
Antara terkejut, tak percaya, dan heran menjadi satu, Nathan memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera sampai di desanya dan menanyakan perihal berita mengejutkan yang diceritakan bu Nur kemarin malam. Tak hanya dia, Caca pun merasakan hal sama, baginya Zafran adalah pria baik-baik. Terbukti dari sikapnya yang tetap profesional dalam bekerja meski dirinya sering mengajak bercanda, bahkan saat insiden baju basah itu pun Zafran tidak terlalu menanggapinya.
Namun ada rasa bahagia dalam diri Nathan, tanpa perlu membujuk dengan susah payah, Caca memilih untuk meninggalkan tanah kelahirannya, memboyong sang adik dan tinggal di rumah bu Nur.
Setelah satu jam lamanya, Nathan sampai di desa tempat dirinya dibesarkan, baru saja menapakkan kaki di rumahnya, ia sudah disambut dengan sendok sayur yang mendarat di kepalanya.
"Darimana saja kamu hah? Dasar anak tidak berguna! Pergi kemana-mana tidak pamitan, apa kau lupa pada keluargamu?" bu Leli meluapkan kekesalannya, bagaimana ia tidak kesal karena selama sehari satu malam tak mendengar kabar putranya.
Kemarin Nathan memutuskan untuk menginap di rumah kecil Caca, kebetulan pak Aris dan bu Nur juga menginap disana karena sudah larut malam dan hujan turun dengan derasnya. Alhasil dia tidak bisa tidur karena atap rumah Caca yang bocor.
"Aduhh sakit bu! Kemarin Nathan nganterin calon mantu pulang kampung," Nathan menutup mulutnya yang tiba-tiba keceplosan.
"Calon mantu?" bu Leli mengerjap-ngerjapkan matanya, merasa tak percaya karena setelah sekian lama, akhirnya Nathan memiliki kekasih.
"Tapi bo'ong hahaha.." Nathan terbahak ketika melihat raut wajah bu Leli kembali berubah, menurutnya sangat lucu bisa mengerjai ibunya itu.
"Nathaan..!!!" teriak bu Leli seraya kembali memukul Nathan.
Tak
Gawat! Secepat kilat Nathan berlari menuju kamarnya, ia tak mau menjadi sasaran amukan singa betina lantaran sendok sayurnya patah.
__ADS_1
_
_
_
Meski matahari telah bersinar dengan terangnya, namun laki-laki yang masih setia bergelung di bawah selimut merasa malas untuk bangkit dari tidurnya, tak kuat menghadapi dunia yang begitu kejam baginya. Rasanya baru nampak batang hidungnya saja pun, para manusia julid dari negara +62 sudah mencemoohnya habis-habisan.
Namun tiba-tiba ia terkesiap tatkala pintu kamarnya dibuka paksa oleh seseorang, memutar bola matanya malas, melihat laki-laki bermulut pedas nan lemes menghampirinya.
"Woi udah siang! Anak perjaka kok bangunnya siang-siang gini sih?" benar saja, suara Nathan menggelegar di kamar Zafran.
"Hubungannya sama anak perjaka apa?" Zafran menatap Nathan dengan muka bantalnya, meskipun begitu, Zafran masih terlihat tampan karena dia bukan tipe orang yang ileran.
"Sialan! Handuk gue masih di kamar!" teriak Zafran, seketika rumah yang biasanya tenang atau lebih tepatnya sepi seperti tak ada kehidupan itu mendadak rusuh.
"Nggak usah pakai handuk, tel*nj*ng aja nggak papa," jawab Nathan dengan asal, membuat Zafran keluar dari kamar mandi seraya membawa gayung.
"Gue masih waras ya!" memukul kepala sahabatnya seraya mendorong jidatnya, Zafran masuk ke kamarnya untuk mengambil handuk.
Nathan masuk kembali ke kamar Zafran, melihat kamar sahabatnya yang masih berantakan, ia berinisiatif untuk merapikannya.
__ADS_1
"Cihh tidur aja masih tenang," melihat tempat tidur Zafran yang tidak terlalu berantakan, ia hanya perlu melipat selimut dan membenarkan bantal. Berbeda dengan dirinya yang pagi-pagi mendapati tempat tidurnya seperti habis terkena badai topan.
"Mau ngapain lo kesini?" menggosok rambutnya yang masih basah menggunakan handuk, Zafran melihat Nathan yang duduk di kasur seraya memainkan ponselnya.
"Serius lo bobol anak SMA?" raut wajah Nathan berubah menjadi serius.
"Ck, kalau kesini cuma mau nanya itu, mending lo pulang deh, kita kenal udah lama Nat, bertahun-tahun kita bersama seharusnya lo udah tau karakter gue, mereka cuma salah paham," raut wajahnya berubah menjadi sendu, jiwanya tertekan, saat ini dia memang perlu sosok yang bisa mendengar keluh kesahnya.
Nathan terpaku mendengar ucapan menyedihkan sahabatnya, ia percaya jika Zafran tak mungkin berbuat seperti itu.
"Udah nggak papa, jalanin aja. Mungkin jodoh lo emang bocah gesrek itu," Nathan menepuk pundak sahabatnya.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Pagi-pagi baca novel ini
Sambil baca enaknya rebahan
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Bagi kalian yang merayakan
__ADS_1
Nyambung nggak? Nyambung lah masa enggak😝 Mon maaf Othor kagak jago pantun✌