
Tak terasa waktu bergilir begitu cepat, namun setiap harinya selalu terasa berat, semua tengah dirundung rasa penasaran, berharap jika itu tidak benar. Nathan sudah melakukan tes DNA beberapa hari yang lalu, kini tinggal menunggu hasilnya, dia benar-benar berharap jika hasilnya tidak ada kecocokan. Memikirkan rumah tangganya yang sudah diujung tanduk, semenjak pengakuan itu, kini tak ada lagi keromantisan serta keharmonisan yang dulu selalu menghiasi bahtera rumah tangganya.
Tak jauh berbeda dengan Nathan, Caca benar-benar merasa linglung, tidak tahu akan bagaimana menghadapi rintangan selanjutnya, separuh jiwanya telah menghilang, merasa tidak ada harapan lagi. Wanita itu hanya duduk terdiam berteman sepi, tidak ada senyuman yang nampak di wajahnya, hanya wajah datar tanpa ekspresi.
"Ca..." panggil Nathan seraya mendudukkan bokongnya di tepian ranjang, namun tak ada reaksi dari Caca membuat Nathan hanya bisa menghela nafas.
"Makanlah, sejak kemarin kamu makan tidak teratur," tangan kekar nan putih itu hendak menyuapi Caca, namun lagi-lagi wanita itu menepisnya.
Nathan berdiri kemudian melempar piringnya ke lantai, membiarkan makanan itu berserakan, Caca benar-benar menguji kesabarannya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Nathan berlalu meninggalkan Caca yang masih dengan keterkejutannya. Pria itu meringis, ketika tanpa sengaja pecahan piring itu mengenai kakinya yang memang tidak memakai alas, darah segar tampak berceceran, namun sebisa mungkin dia bersikap biasa saja.
Caca termenung, mulai merasa bersalah karena belakangan ini dia sudah bersikap keterlaluan pada suaminya. Yang terjadi sekarang adalah perbuatan tak sengaja Nathan di masa lalu, jika dilihat di masa sekarang, Nathan mencintai dan menyayanginya dengan tulus sepenuh hati, namun pikiran buruk kembali berkelana di hati kecilnya, akankah sikap Nathan akan sama seperti sekarang di masa mendatang.
Wanita itu bangkit dari posisinya, berjalan dengan hati-hati mencari kehadiran sang suami. "Mas.." pertama kalinya semenjak kejadian nahas itu, Caca kembali memanggil Nathan.
__ADS_1
Hatinya nelangsa, antara tidak tega dan takut. Dilihatnya Nathan yang tengah duduk di sofa kecil seraya mengobati kakinya. Dengan langkah pelan, Caca menghampiri Nathan.
"Maaf.." tubuhnya meringsek di dada bidang Nathan, menenggelamkan wajahnya di sana, Caca menangis tersedu-sedu.
"Tidak apa-apa. Sudahlah, jangan menangis," ucap Nathan lembut seraya membelai rambut wanita terkasihnya.
Bukannya berhenti, tangis Caca semakin menjadi, memikirkan betapa beruntungnya memiliki suami seperti Nathan, namun ia tidak rela jika harus berbagi.
Cup
Benda lunak nan basah itu mendarat di bibir ranum istrinya, memberi sensasi kelembutan serta ketenangan pada Caca, tak peduli lagi dengan kakinya yang masih menganga mengeluarkan darah serta pintu rumah yang terbuka, apalagi mereka melakukannya di ruang tamu. Perlahan ciuman sekedar iseng itu menjadi menggairahkan.
"Astaga..." Zafran yang tiba-tiba masuk mengusap dadanya kemudian menarik tangan Tifani.
__ADS_1
"Ada apa Om?" Tifani yang belum sempat melihat adegan drakor versi lokal itu pun bertanya-tanya.
"Tidak ada, kita pulang saja," Zafran berbisik agar tidak mengganggu dua insan yang tengah bercumbu ria.
Tifani yang masih penasaran pun berbalik, mengintip dari balik pintu, perempuan itu terkejut melihat sahabat suaminya sedang mengungkung tubuh kakak sepupunya.
"Hahh vanashh, Om kita pulang aja. Mendadak aku mau kayak mereka juga," Tifani menunduk seraya menarik tangan Zafran, menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan malu, meskipun dia sering melihat adegan nganu secara virtual, tapi belum pernah melihat secara Live Streaming, jika mempraktekkan itu beda cerita.
Zafran menahan tawanya, sebisa mungkin menjaga mulutnya agar tidak menggoda istrinya yang tengah malu, namun hatinya bersorak gembira karena mendapat jatah setelah sekian lama berpuasa.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Kalau aku buat cerita di platform HotBuku, kira-kira ada yang mau baca enggak ya🥺
__ADS_1