
Menghentak-hentakkan kakinya kesal, sudah mendekati hari pernikahan, namun sekalipun Nathan tidak bisa mengajak Caca sekedar jalan-jalan. Hingga tanpa sadar, pernikahan mereka akan digelar esok hari, dimana pada saat itu dia resmi menjadikan gadis pujaan hatinya sebagai pendamping hidupnya.
"Besok lo nikah, ngapain sekarang kesini? Udah kayak anak perawan yang dikawinin paksa aja," cibir Zafran ketika melihat kedatangan Nathan. Seperti biasa laki-laki itu nampak berseri-seri.
"Kebanyakan nyengir ntar gigi lo kering," Nindi bergurau, kebetulan dia juga ada disana karena memang ada hal yang perlu dikerjakan.
"Julid banget sih, yang satunya Om pedo, yang satunya admin lambe turah!" dengan seringai kemenangan, Nathan berhasil membungkam mereka berdua.
"Besok kan gue nikah nih, gue minta hadiah sama kalian, hitung-hitung karena udah mau jadi sahabat lo pada," Nathan menaik-turunkan kedua alisnya.
"Tenang aja, gue udah siapin dari jauh-jauh hari," seketika Nindi dan Zafran bersitatap, hampir saja mereka tertawa mengingat hal gila yang kemarin dilakukan.
"Wahh hadiah apaan? Rumah? Kendaraan atau lahan pertanian?" celetuk Nathan antusias dengan mata yang berbinar-binar.
"Rahasia lah, intinya lebih wah dari yang lo sebutin tadi," ucap Zafran karena melihat Nindi yang sudah tak mampu berkata-kata, menahan tawa yang hampir meledak, apalagi saat melihat wajah Nathan.
__ADS_1
Sementara di sebuah ruangan gelap, terdapat dua orang pria yang sedang membicarakan sesuatu, hubungan mereka terlihat seperti sahabat. Dengan sebatang rokok di tangannya, pria itu tersenyum menyeringai kemudian tertawa.
"Rupanya sebentar lagi dia akan menikah, bagaimana jika kita beri kado spesial agar hari itu menjadi hari yang paling bersejarah?" pria misterius itu tersenyum licik, mengepalkan tangannya ketika mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
_
_
_
"Kau kenapa?" Zafran terkejut, melihat istrinya yang terkulai lemas tak berdaya.
Tifani hanya menggeleng samar dengan mata yang masih terpejam, belakangan ini tubuhnya terasa tidak bugar, mudah lelah dan pegal.
Namun tiba-tiba Tifani kehilangan kesadarannya, Zafran yang sudah dilanda kepanikan pun mengangkat tubuh Tifani. Pria itu menggendong istrinya dan membawanya ke puskesmas terdekat, namun setelah Tifani diperiksa, Zafran tercengang dengan pernyataan dokter yang menangani istrinya.
__ADS_1
"Katakan! Siapa yang telah melakukan itu?" ucap Zafran dengan raut wajah datar, nada bicaranya pun tak seperti biasanya.
Tifani yang masih belum mengerti apapun hanya bisa mengerutkan dahinya, saat dia siuman, dokter hanya mengucapkan selamat dan memberi obat serta vitamin.
"Siapa ayah dari janin yang kau kandung?" Zafran kembali bertanya dengan penuh penekanan.
Tifani terpaku, dadanya terasa nyeri ketika suaminya bertanya seperti itu, irama jantungnya sudah tak karuan. Jiwanya seketika nelangsa, kini benih yang ditanam Zafran sudah berkembang, seharusnya ini adalah hal yang dinanti oleh pasangan suami istri pada umumnya. Tifani memikirkan kembali kejadian itu, dirinya menyesal, kenapa saat itu dia tidak mengaku saja kalau Zafran telah melakukan kewajibannya meskipun dalam keadaan tidak sadar.
"JAWAB..!!" saking geramnya, Zafran sampai membentak Tifani, untung saja mereka sudah sampai di rumah.
Merasa tak kunjung mendapat jawaban, Zafran pergi meninggalkan Tifani yang masih diam menunduk seraya terisak, tubuhnya gemetar ketakutan. Dia bingung, usianya yang masih muda dia belum mengerti apa-apa, hingga gadis yang kini tengah berbadan dua itu terlonjak ketika suaminya membanting pintu rumah dengan keras.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Bersambung
__ADS_1
Inget kasi jempol & komentar, kalau banyak yang like dan komentarnya rame, hari ini aku update 2 chapter😚❤❤