Menikahi Sepupu Sahabatku

Menikahi Sepupu Sahabatku
Hasil Tes


__ADS_3

Hasilnya positif, Lisa memang putri anda pak.


Mengerjap-ngerjapkan matanya, merasakan desir angin yang meniup wajahnya, rasa pusing menjalar di kepalanya. Perlahan Nathan mulai mengenali orang-orang disekitarnya. Setelah mendapat hasil tes DNA dan mendengar penjelasan dokter, pria itu langsung tak sadarkan diri.


"Bagaimana mungkin?" gumamnya seraya memperhatikan Lisa yang menatapnya juga.


"Papa kenapa?" dengan perasaan sedikit takut, Lisa memberanikan diri untuk mendekati Nathan yang masih terbaring di tempat tidur.


"Siapapun bawa dia keluar!" ujarnya dingin membuat Lisa mengurungkan niatnya untuk menyentuh tangan Nathan.


"Fan, kamu ajak Lisa ya," pinta Zafran pada istrinya, mengingat mereka sama-sama anak kecil yang tidak pantas mendengar obrolan orang dewasa.


"Oke!" mengacungkan jempolnya, Tifani meraih tangan Lisa dan mengajaknya keluar dari ruangan itu.


Sepeninggal Tifani dan Lisa, suasana kembali hening namun terasa mencekam. "Sekarang bagaimana?" Nathan membuka suara tanpa mengalihkan pandangannya, matanya menatap lurus ke depan.


"Seperti di awal, kalian harus menikah!"


Lagi dan lagi, tubuh Caca mundur ke belakang. Meskipun sudah tahu jika ini yang akan terjadi, namun hatinya tidak siap. Ingin pergi tapi tak rela, bertahan pun tak kuasa.


Nindi menggenggam erat tangan Caca, "lo yang kuat, jangan kalah sama si lampir itu!" bisik Nindi seraya menatap sinis pada Amanda yang tengah berdiri sambil bersedekap.


"Kita adakan acaranya dua hari lagi, tetapi tidak ada resepsi!" ujar ayah Nathan kemudian keluar dari kamar putranya. Begitu pula dengan yang lainnya kecuali Reza, Nindi, dan Zafran.


Nathan mengacak rambutnya dan membenturkan kepalanya di dinding. Seperti manusia yang kehilangan akal, dia mencakar dan memukul dinding yang tak bersalah itu.

__ADS_1


"Heh ngapa lo? Kesurupan?" Nindi memukul kepala Nathan dan menendang bokongnya.


"Aduh! Lo apa-apaan sih?" mengusap bokongnya yang terasa ngilu, tangannya meremas udara di depan wajah Nindi.


"Elo yang apa-apaan, niatnya apa cobak!" wanita itu menggerutu seraya mengambil Vano yang rewel di gendongan Reza.


"Eeee jangan emosi.... Sabaar, nih minum dulu." Zafran menyodorkan dua botol air mineral pada Nindi dan Nathan.


"Lo mau?" tanyanya pada Reza.


"Enggak."


Nathan melempar botol itu sembarangan, "Gue mau sianida. Buruan ambilin!"


"Nindii..!!" Nathan menatap sahabatnya kesal, saat ingin balas dendam, rupanya ada si kecil Sheila yang juga menatapnya tajam.


Sementara Caca, wanita itu berjalan tak tentu arah, matanya melotot saat Amanda tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Hai, kamu enggak papa kan? Jangan sedih dong, tenang aja, aku enggak rebut suami kamu kok," menyenggol bahu Caca dengan sengaja, Amanda tersenyum menyeringai dan meninggalkan Caca yang masih menahan amarah.


"Sabar Ca... Dia orang gila, nggak usah diladenin," gumam Caca.


"Tante namanya siapa?" tanya Lisa pada Tifani yang duduk di sebelahnya.


"Aduhh Tante, panggil kak Fani aja ya," Tifani tak terima.

__ADS_1


"Iya kak. Emm kok perutnya ndut ya?" tangan mungilnya mengelus perut Tifani yang sudah mulai menonjol.


"Hehehe, soalnya disana ada dede bayi,"


"Mana? Kok enggak ada? Boleh ngintip enggak?"


"Ehh!!" Tifani terkejut saat kepala bocah itu memasuki kausnya yang kedodoran.


"Emm Lisa, keluar ya. Nanti dede bayinya nangis," pinta Tifani yang sebenarnya tidak nyaman.


"Iyakah? Maaf ya dede bayi," Lisa kembali ke posisi semula, bibir tipis berwarna merah muda itu mulai berceloteh.


"Tau nggak kak? Aku seneeng banget bisa ketemu papa, sebenernya aku takut sama mama, dia galak dan sering pukul aku.." kepalanya menunduk seraya memainkan jari jemarinya.


"Ha?" Tifani tercengang, merasa tak percaya jika Amanda bisa seperti itu pada anaknya sendiri.


"Anak yang baik, tapi tidak dengan ibunya," Caca yang sedari tadi melihat itu tersenyum miris.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Caca nangiiss~~~


Ku tertawa~~


Follow Ig akohh @dee__ary

__ADS_1


__ADS_2