
Entah sudah berapa jam laki-laki itu berdiri di depan cermin, memastikan jika penampilannya sudah paripurna, ia sama sekali tak membiarkan sehelai rambut pun yang berantakan. Bahkan dia sampai menghabiskan satu botol minyak urang aring, bukan semuanya, ia hanya menggunakannya setengah dan sisanya tumpah. Nathan, laki-laki itu hari ini berencana untuk mengajak calon istrinya berkencan, pernikahannya akan digelar beberapa minggu lagi, dan dia sekarang ingin lebih mendekatkan diri pada gadis itu.
"Kak, mau kemana?" tanya Nia melihat penampilan kakaknya yang sedikit aneh, belum lagi aroma parfum yang menyengat membuat Nia hampir muntah menghirupnya.
"Kepo aja, mending belajar sono!" ucapnya seraya mendorong bahu sang adik agar menepi.
"Kak..." celetuk bocah itu lagi.
"Apa?" jawab Nathan tanpa menoleh.
"Sejak kapan model celana jeans berlubang di area ******? Itu dal*man kakak kelihatan warna orange," tangan mungil itu menunjuk bagian celana Nathan yang bolong, entah itu memang sengaja atau ulah tikus-tikus nakal.
Laki-laki itu menoleh, melihat bagian belakang celananya, seketika Nathan menggunakan kedua tangannya untuk menutupi benda menggelikan yang tak sepantasnya dilihat orang lain meskipun adiknya sendiri.
"Tau apa kamu, ini namanya celana kekinian, lagi trend tau!" Nathan mencoba menutupi rasa malunya, ia berlari menuju kamar untuk mengganti celananya, untung saja dia belum keluar dari rumah. Mengobrak-abrik isi lemarinya, Nathan mengumpat ketika mendapati pakaian yang biasa dipakai untuk berkencan tidak ada yang beres, ada yang bau pesing dan tak sedikit pula yang robek di bagian tertentu.
"Akhh enggak mungkin gue pakai celana yang biasa saat pergi ke kafe, nanti dikira enggak bisa beli pakaian sama Caca," diam sejenak, tiba-tiba terlintas ide untuk meminjam pada Zafran, kebetulan mereka mereka memiliki postur tubuh yang hampir sama.
_
_
__ADS_1
_
"Mau apa?" tanya Zafran saat melihat sahabatnya berdiri seraya tersenyum lebar.
"Mmm bisa ngobrol berdua enggak?" Nathan sedikit kikuk melihat Tifani yang memperhatikan mereka, namun justru ucapannya barusan membuat Zafran dan Tifani semakin kebingungan.
"Fan, pinjem suaminya, aku bukan pelakor kok, janji nggak bakal godain dia," ucap Nathan kemudian menarik Zafran agar menjauh dari Tifani.
Setelah dirasa cukup jauh, Nathan pun mengutarakan maksud kedatangannya. "Zaf, pinjem celana!"
"Hah?" Zafran melongo, mendengar permintaan konyol sahabatnya.
"Pinjem celana buat kencan..!!" teriak Nathan lantaran merasa gemas.
Akhirnya setelah melewati beberapa rintangan dan cobaan, Nathan tiba di rumah Caca, laki-laki itu tersenyum senang melihat Caca tengah bermain dengan anak-anak Nindi tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
"Hai Ca!" sapa Nathan seraya tersenyum manis, sontak mereka menghentikan aktivitasnya dan melihat Nathan.
"Um ila.!!!" seru Sheila ketika melihat Nathan, bahkan bocah menggemaskan itu sampai bertepuk tangan, bak menyambut artis papan triplek di atas red keramik.
"Enak aja ngatain aku Om gila, minta digibeng nih bocah!" Nathan mengangkat Sheila dan mencium bayi itu hingga tertawa terpingkal-pingkal.
__ADS_1
"Mau apa pak?" tanya Caca seraya memangku Vano yang sedari tadi hanya diam.
"Mau ngajak kamu kencan," jawab Nathan lalu menurunkan Sheila, namun ada yang aneh, bayi itu tidak mau turun dari tubuhnya.
"Habis makan apa ni bocah, tumben sampai enggak mau turun," Nathan ikut duduk di teras rumah bu Nur.
"Aduh Vano, jangan disana, kasihan Om nya!" Caca melihat Vano yang merangkak menuju Nathan, rupanya bayi itu sama sekali tak mendengarkan Caca.
"Biarin aja Ca, enggak papa kok," Nathan mendudukkan Vano di sebelah Sheila.
"Jadi gimana Ca?"
"Aku nggak bisa Om, tadi pagi kak Nindi kesini nitip Sheila sama Vano, katanya suaminya lagi sakit. Terus Om Aris sama Bibi Nur udah ke kebun," jawab Caca jujur.
Raut wajah Nathan langsung berubah kusut, niatnya membuat kejutan, justru dia yang terkejut karena setelah perjuangannya sampai titik keringat penghabisan, namun ternyata semuanya sia-sia.
"Ya sudah.." jawab Nathan dengan lesu, namun seketika ia tercengang ketika merasakan sesuatu yang hangat membasahi celananya, belum lagi dengan Vano yang tiba-tiba menangis.
Aku kuat, aku tabah...
"Ya ampun, Sheila..." Nathan mendesah, melihat keganasan serta kejahilan Sheila, selain mengompol, bayi itu juga mencakar dan mencubit kembarannya.
__ADS_1
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Maaf jarang update, selain jadi siswi & tukang halu, Othor juga berprofesi jadi pedagang dari beberapa hari yang lalu, ehekk gaya doang profesi😝 Jadi mohon permaklumannya❤❤