
“hai... kalian berdua buruan naik depan sini!” seru bang tohun dari dalam Mobil.
“baik bang.” jawab daniel sembari masuk ke dalam mobil setelah tegar naik duluan.
“kemarin kalian tidak pergi ngamen di pantai ya? aku tak lihat kau berdua menunggu aku di pinggiran jembatan.”? tanya bang tohun yang fokus menyetir.
“iya bang maaf, sebenarnya kemaren pagi aku sama tegar udah mau berangkat, tapi...” daneil tidak meneruskan ucapan nya, dia masih tidak percaya kalau uwak sudah pergi untuk selama-lamanya meski daniel mencoba untuk menerima nya.
“tapi Kenapa ? kenapa kau sedih, kau menangis kenapa ? tanya bang tohun yang melihat daniel menitikan air mata.
“maaf bang, kemarin kami sedang berduka. uwak kami, orang yang mengasuh kami selama ini telah meninggal dunia pergi untuk selama-lamanya bang.” tutur daniel dengan nada berusaha kuat.
“turut berduka cita atas meninggalnya uwak kau.
sudah...sudah, janganlah kau sedih terus uwak kau tak kan tenang, kau doakan saja supaya uwak kau Masuk surga.” ucap bang tohun.
“amin... terima kasih bang.” jawab daniel sembari senyum menutupi kesedihan nya.
Setelah perjalanan yang lumayan lama sampailah mereka di kebun sayur tempat bang tohun kerja.
“kalian turun dulu tunggu abang di sana ya, abang parkirkan mobil dulu.” ucap bang tohun.
“baik bang.” jawab daniel.
Daniel dan tegar pun menunggu bang tohun di tempat yang sarankan .
Tak berapa lama bang tohun pun datang menghampiri mereka.
“ayo ikut abang... abang akan ajari kalian bagaimana cara kerjanya.” ajak bang tohun.
Bang tohun mengambil beberapa keranjang sayur ukuran sedang yang tidak terlalu besar dan kemudian memberikan kepada daniel juga tegar.
““disana ada gundukan sayur kubis, kalian bawa keranjang-keranjang ini dekat sana. kalian isi penuh setiap keranjang nanti ada kuli panggul yang akan menggangkat nya. kalian paham kan yang abang maksud?” tanya bang tohun dalam penjelasan nya.
“iya bang kami faham.” jawab daniel sambil berlalu menuju tempat gundukan sayur yang di maksud sama bang tohun.
“ternyata keranjang nya cuma sebesar ini ya niel, aku kira keranjang sayur kayak yang di pasar itu besar-besar.” ucap tegar yang mulai memasukan sayur kubis dalam keranjang.
“hahahahaha... kita punya pikiran yang sama gar. aku pikir juga keranjang yang gede-gede kayak di pasar itu.” timpa daniel dengan tertawa.
Kesedihan atas meninggalnya uwak, mulai terlupakan ketika mereka tidak di pemukiman .
Mereka dengan giat memasukan kubis-kubis itu kedalam keranjang
“kamu dapet berapa keranjang gar? aku dapet tiga keranjang, bentar lagi empat keranjang ini.” ujar daniel yang mulai berkeringat lagi.
“tiga keranjang ini. niel besok kita bawa handuk kecil seperti mereka.” ujar tegar sambil menunjuk ke arah para pekerja lain nya.
__ADS_1
“o iya ya ga kamu bener.” jawab daniel.
“niel... istirahat bentar kita, capek kalilah aku” ujar tegar yang mulai kelelahan dan kepanasan.
“ya udah kita istirahat bentaran.” jawab daniel.
“hai... kalian berdua sini!” seru bang tohun.
“waduh... ada apa nih gar? kok kita di panggil bang tohun.” tanya daniel sedikit panik.
“apa karena kita istirahat sebentar duduk-duduk gini ya niel.”? tanya tegar yang mulai bangun dari tempat duduk nya.
“entahlah gar, kita samperin aja bang tohun yuk.”
jawab daniel sembari jalan menuju ke arah bang tohun yang kemudian di ikuti sama tegar.
“buruan kalian kesini, lama kalilah kalian ini!” seru bang tohun lagi.
“i. .i...iyaa bang maaf, kami tadi istirahat sebentar ma maaf ya bang.” ucap daniel kepanikan.
