
Kami tidak bisa menyelamatkan janinnya.
Bagaimana rasanya kehilangan calon bayimu hemm? Dan itulah yang aku rasakan dulu, kehilangan sosok anak yang bahkan belum terlahir, dan sekarang aku kembali bersama anakmu yang telah kau tinggalkan selama tiga tahun.
Nathan menjambak rambutnya sendiri, kalimat itu terus berputar di kepalanya, dadanya bergemuruh, melihat sebuah foto anak kecil berjenis kelamin perempuan berusia tiga tahun. Memperhatikan setiap inci wajahnya, memang mirip dan Nathan takut jika itu memang putrinya dari hasil perbuatan khilaf tanpa sengaja tiga tahun lalu. Tak ada yang tau jika sebenarnya Nathan menyimpan rahasia besar dari orang-orang terdekatnya.
"Mas..." suara Caca yang terdengar samar-samar tak mampu menyadarkan suaminya dari lamunannya.
Caca kembali memanggil Nathan dengan sedikit keras. "Kau sudah bangun?" pria itu mengusap pucuk kepala istrinya kemudian beralih mencium jari jemari Caca.
Caca mengangguk, tangannya meraba perutnya yang memang masih datar. Wanita itu teringat akan suatu hal, tangisnya pecah saat Nathan menceritakan semua kejadiannya.
Beberapa jam yang lalu..
"Sayang, tunggu aku!" Nathan terus mengejar Caca, namun tiba-tiba dia teringat jika belum mengunci pintu rumahnya. Kebetulan hari ini toko kuenya sedang tutup karena Nathan sedang tidak enak badan.
Namun saat Nathan kembali, dia tak mendapati kehadiran Caca padahal dia hanya pulang sebentar. Perasaannya menjadi tidak tenang karena sepanjang perjalanan tak ada orang yang melintas, apalagi karena musim hujan yang membuat para warga enggan untuk keluar rumah.
__ADS_1
Di tengah kepanikannya, ponselnya berdering, namun setelahnya telepon pintar berlogo apel gigit itu dibiarkan mendarat di aspal. Dunianya seketika hancur, aliran darah seakan berhenti mengalir, tubuhnya melemas, melihat sebuah foto yang memperlihatkan istrinya berada di suatu tempat dengan keadaan terikat, lebih parah lagi dengan darah yang mengalir di kakinya.
Buru-buru Nathan menghampiri lokasi itu, dia tidak menemukan orang lain selain istrinya yang sudah tak sadarkan diri, tangannya mengepal melihat sebotol minuman keras dengan kadar alkohol tinggi tergeletak di lantai.
Semua tercengang, saat dokter menyatakan bahwa Caca keguguran. Wanita itu telah dicekoki minuman yang sudah dicampur obat, ingin marah tapi sama siapa. Nathan benar-benar terpuruk.
"Papa..."
Nathan yang tengah terbengong tak menyadari jika seorang anak kecil menghampirinya.
"Dia putrimu!"
Deg
Nathan memejamkan matanya, berusaha mengatur nafasnya agar tidak tersulut emosi. Ditatapnya wanita cantik berhati iblis yang telah melenyapkan calon bayinya. Pria itu tau jika dalangnya adalah wanita yang kini tengah tersenyum, tangan Nathan menepis tangan anak perempuan itu.
"Putriku? Rasanya tidak mungkin aku menanam benih di rahim seorang pembunuh!" Nathan tersenyum sinis, tak peduli dengan anak kecil itu yang sudah menangis ketakutan.
__ADS_1
"Lisa, kemari sayang!" wanita itu mendekap putrinya yang tengah gemetaran.
"Mas.." Caca yang mendengar keributan pun terbangun dari tidurnya.
"Mereka siapa?" Caca menunjuk kedua orang yang dirasa asing itu.
Wajahnya kenapa mirip Mas Nathan? diam-diam Caca memperhatikan Lisa yang masih menangis, pikiran buruk mulai bersarang di kepalanya, takut jika itu adalah memang anak dari suaminya.
"Aku adalah wanita yang dibuang oleh suamimu setelah dia menghancurkan semuanya, dan dia adalah anak kami,"
"Anak kami?" Caca melirik Nathan yang hanya menunduk, pria itu benar-benar kacau.
"Ya, dia adalah anak dari suamimu!"
▪︎▪︎▪︎▪︎
Penjelasan di chapter selanjutnya yee.. Mungkin bentar lagi novel ini bakal tamat, tergantung kalian yang masih ingin lanjut atau udahan aja. Aduhh kek mau putus sm doi aje🤣
__ADS_1