Menikahi Sepupu Sahabatku

Menikahi Sepupu Sahabatku
Cobaan Berat


__ADS_3

"Apa rencanamu kedepannya?" Nathan menatap gadis yang duduk di sebelahnya. Hari sudah menjelang malam, namun laki-laki mantan playboy itu masih tetap berada di rumah Caca meski berulang kali Caca menyuruhnya untuk pulang.


"Aku tidak tau," menjawab sekenanya karena memang dia bingung harus berbuat apa, jika dia kembali bekerja di kafe, lalu bagaimana dengan adiknya?


"Ikutlah bersamaku, kau juga bisa mengajak adikmu," ujar Nathan.


"Heh kau pikir aku itu apa? Udah deh jangan sok akrab, kita nggak sedekat itu ya, Om!" gadis itu menjawab dengan sedikit ketus, merasa jengkel dengan laki-laki dewasa yang lumayan tampan itu.


"Ya, kau benar Ca. Kau tau? Bahkan sahabatnya telah merusak adik sepupumu," seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.


"Paman..Bibi..!!" Caca bangkit dan berhambur memeluk wanita itu yang tak lain adalah bu Nur.


"Maaf bibi terlambat, tadi ada sedikit masalah di rumah, kamu yang sabar ya. Bibi tau kamu gadis yang kuat," ucap bu Nur seraya mengusap punggung keponakannya.

__ADS_1


"Iya tidak apa-apa bi, don't worry be santuy, hahaha," seraya melepaskan pelukannya, Caca menuntun bu Nur dan pak Aris agar ikut duduk di sebuah kursi kayu yang sudah rapuh.


"Mmm maaf tante, maksud dari ucapan tante tadi apa ya?" seraya menggaruk bagian belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal, Nathan sudah berusaha untuk mencerna ucapan ibu dari sahabatnya namun nihil, otak dengan kapasitas rendah itu tak mampu memahami maksud bu Nur.


"Kamu tau jika teman sesama gendengmu itu seorang pedofil?" ujar bu Nur dengan amarah yang sudah meletup-letup.


"Sudahlah bu, tidak perlu diperdebatkan lagi. Semua sudah terjadi, toh juga calon menantu kita nggak burik-burik amat. Dan sekarang, dia telah menanam bibit unggul di rahim putri kita," celetuk pak Aris dengan santainya, membuat amarah bu Nur semakin menggunung. Berbeda dengan dua manusia somplak yang masih melongo dengan otak yang sedang bekerja keras menerjemahkan kode-kode aneh itu.


"Tapi tetap saja merek henbodi keluarga kita tercemar!" lagi-lagi bu Nur mengeluarkan kata-kata anehnya, membuat Nathan hampir salto mendengar teka-teki yang keluar dari mulut mantan calon ibu mertua yang tidak jadi.


"Masalah citra keluarga, kita bisa atasi dengan menikahkan mereka," jawab pak Aris asal.


Di sebuah kamar dengan ukuran tiga kali tiga meter, tentunya ukuran kamar yang tidak cukup luas, ditambah lagi dengan pencahayaan yang temaram. Seorang laki-laki tampan tengah duduk menghadap jendela, menatap langit yang tampak mendung. Kilatan cahaya serta suara petir yang menggelegar rupanya tak membuat laki-laki itu tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


Apa yang harus gue lakuin?


Kembali memikirkan peristiwa mengerikan yang terjadi hari ini, niatnya menjadi pahlawan namun nahas malah berujung kesialan. Pukulan, tuduhan, cacian, secara bersamaan menghujam dirinya yang tak berdosa itu.


Ia beranjak lalu keluar dari kamarnya, mencari sesuatu yang bisa meredam panggilan alam dari perutnya. Ya, Zafran kelaparan, ia hanya sarapan nasi setengah basi dengan lauk seperti biasa, setelahnya ia sudah kenyang memakan gosip yang menudingnya berbuat tak senonoh. Sungguh kejamnya dunia melebihi ibu tiri.


Akhh sial! Gue lupa beli stok makanan!


Mengacak-ngacak rambutnya frustasi, alih-alih mendapatkan makanan, ia hanya mendapati beras yang sekiranya hanya satu gelas. Padahal rencananya tadi Zafran akan berbelanja, namun nasib sial menimpanya, alhasil malam ini dia tidur diiringi dengan nyanyian merdu dari perutnya yang memberontak minta diisi.


Biasalah😂 Puasa sekali nggak papa kali mas!😝


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


Like dan komentarnya mana euyy?? Yang kagak kasi like, ntar malem akohh gentayangin kleyan sambil minta jempol🤣


__ADS_2