Menikahi Sepupu Sahabatku

Menikahi Sepupu Sahabatku
Monyet


__ADS_3

Dia meninggal karena kecelakaan.


Entah ini musibah atau anugerah, namun jelas jika di benak Nathan dan Caca bersyukur karena hama pengganggu telah musnah dengan sendirinya. Kini acara pernikahan itu diganti dengan acara pemakaman jenazah Amanda. Meskipun semasa hidupnya dia telah berbuat kejahatan yang terlampau jauh, namun sebagai manusia yang memiliki hati nurani, mereka akan menguburkan Amanda dengan layak, mengantar ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Tak ada drama air mata ataupun teriak-teriak sambil memanggil namanya, kepergian Amanda terasa seperti orang asing yang tiba-tiba hadir di bagian dari mereka. Namun bukan berarti mereka tega atau tak berperasaan, lebih tepatnya mereka merasa iba dan sangat menyayangkan nasib yang menimpa Amanda.


"Gagal nikah lagi dong," Zafran menyenggol bahu Nathan membuat pria itu terperosok ke tanah.


"Lah kok jatuh? Ku kira kuat ternyata disenggol dikit nyungsep," lagi-lagi pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu menggoda Nathan.


Caca yang tak terima pun menendang Zafran hingga tercebur di lubang yang berlumpur.


"Papa.." cicit seorang anak kecil kemudian berjongkok di depan Nathan, tangan mungilnya mengusap wajah ayahnya yang terkena cipratan lumpur.


Tangannya berniat untuk memeluk tubuh kekar itu, namun diurungkan saat Nathan menatapnya horor.


Berdiri dengan rasa kecewa, Lisa tersenyum simpul namun menyiratkan kesedihan yang mendalam, kehilangan ibu kandung dan sekarang dibenci ayahnya.


"Nat, sini deh! Zafran juga ikut!" Nindi menyeret Nathan dengan sekuat tenaga, membawanya ke tempat yang jauh dari lokasi sebelumnya.

__ADS_1


"Lo kenapa sih? Lo punya hati nurani nggak? Dia anak lo Nat, darah daging lo sendiri. Ya meskipun dia lahir dari rahim seorang penjahat, tapi bukan berarti lo harus ikut membencinya!!" Nindi mengungkapkan kekesalannya, hatinya trenyuh saat melihat Nathan memperlakukan Lisa seperti orang asing.


Zafran mengangguk, mendukung penuh ucapan Nindi barusan, "Gue juga nggak habis pikir sama lo, bisa-bisanya lo kayak gitu. Enggak liat tadi betapa kecewanya Lisa? Kalau seandainya lo ada diposisi dia gimana?"


Nathan terdiam, otaknya mencerna setiap kalimat yang dilontarkan oleh sahabatnya. Merasa yang diucapkan mereka tak sepenuhnya salah, Nathan bergegas meninggalkan mereka dan kembali ke lokasi awal, sudut bibirnya terangkat, mendapati pemandangan yang menyejukkan hati. Dilihatnya istri tercintanya tengah bercengkrama dengan Lisa, begitu pula dengan Lisa yang terlihat antusias bersama ibu sambungnya.


_


_


_


"Om!!" teriak Tifani tepat di telinga Zafran, sambil memeluk erat pinggang suaminya, saat ini mereka tengah berada di perjalanan pulang.


"Kamu enggak papa kan? Bayinya baik-baik aja kan?" Zafran memarkirkan kuda besinya, mengusap perut Tifani seraya menatap sang empunya yang tengah menggerutu.


"Apa sih, bawa motor aja enggak becus! Untung aja nggak jatuh, kalau jatuh, terus keguguran, terus--"


"Ssssttt nggak usah dilanjutin. Tadi kenapa teriak?"

__ADS_1


"Mmm kita pinjem monyet itu boleh enggak ya?" jari telunjuknya mengarah pada seekor monyet yang sedang asyik menikmati buah-buahan yang memang disediakan oleh pemiliknya.


Zafran mengikuti arah telunjuk Tifani, "monyet?" ucapnya yang tak habis pikir dengan permintaan konyol Tifani.


Tifani mengangguk, "boleh kan? Tapi nggak usah ijin sama yang punya,"


"Ngepet? Duhh jangan aneh-aneh, kamu mau apa hmm? Apapun itu asal jangan monyet,"


Segala bujuk rayu diberikan pada istri kecilnya, namun bukan Tifani namanya kalau tidak keras kepala.


"Huwaaaa,"


"Ehh," Zafran menjadi panik saat tiba-tiba Tifani menangis walau tanpa air mata.


Demi membuat istrinya senang, Zafran menyanggupi permintaan Tifani. Diambilnya monyet itu yang memang sudah jinak, namun sialnya, monyet tersebut malah melompat ke kepalanya. Merogoh dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang seratusan, Zafran tak sepenuhnya menuruti keinginan Tifani yang memintanya untuk mencuri.


"Yok jalan..!!" menepuk punggung Zafran, wanita itu tertawa riang melihat monyet itu duduk di kepala suaminya.


"Tapi monyetnya?" Zafran merasa risih sekaligus malu karena menjadi tontonan warga, belum lagi monyet itu tampak mengacak-ngacak rambutnya.

__ADS_1


▪︎▪︎▪︎▪︎


Bersambung


__ADS_2