mereka.


"Mungkin."


Plakk

__ADS_1


Merasa geram, sang ayah pun bertindak. Melayangkan sendal miliknya, Nathan pun protes saat sendal itu mendarat di pipinya.


"Huekk!" Nathan menutup hidungnya, menjinjing sendal ayahnya dan memperhatikannya dengan seksama, ia memajukan bibirnya melihat kotoran ayam yang menempel di sendal tersebut.


Menggunakan kesempatan tersebut, bu Leli mengambil handuk dan membawa Nathan ke kamar mandi.


"Ibu ngapain?" pekiknya saat bu Leli membuka kausnya.


"Mandiin kamu!" sahut wanita itu dengan santainya dan mengangkat ember yang penuh dengan air dingin.


"Aaaa," kaget, Nathan mengusap wajahnya dan menatap ibunya kesal, tanpa embel-embel sebuah gayung, wanita itu langsung mengguyur Nathan dengan seember air itu.


"Berisik!" bu Leli menampar mulut lemes putranya.


_


_


_


"Sayang.." mendekap tubuh Caca dari belakang, Nathan menjatuhkan dagunya di bahu istrinya.


Caca berbalik, menatap suaminya yang sudah rapi, rasanya berat harus melihat Nathan menikah lagi. Matanya berkaca-kaca, perlahan kristal bening merembes di pipinya.

__ADS_1


"Jangan menangis," Nathan mengusap air mata itu menggunakan ibu jarinya.


"Katakan gimana caranya agar aku enggak nangis!" Caca menunjuk dada Nathan.


"Caranya ya jangan nangis," menggaruk kepalanya yang tidak gatal, jawaban pria itu membuat Caca menatapnya dongkol.


Sejenak mata mereka bertemu, menyiratkan betapa tidak ikhlasnya jika ada orang ketiga di antara mereka. Perlahan bibir mereka menyatu, menyalurkan rasa sayang yang amat mendalam, menciptakan dunia seakan milik mereka berdua, tak perduli dengan orang-orang yang tengah menunggunya.


"Ah panas.. Panas," celetuk seorang wanita seraya menggelengkan kepalanya. Namun dua insan itu mendadak tuli.


"Woi! Kebakaran!" teriaknya lagi membuat mereka terjingkat dan langsung lari terbirit-birit.


"Buruan keluar, semua udah nunggu!" Nindi berlari sebelum mendapat serangan dari Nathan.


"Ahh sialan!" bukannya keluar, Nathan malah merebahkan tubuhnya di ranjang, tak perduli dengan pakaiannya yang akan kusut.


Perlahan matanya terasa berat, alhasil dia tertidur dengan lelapnya, apalagi belakangan ini dia selalu kurang tidur.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Bersambung


Bentar lagi tamat, uhuyy😂

__ADS_1


__ADS_2