
"Mau ke rumah calon mantu!"
Seketika laki-laki itu melotot ketika melihat ibunya pagi-pagi sekali akan mendeteksi keberadaan sang calon menantu. Seraya membawa ponsel Nathan yang penuh dengan koleksi foto janda kembang beserta foto Caca yang diambil secara diam-diam, bu Leli mencoba bertanya pada warga sekitar mengenai tempat tinggal gadis tersebut.
"Tunggu bu! Emang ibu tau dimana rumahnya?" Nathan menarik tangan yang sudah mulai keriput itu, berusaha mencegat agar ibunya mengurungkan niatnya, namun rupanya bu Leli sama sekali tak perduli dengan rengekkan putranya, ia terus berjalan meski tangan dan bajunya terus ditarik, kini aksi ibu dan anak tersebut menjadi tontonan para warga.
"Ibu belum tau tapi ibu yakin kalau bakal ketemu, pokoknya ibu enggak mau tempe, minggu depan kamu sudah harus nikah sama gadis itu!" Ibu penggemar musik dangdut koplo itu terus berjalan tak tentu arah, sesekali ia bertanya pada orang sekitar dengan menunjukkan foto Caca yang berfose bak Sun Go Kong.
Sepertinya dewi keberuntungan sedang berpihak pada bu Leli, ia berhasil menemukan alamat Caca, tak perlu berlama-lama, ia bergegas menuju ke rumah Caca dengan Nathan yang masih membuntutinya.
"Ini beneran kan? Bukan alamat palsu kayak lagu mbak Ayu kembaran ibu?" bu Leli terus mengamati rumah yang tak asing baginya, seingatnya baru kemarin dia kondangan ke rumah itu karena sang pemilik rumah ternyata sahabat sepergosipannya dulu ketika masih muda.
Mati gue. Batin Nathan ketika melihat rumah lama Nindi yang sudah di depan mata. Mantan playboy itu tahu jika saat ini Caca dan adiknya tinggal di rumah bu Nur.
"Bu, mending kita datang lain kali aja. Sekarang kita pulang yuk," Nathan merasa was-was dengan tingkah bar-bar ibunya yang bisa kumat kapan saja, ia tak mau jika nantinya Caca semakin menjauh dari jangkauannya.
_
_
__ADS_1
_
"Habis ini mau kemana, Om?" tanya Tifani di sela-sela makannya.
"Kafe," Zafran hanya menjawab sekenanya, seraya menyantap menu sarapan yang sudah pasti tidak ada spesialnya, namun sangat spesial bagi gadis belia itu lantaran kehadiran sang suami menawan impiannya.
"Aku boleh ikut nggak?" memasang wajah memelas, berharap Zafran akan mengiyakan permintaannya.
"Nggak, kamu di rumah aja. Belajar!"
Senyum di wajah Tifani seketika luntur, gadis itu memanyunkan bibirnya, entah kapan suaminya itu akan memperlakukan dirinya seperti pasangan suami istri pada umumnya.
"Tapi aku udah pinter kok,"
"Pinter apaan?"
"Pinter dalam hubungan asmara," jawab Tifani seraya mengerlingkan matanya.
"Makanannya habisin," Zafran mengalihkan topik pembicaraan, ia memilih untuk pergi ke kamarnya.
__ADS_1
"Om, nggak jadi ke kafe?" teriak Tifani.
"Nggak!" balas Zafran tak kalah berteriak.
Zafran mendudukkan bokongnya di sebuah kursi kayu yang terletak di kamarnya, menopang dagu dengan satu tangannya, laki-laki itu tengah memikirkan nasibnya kedepannya.
"Dor!!"
Zafran terlonjak kaget ketika Tifani mengejutkannya, ia menatap tajam pada gadis yang kini tengah tertawa cekikikan.
"Om ngelamun? Mikirin aku yang punya wajah blasteran surga kan?" celetuk Tifani dengan bangganya.
"Aku tau kalau om bosen, gimana kalau aku hilangin kebosenan yang hakiki itu,"
"Cihh anak kecil bisa apa?" mulut Zafran kebablasan, ia mengatupkan bibirnya berharap Tifani tidak tersinggung karena perkataannya.
"Bisa gini!" melompat dan duduk di pangkuan Zafran, gadis itu menarik kerah suaminya agar menunduk. Mencium bibir sang suami dengan lembut, tindakan Tifani berhasil membuat Zafran terpaku.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1
Nyicil up✌ Lanjut kalau soal ulangannya nggak sulit😂 Bagi bunga sama kopi dong biar nggak ngantuk jawab soal, se-ikhlasnya aja😝