Menikahi Sepupu Sahabatku

Menikahi Sepupu Sahabatku
Konflik Yang Belum Usai


__ADS_3

"Susulin nggak?"


Nindi menggeleng kemudian melihat ponselnya yang mendapat pesan dari sang suami. "Gue mau pulang, Sheila sakit," ujarnya seraya merapikan peralatannya.


"Terus gue gimana?" tanya Nathan sedikit berteriak.


"Mati aja!" ujarnya yang kini sudah menjauh.


"B*ngke!" laki-laki itu mengumpat, kemudian ikut mengemasi barang-barangnya. Rasanya sangat sepi jika hanya ada dirinya di ruangan itu, apalagi Caca sudah berhenti bekerja, kini dia menitipkan kafe pada orang kepercayaannya.


Di tengah perjalanan, Nathan berniat untuk membelikan makanan untuk Caca, ia memarkirkan motornya di sebuah warung makan.


"Kok tumben pulang jam segini mas?" tanya Caca melihat Nathan yang memasuki rumah.


"Iya dong, kan sekarang udah ada istri tercinta," ucap Nathan seraya mengerlingkan matanya.


"Prett," Caca tertawa renyah, ucapan suaminya barusan bagaikan sayur yang sudah dimasak kemarin.


"Kamu ngapain pakai baju kayak gitu?" Nathan sedikit kaget melihat penampilan Caca yang menguji imannya.


"Gerah," dengan sengaja Caca mendekati suaminya, sementara Nathan bersusah payah menahan hasratnya yang membuncah.


"Ca..." Nathan menatap Caca sayu, tubuhnya menegang ketika jemari lentik Caca menari-nari di dadanya.

__ADS_1


"Kenapa hmm?" Caca menggigit bibirnya sensual, dengan sengaja di akhir kalimatnya dibumbui dengan sedikit desahan.


"Emhhh Ca.." Nathan mendorong bahu istrinya kemudian menggeleng.


Caca tersenyum menyeringai melihat wajah Nathan yang sudah frustasi, namun bukannya kasihan, gadis itu semakin gencar menjahili suaminya.


"Jangan gini Ca, nanti aku takut kebablasan," nafas lelaki itu tercekat, seakan pasokan oksigen di rumah itu menghilang seketika.


"Kenapa? Kan kita udah sah?"


"Karena kamu lagi haid,"


"Siapa bilang?" wajah yang layu itu berubah menjadi segar bak tanaman yang mendapat air di musim kemarau.


Dengan gesit Nathan membopong tubuh Caca menuju kamarnya, kebetulan rumah itu sedang sepi. Nathan memang belum memiliki rumah sendiri, namun secepatnya dia akan pindah dan membeli rumah dengan hasil kerja kerasnya selama ini.


"Lakukanlah," Caca tersenyum seiring dengan jarinya yang mulai melepaskan satu persatu kancing kemeja Nathan.


_


_


_

__ADS_1


"Tolong jangan salah paham Fan.." Zafran menatap Tifani yang berada di dalam kungkungannya, gadis itu masih saja menangis.


"Salah paham bagaimana hah? Kalau Om nggak suka sama aku, setidaknya Om jangan selingkuh!!" Tifani berteriak, dia masih mengira jika Zafran bermain di belakangnya.


"Atas dasar apa kamu menuduhku selingkuh? Apa yang kau lihat tadi sudah cukup menjadi bukti? Aku harus bagaimana hmm? Kurang baik apalagi diriku? Bahkan aku sudah bersedia menerima anak haram itu!!" balas Zafran tak kalah berteriak, setiap kata-katanya penuh dengan penekanan.


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi pria itu, hati Tifani merasa ngilu mendengar ucapan suaminya, apalagi dia menyebut darah dagingnya sendiri sebagai anak haram. "Om keterlaluan!!" lirihnya.


Zafran tersenyum iblis, dia mengangkat dagu Tifani kemudian berucap, "lalu apa jika bukan anak haram? Mengingat dirimu yang ingin menikah denganku memakai cara licik begitu, aku jadi ragu tentang kesucianmu, sudah berapa banyak laki-laki yang telah menjamah tubuhmu hmm?" pria itu membelai pipi Tifani.


"Cukup! Hentikan omong kosongmu! Jika itu yang ada di pikiranmu, sekarang kita buktikan!!" dengan sekuat tenaga Tifani mendorong tubuh Zafran kemudian membuka pakaiannya.


Zafran terperanjat, melihat istrinya yang sudah polos tanpa sehelai benang pun, beberapa kali pria itu tampak menelan ludah, melihat tubuh sintal lumayan berisi itu, apalagi kini dia tengah mengandung.


"Ayo lakukan!" Tifani menantang, meskipun hatinya menjerit takut akan sakitnya yang ia rasakan nantinya.


"Baiklah," merasa sudah kepalang tanggung, Zafran kembali menyetubuhi istrinya, meskipun dalam keadaan emosi, namun Zafran masih melakukannya dengan tempo pelan mengingat ada janin yang bersemayam di rahim istrinya.


Namun kini dia merasa sedikit bersalah, melihat Tifani yang menangis kesakitan, ditambah lagi dengan tuduhan kejinya barusan.


"Maaf," hanya itu yang keluar dari bibir Zafran seraya mengusap air mata Tifani.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


Mantep nih, mumpung nanti malam jumat🤣


Btw hubungannya sama malam jumat apaan? Mangap nih yee, Othornya masih polos, engga tau apa-apa, itu kata-katanya sering nemu di novel lain, kaboorr ahh🏃‍♀️


__ADS_2