“aku panggil kalian ini justru mau ku suruh istirahat di tempat teduh sana. dan ini ada dua bungkus nasi padang buat kalian makan siang, ni ambil.” tutur bang tohun sembari menyodorkan dua bungkus nasi padang.
“apa bang? jadi abang panggil kami kesini bukan untuk di marahi? abang kasih kami dua bungkus nasi padang.”? tanya daniel tidak percaya.
“alamak...banyak kalilah pertanyaan kau ini. cepat kau ambil nasi ini, aku masih banyak urusan.” ujar bang tohun yang kemudian berlalu dari mereka setelah daniel menerima bungkusan nasi dalam kantong plastik yang ia sodorkan.
“nasi padang ya niel.”? tanya tegar sembari membuka bungkusan kantong plastik yang di pegang sama daniel.
“iya gar... ini buat makan malam aja, untung sayur nya di pisah jadi nggak takut basi. siang ini kita makan nasi goreng bekal kita. ya udah kita selesaikan dulu isi keranjang satu lagi yang hampir penuh, baru kita istirahat. ” ujar daniel.
*****
*p**emukiman di siang hari*...
“ely pinjem boneka sinok yang ini ya.” tanya laely di sela bermain mereka di dalam kamar.
“kita bisa main bareng-bareng ely, kan ely pernah kasih sinok mainan yang ely dapet di tempat mulung.” ujar naylla.
“ely, sinok... kita makan siang dulu, entar main lagi. nasi goreng nya udah aku panasi.” ujar fajar menghampiri mereka di kamar yang sedang seru bermain.
“ayo nok kita makan siang dulu, makan nasi goreng.” ujar laely keluar kamar.
“sinok mau banyakan nasi goreng nya jar.” pinta naylla.
“sini biar radit yang ngambil.” ujar radit menuju dapur.
“terima kasih radit.” ucap naylla.
__ADS_1
“sama-sama nok.” jawab radit.
“dit...ely, besok kan hari minggu, kita mangkal di jembatan aja ya ? kalian nggak usah ke tempat pemulungan.” ujar fajar.
“maksudnya aku sama radit ikut kamu minta-minta di jembatan jar? iya ely mau, ely sudah janji sama uwak akan menggantikan uwak.” ucap laely.
“iya jar, beta su tak malu lagi. beta sama ely akan ngemis ikut kamu jar, biar sinok ditemani ely... iya kan nok.”? ujar radit.
“uwaak!” Tiba-Tiba naylla menghentikan makan nya kemudian lari kedalam kamar.
“sinok....” fajar, radit, ely bergegas menuju kamar.
“udah mirip uwak belum aku jar, dit, ely? tanya naylla yang ternyata memakai baju serta penutup kepala punya uwak.
“hahahaha.... sinok sinok.” tawa fajar membuat ely juga ely ikut tertawa terbahak-bahak melihat naylla yang merasa mirip uwak.
“sinok kalau ke jembatan besok pake itu ya.” ujar laely.
“hahahaha... iya bener kata ely nok, uwak junior.” ujar fajar sambil terus tertawa.
“ya sudah kita selesaikan makan siang nya dulu terus di beresi semua baru kita istirahat, sore nya kita harus nyuci baju. ” ucap radit yang selesai makan duluan dan menuju dapur.
Setelah selesai membereskan peralatan makan
siang dan mencuci bersih mereka pun beristirahat.
*****
Jam dinding menunjukan pukul 04.00 sore .
Cuaca sedikit mendung.
Daniel juga tegar hari ini memilih kerja di kebun
dan tidak mengamen di pantai.
Dengan kegigihan mereka akhirnya mereka berdua bisa menggumpulkan 12 keranjang sayur kubis di kebun tempat bang tohun kerja.
jembatan
“ini upah untuk kalian, karna kalian berdua bisa menggumpulkan dua belas keranjang sayuran, maka upah kalian enam puluh ribu berdua.” tutur bang tohun sembari menggulurkan lembaran ang sejumlah enam puluh ribu
“enam puluh ribu bang upah kami? ini semua upah buat kami bang.” tanya daniel sambil kegirangan.
“iya itu upah kerja kalian hari ini, sudah cepat-cepat kalian kemas-kemas lalu kita pulang.
ujar bang tohun berjalan menuju tempat parkiran.
__ADS_1
BERSAMBUNG ☆☆☆☆☆