
"Ca, bawakan kopi ke ruangan saya!" titah Nathan ketika melihat Caca.
"Saya kasi kopi sianida aja ya pak!" Caca berteriak, membuat semua pengunjung menoleh ke arahnya.
"Iya, dengan senang hati!" mendengar ucapan Caca yang samar-samar karena ramainya pengunjung, namun hatinya terasa berbunga-bunga. Laki-laki itu mengira kata sianida tersebut adalah cinta.
"Ini kopinya pak," seraya meletakkan kopi di meja kerja Nathan, kini di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Zafran tidak pergi karena masih harus mengurus perkaranya bersama Tifani, begitu pula dengan Nindi yang sedang pergi ke butiknya.
"Tunggu!" Nathan melirik Caca yang sudah berada di ambang pintu.
"Ada apa lagi pak?" Caca membalikkan tubuhnya, ia masih berusaha sopan karena bagaimanapun juga, Nathan adalah atasannya. Ia juga mengubah gaya bicaranya agar lebih formal.
"Temani saya disini," pinta laki-laki itu seraya tersenyum lebar.
"Menemani bapak? Heh bapak pikir saya itu apa?"
"Kamu adalah masa depanku, calon istriku serta ibu dari anak-anakku," ucap Nathan seraya mengerlingkan matanya.
"Preeett, maaf saya nggak baper," Caca menatap sinis laki-laki yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
"Apa hatimu terbuat dari batu?" laki-laki itu terus berjalan mendekati gadis yang sudah mulai panik itu.
"B-bapak mau ngapain?" merasa gugup lantaran jarak diantara mereka hanya beberapa centi.
"Kamu cantik," Nathan membelai pipi yang terasa sedikit kasar.
__ADS_1
"Apa kau tak pernah merawat kulitmu?" mulut Nathan bablas mengatakan kalimat yang bisa saja membuat gadis di depannya tersinggung.
"Ck, apa sih! Nggak sempet, nggak punya duit juga buat begituan, bisa makan aja udah syukur!" Caca menepis tangan Nathan dengan kasar.
"Lalu bagaimana dengan tawaran aku kemarin?" tanya Nathan lagi.
"Nggak minat sama papa gula, maunya cowo belasan tahun,"
"Cihh seleranya jagung goreng," cibir Nathan.
"Jagung goreng?" Caca tak mengerti dengan ucapan Nathan.
"Apa lagi kalau bukan Grandong," Nathan berdecak membuat Caca tertawa, bisa-bisanya manusia aneh ini mengubah kata seenak jidat.
"Gimana ya..Bukannya enggak mau, tapi Om nya ketuaan, nggak cocok sama aku yang masih muda nan kece badai gini," membalas ucapan Nathan tak kalah pedas, Caca mengibaskan rambutnya dan berlalu meninggalkan bos nya itu.
"Akhh sialan!" mengumpat lantaran mata indahnya terkena sabetan rambut kusut Caca.
_
_
_
"Berapa umurmu?" tanya Zafran pada gadis yang duduk di sebelahnya seraya menikmati es krim.
__ADS_1
"Enam belas tahun," sahut gadis itu dengan mulut belepotan.
Astaga, demi apa cobak? Jodoh gue gini amat. Zafran mengacak rambutnya frustasi, melirik gadis yang akan menjadi pendamping hidupnya.
Bahkan lagi makan aja masih kayak bocah! Lagi-lagi ia menggelengkan kepalanya.
"Kenapa lirik-lirik Om? Aku cantik ya?" Tifani menaik-turunkan kedua alisnya.
"Hemmm," merasa malas menanggapi manusia PD tingkat akut itu.
"Terus kalau Om umurnya berapa?" tanya Tifani seraya menjilat tangannya membuat Zafran bergidik ngeri.
"Dua puluh delapan, udah kan? Sekarang kita pulang, bersihin tangan kamu pakai ini! Zafran memberikan tisu pada Tifani.
"Tua juga..Nanti kalau kita udah nikah, Om jangan cepet meninggoy ya," ucap Tifani dengan polosnya membuat darah Zafran mendidih, bisa-bisanya dia berfikir sampai ke sana.
"Hmm..Tapi kok, Om masih ganteng ya? Oplas dimana?" bibir tipis berwarna merah alami itu terus berceloteh membuat Zafran merasa jenuh.
"Sebenarnya apa maumu? Kenapa kamu berbohong?" pertanyaan yang seringkali muncul di benak Zafran selama ini, ia sangat penasaran kenapa gadis ini rela mengorbankan pendidikannya demi membuat sebuah kebohongan.
"Singkat saja, aku mau Om, sejak awal aku emang udah suka sama Om ganteng."
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Jempol mana jempol? Othor nggak doyan ceker, maunya jempol sama komentar😝✌
__ADS_1