
Mengintip dari balik pohon besar, Nathan terus memperhatikan gelagat aneh sang ibu, sebelumnya bu Leli menelepon bu Nur, entah apa yang ia bicarakan, Nathan tak tahu menahu soal itu lantaran ia tidak diberi kesempatan untuk menguping.
"Semoga aja ibu nggak ngelakuin hal yang aneh-aneh," Nathan semakin terkejut tatkala melihat Caca sedang menjemur pakaian di halaman rumah bu Nur.
"Saatnya beraksi," bu Nur mulai melancarkan aksinya, ia berjalan gontai bak seseorang yang tidak makan selama seminggu.
"Permisi..." bahkan suaranya pun dibuat seperti manusia sekarat. Wanita itu tersenyum ketika melihat calon menantunya memiliki paras yang cantik.
Mendekati kriteria, bodynya juga aduhai, sebelas dua belas lah sama aku pas masih muda. Batin bu Leli memperhatikan setiap jengkal tubuh Caca.
"Iya buk? Ada apa ya? Mau minta sumbangan atau minta makan," tanya Caca sedikit sopan.
Cantik tapi minim akhlak, kalau bukan calon mantu, udah aku ajak adu mulut! Bu Leli mengumpat di dalam hati.
"Mau ngelamar kamu..Ehh salah, mau nyari perempuan yang namanya Gatot Baja, ehh aduhh salah lagi, maksudnya Caca," ujar bu Leli seraya menampar mulutnya.
"Caca Jessica maksud ibu?" Caca memastikan.
__ADS_1
"Ibu nggak tau Caca siapa, tapi sesuai foto yang ada di handphone merek apel digigit punya anak saya, wajahnya itu mirip kamu," wanita itu menjelaskan dengan antusias.
"Ooo..Kita ngobrol di dalam aja ya buk."
Di tengah keasyikannya memainkan peran sebagai mak comblang dengan caranya sendiri, di luar rumah terdapat laki-laki tampan yang dirundung rasa penasaran.
"Ngintip apa Om?"
"Ehh," laki-laki itu terlonjak kaget, dilihatnya seorang remaja berseragam putih biru yang juga menatapnya dengan tatapan menelisik.
"Bukan ngintip, cuma lagi ngadem, kamu adiknya Caca kan? Kok nggak sekolah? Bolos?" Nathan berkilah dengan mengalihkan pembicaraan, ia juga penasaran kenapa bisa Radit berada di luar sekolah padahal sekarang masih jam sekolah.
"Gurunya mau rapat, besok juga udah mulai ulangan, makanya dipulangkan lebih awal," menjelaskan dengan apa adanya, tetapi bagi Nathan seperti ada sesuatu yang mengganjal di remaja itu.
"Fan.." panggil Zafran dengan suara berat, mencoba menahan hasrat yang bergejolak, meskipun mereka sudah sah, namun Zafran tak mau melakukan hubungan intim mengingat umur Tifani masih terlalu muda.
"Iya Sayang.." Tifani menjawab dengan suara manja yang dibuat-buat, sangat berbeda dengan Zafran, ia justru gencar untuk menggoda suami tuanya.
__ADS_1
"Turun ya, nggak enak posisinya kayak gini," pinta Zafran lantaran tak kuasa dengan sentuhan-sentuhan kecil dari tangan istrinya, ia takut jika nanti tidak bisa mengontrol dirinya lagi.
"Emmm.." Tifani mengangguk dan turun dari pangkuan Zafran, sebisa mungkin ia menahan tawanya agar tidak pecah melihat wajah tersiksa suaminya. Ia tahu jika sedari tadi ada yang tegak tapi bukan keadilan.
Melihat Tifani yang kini sudah duduk di tepi ranjang, buru-buru Zafran pergi ke kamar mandi. Namun nahas, karena saking paniknya, kaki jenjangnya malah tersandung.
"Hahaha..!!" Tifani tertawa terpingkal-pingkal, bukannya membantu suaminya yang tergeletak di lantai, ia justru sibuk menertawainya.
Baru satu hari, apa mungkin sepuluh tahun kedepan gue masih hidup? Batin Zafran meringis, ingin dia menangis jika saat ini tidak ditemani sang istri yang katanya manis.
"Om lucu banget sih, sini aku bantuin," setelah puas menertawakan suaminya, Tifani mengulurkan tangannya untuk membantu Zafran berdiri.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Bersambung
Baru kelar 5 mapel, 1 mapel udah anjlok🤧 Maaf kalau chapter kali ini kurang seru, belakangan ini aku kurang enak badan, kalau natap ponsel lama-lama malah pusing.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya😘😘