Menikahi Sepupu Sahabatku

Menikahi Sepupu Sahabatku
Sheila


__ADS_3

Menatap heran pada gadis yang tengah tertawa cekikikan karena berhasil mengerjai sahabatnya, Zafran hanya bisa geleng-geleng kepala mengingat kelakuan dua insan yang sama-sama gendeng itu.


"Pak, ada seragam cadangan nggak? Seragam saya basah dan kotor," berbalik menatap Zafran yang tengah fokus dengan laptopnya, gadis itu sedikit melirik ke arah pintu kamar mandi yang terbuka.


"A--" sebuah teriakan membuat Zafran tak melanjutkan ucapannya.


"Hai guys! Nyonya besar datang!" seorang wanita tampak memasuki ruangan seraya menggendong bayi perempuan yang menggemaskan.


"Cucok bingits jadi Nyonya besar, badan kakak udah melar kemana-mana," celetuk Caca dengan wajah tanpa dosanya membuat Nindi melotot.


"Nggak papa, yang penting sampai saat ini Reza nggak bisa berpaling," sahut Nindi dengan bangganya.


"Mungkin Reza terpaksa, gimana mau berpaling kalau baru lirik perempuan dikit, seketika pawangnya keluar taring," kali ini Nathan menimpali, membuat Caca dan Zafran tergelak.


"Diem lo perjaka ting-ting!" Nindi mengerucutkan bibirnya, namun seketika ia mengernyitkan dahinya ketika melihat seragam Caca yang basah dan Nathan terlihat sehabis mandi.

__ADS_1


"Tunggu-tunggu.." wanita itu memberikan putrinya yang bernama Sheila pada Zafran, dengan senang hati laki-laki itu menerimanya.


Nindi beralih menatap sepupu dan sahabatnya secara bergantian, tatapan menelisik dihunuskan pada dua manusia yang tampak kebingungan itu.


"Kalian habis ngapain?" sentak wanita itu membuat otak mereka bekerja keras mencerna ucapan Nindi, berbeda dengan Zafran yang sudah paham kemana arah pembicaraan Nindi.


"Kita ngapain?" Nathan dan Caca saling pandang seraya menunjuk diri mereka sendiri.


"Heh! Apa-apaan nih? Gue nanya tapi lo nanya balik!" sungut Nindi merasa kesal karena rupanya mereka sama-sama lemot.


"Maksud Nindi itu, kalian habis ngapain? Kan baju Caca basah dan sedikit kotor, lo juga habis mandi kan? Nah sepatutnya sebagai orang dewasa lo udah paham," seraya menahan tangan Sheila yang tak berhenti mengacak rambutnya, Zafran menjawab kebingungan yang melanda kedua manusia berotak dongkol itu.


"Pikiran kakak kejauhan, orang kita nggak ngapa-ngapain kok," Caca memilih untuk keluar dari ruangan itu, toh juga seragamnya sudah kering dengan sendirinya.


"Cuma hampir aja sih, nekat banget tuh cewe, masa iya mau buka-bukaan di depan gue," memijit keningnya yang terasa pusing, Nathan memilih untuk ikut duduk di sofa bersama Zafran dan Sheila.

__ADS_1


"Dia sepupu gue, jangan macam-macam lo!" Nindi memperingatkan Nathan.


"Nggak minat!"


"Ihh bocah! Pelit banget deh, masa sama Zafran mulu! Gue juga mau kali," merasa cemburu karena Sheila lengket dengan sahabatnya, tapi sangat membenci dirinya.


"Sheila, kamu sama kakek Nathan dulu ya, kak Zafran pegel nih," seraya tertawa cekikikan, Zafran mencoba merayu gadis kecil itu agar mau bersama Nathan.


"Wah parah..Parah..Parah, perbandingannya jauh banget, masa gue yang gantengnya kebangetan ini dipanggil kakek, sementara lo yang muka pas-pasan gitu jadi kakaknya Sheila?" sungut Nathan tak terima, sedangkan Nindi sudah tertawa mendengar celotehan absurd keduanya.


Namun berhasil, Sheila tiba-tiba merangkak ke arah Nathan seraya tersenyum lebar menunjukkan gusinya yang baru ditumbuhi beberapa gigi.


"Waww pertama dalam sejarah, setelah lama dinanti-nanti akhirnya Sheila mau dekat sama gue," Nathan merentangkan kedua tangannya, menyambut bayi yang sering ia juluki Annabelle karena saking gemasnya.


"Aakhh mata gue..!!" pekik Nathan seraya mengucek matanya yang terasa perih, rupanya memang ada udang dibalik wajan dari Sheila, dengan tangan usilnya, dia mengguyar wajah Nathan hingga tanpa sadar jari mungil itu mengenai matanya.

__ADS_1


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Nggak ada yang mau kasi kembang atau kopi gitu?🤔


__ADS_2