Menikahi Sepupu Sahabatku

Menikahi Sepupu Sahabatku
Zafran Mabuk


__ADS_3

"Menikahlah dengan Nathan, umur ibu sudah tidak muda lagi, ibu sudah sangat ingin mempunyai cucu, kasihanilah ibu Nak."


"Kak, bulan depan aku udah ujian, nanti setelah lulus, aku lanjut sekolah atau kerja?"


Caca menatap langit-langit kamarnya, kembali memikirkan ucapan wanita paruh baya yang tak lain adalah bu Leli beserta adiknya. Bingung, gadis itu tak tau harus apa, melihat kondisi ibu dari bos nya yang cukup memprihatinkan, gadis itu tidak sadar bahwa itu hanyalah trik. Lalu pikirannya beralih pada remaja tampan yang berstatus adiknya, keinginannya untuk menyekolahkan adiknya terasa hanya sebuah angan-angan, namun ia juga tidak mau jika Radit putus sekolah. Ia tidak mau sampai tanggung jawabnya merembet ke orang tua Nindi yang sudah berbaik hati mau memberinya tempat tinggal dan makan.


"Ayah..Ibu, kenapa kalian pergi terlalu cepat? Caca lelah, Caca nggak sanggup..Apa Caca harus menerima tawaran ibu tadi?" gumam gadis itu, tak terasa bulir-bulir bening perlahan membasahi pipinya, Ia tak setegar yang orang lain kira, jiwa periang hanyalah pemanis belaka untuk menutupi nestapa yang bersemayam di dalam dirinya.


"Kau tidak perlu memaksakan hal itu, aku bisa mendapatkanmu dengan caraku sendiri,"


Caca mengusap kasar air mata serta ingusnya menggunakan tangannya, mengerjap-ngerjapkan matanya, apakah dia sedang berhalusinasi? Rupanya tidak, ini memang nyata, seorang laki-laki yang selalu mengusik ketenangannya, tengah berdiri seraya bersedekap.


"Pak Nathan!" Caca terlonjak, ia segera menutup mulutnya ketika sadar jika kamarnya bersebelahan dengan kamar bu Nur dan pak Aris.


"Kenapa bapak bisa masuk?"


"Bodoh! Lalu ada jendela buat apa?" Nathan menyentil kening Caca.

__ADS_1


Sementara itu, di sebuah rumah terdapat wanita paruh baya yang tengah memikirkan aksinya beberapa hari yang lalu.


"Selamat berpusing ria calon menantu, hahaha..Don't play play bosku." wanita itu tergelak seraya bertepuk tangan membuat suaminya terheran-heran.


_


_


_


Tifani menghela nafas gusar, malam hampir larut, namun sang suami belum menapakkan lubang hidungnya. Berkali-kali ia melirik jam dinding hingga lehernya terasa pegal, bukan pertama kalinya Zafran seperti ini. Beberapa hari telah berlalu, akan tetapi hubungan mereka tak menunjukkan adanya kemajuan, justru semakin memburuk. Dimana Zafran sering pergi pagi dan pulang larut malam, laki-laki itu seakan menghindar darinya, sebagai seorang istri, tentu saja Tifani khawatir, namun ia tidak berani bertindak gegabah yang bisa menyebabkan Zafran semakin menjauhinya.


"Hei siapa kau!" Zafran berjalan sempoyongan.


"Om mabuk ya?" Tifani mulai was-was ketika Zafran mendekatinya, sorot matanya tajam bak hewan buas yang akan mencabik-cabik mangsanya.


"Kenapa kau menjauh hmm? Aku tanya, siapa dirimu? Kenapa wajahmu sangat manis?" Zafran memperhatikan Tifani meski sedikit buram, kemudian ia mengangkat dagu istrinya.

__ADS_1


"Aku istrimu," jawab Tifani cepat.


"Benarkah? Kapan aku menikah? Apa kau sedang bergurau?" Zafran terkekeh, namun ucapannya itu berhasil melukai perasaan Tifani.


Sebegitu tidak pentingnya pernikahan kita hingga semudah itu kamu melupakannya? Batin Tifani tertawa miris, bukan ini yang dia mau, setiap hari dia tak hentinya berharap agar suaminya bisa mencintai dirinya apa adanya.


"Tapi aku memang istrimu," gadis itu tetap kekeuh meyakinkan suaminya yang berada di bawah pengaruh minuman keras.


"Baiklah..Baiklah, kalau begitu, sekarang puaskan aku," tatapan tajam itu berubah menjadi tatapan yang penuh nafsu, Zafran menarik paksa tubuh mungil itu dan menghempaskannya di tempat tidur yang berukuran tidak terlalu luas.


"Auuwhh," Tifani meringis, pertama kalinya ia melihat suaminya bengis seperti ini, kini gadis bar-bar itu terlihat ketakutan saat Zafran melepaskan pakaiannya.


"Om..." lirih Tifani yang berada dalam kungkungan suaminya, ia benar-benar takut, mau berontak pun percuma. Hatinya berdenyut, hanya bisa menangis ketika suaminya benar-benar merenggut kesuciannya, sungguh di luar dugaan. Memang tidak ada yang salah, namun Tifani ingin jika Zafran melakukannya dalam keadaan sadar. Kini kamar sempit itu menjadi saksi bisu insiden seorang suami yang memperk*sa istrinya sendiri.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Alamakkk ngeri amat aku nulis part TiZaf😬 Habis ini konflik dulu yee. Konfliknya cuma di pasangan yang udah sah kok, yang masih PEDEKATE yaudah lanjut dulu, nanti aku kasi masalah kalau udah nikah🤣

__ADS_1


Btw hari ini aku genap 17 tahun, engga ada yang mau kasi ucapan selamat birthday gitu?😂 Hadiahnya kasi bunga atau kopi😝 Doa'in juga biar ulangannya ttp lancar dan hasilnya juga memuaskan, lagi 6 mapel🤧


__ADS_2