
Tidak terasa waktu telah bergulir, nuansa lentera menghiasi area jembatan barelang dua pertanda malam telah tiba, dan akhir pekan akan segera berlalu.
Jam menunjukan pukul enam malam, suasana di area jembatan barelang masih ramai dengan pengunjung yang sudah berbeda dari pengunjung pagi dan siang.
mereka baru berdatangan setelah habis magrib.
“kira-kira bagaimana keadaan sinok ya niel, semoga sudah sembuh.” tanya tegar yang kwatir akan keadaan naylla.
“kan ada uwak yang merawat, pasti udah baikan.”?
jawab daniel yang jalan duluan menuju grombolan pengunjung yang baru berdatangan, kemudian di ikuti tegar dari belakang.
Tegar pun melantunkan sebuah lagu andalan yang di ikuti petikan gitar kecil nya daniel, suasana minggu malam serasa syahdu.
Setelah selesai membawakan satu buah lagu mereka mendapat saweran dari pengunjung.
kemudian mereka berniat pindah ke pengunjung lain nya, tetapi....
“kalian masih di sini.”? pertanyaan yang sumber nya dari arah belakang mereka, tidak asing swara nya di telinga daniel...
“eeh kak andrey... belum kak, kalau hari biasa kami dah pulang dari tadi, dan biasa nya kami pun nggak di sini tapi di jembatan empat.” terang daniel, dan ternyata itu swara gadis tomboy tadi pagi.
“ooo pantesan gue jarang tenggok elo ngamen di sini, btw kalian berdua dah pada makan belum.”? tanya gadis tomboy itu sambil menggeluarkan makanan dari dalam tas nya.
“nih buat kalian berdua.” gadis tomboy itu menggulurkan dua buah jagung manis bakar yang masih hangat.
“apaan nih kak, wih jagung manis bakar. beneran nih kak buat kami berdua? terima kasih ya kak.” ucap daniel sambil menerima jagung manis bakar pemberian dari kak andrey itu.
“ya buat kalian lah, orang udah jelas-jelas gue sodorin buat kalian gitu, masa iya buat si rohut hahahaha.” ucap kak andrey.
“hehehe... kak andrey bisa aja, sekali lagi makasih ya kak.” ucap daniel sembari memasukan bungkusan plastik yang berisikan jagung bakar ke dalam tas punggung yang di bawa sama tegar.
__ADS_1
“terima kasih kak andrey.” tambah tegar.
“iya iya, sama-sama.” ucap kak Andrey.
“ya udah kalau gitu kami lanjut ngamen dulu ya kak.” pamit daniel.
“ok ok! hati-hati kalian.” ucap gadis tomboy itu.
*******
Sementara itu di pingir jembatan ujung kiri jalan tampak radit dan laely mendapatkan lumayan banyak pemberian dari pengunjung.
“ternyata enakan ngemis kan dit dari pada mulung.”? ucap laely dengan polosnya.
“sstttt.... aduh ely, jangan keras-keras bicaranya, malu didengar orang.” ucap radit sambil membungkam mulut laely.
“kok malu sih dit, kan ely bener.” ucap ely yang berusaha melepas bungkaman radit.
“iya bang sebentar lagi kami pulang, lagi menunggu teman, terima kasih sudah berkenan memberi uang untuk kami bang.” ucap radit dengan nada sopan meski swaranya keras.
“radit, laely...ayuk kita pulang, udah hampir jam delapan entar nyampek kontrak an ke maleman kita.” ajak daniel yang menghampiri mereka berdua.
“tunggu sebentar, aku minum dulu.” pinta tegar sambari menggeluarkan botol minuman dari dalam tas punggung.
“tinggal dikit habisin aja gar.” pinta daniel sembari membantu radit membereskan koran yang buat duduk radit dengan laely.
Akhirnya mereka berempat pun pulang menuju kontrak an pemukiman yang lumayan jauh dari jembatan. apa bila di tempuh jalan kaki dengan langkah pelan bisa memakan waktu sekitar dua puluh menitan. jika berjalan nya lebih cepat hanya sekitar sepuluh sampai lima belas menit.
*******
Beberapa menit kemudian....
“gimana keadaan sinok wak.”? tanya daniel yang baru saja sampai di kontak an.
__ADS_1
“Sudah membaik, cuma sinok harus istirahat yang cukup. ya sudah, kalian gantian mandi sana habis itu makan. uwak sudah memasak buat kalian untuk makan malam.
“baik wak.” jawab daniel.
Sementara itu tegar sama radit yang masih menunggu laely selesai mandi, sibuk menghitung hasil hari ini.
“mendapat belas kasihan orang dengan meminta minta memang lebih banyak hasil nya di bandingkan mulung gar, tapi radit lebih suka jadi pemulung.” bisik radit pelan, dia takut kalau sampai uwak mendengar.
“Sebelum aku bisa ngamen dan kau bisa mulung hidup kita dari hasil mengemis uwak dit, jadi kita tak bisa apa-apa keculai jalani semua ini.” ucap tegar sambil memasuk kan kembali hasil ngamen ke dalam bungkus permen yang kemudian di kasihkan ke uwak.
“ini hasil ngamen hari ini wak.” ucap tegar sembari menyodorkan uang di dalam bungkus permen.
“ya sudah situ dulu , langsung mandi ya terus makan malam.” ucap uwak yang sibuk mengantikan baju naylla sehabis badan nya di kompres.
“iya uwak.” jawab tegar sambil berjalan menuju kamar mandi.
“ini hasil minta-minta hari ini wak.” ucap radit sembari menaruh toples berisi kan uang di dekat bungkus permen.
“radit.”
panggil uwak menghentikan langkah radit yang hendak keluar dari kamar.
“iya uwak,” jawab radit sambil membalikan badannya.
“kalau kamu tidak suka mengemis, lain kali kau sama laely pergi mulung saja.” ucap uwak serius yang membuat radit tersentak kaget.
“ti.. ti, tidak uwak, bukan begitu maksud radit. maafkan radit uwak.” ucap radit mulai ketakutan.
“sudahlah, tidak menjadi apa. sebaiknya kau secepat nya mandi kemudian makan malam.” perintah uwak sambil menyuapi naylla.
Setelah semua selesai mandi, mereka pun menyantap makan malam yang sudah di sediakan uwak.
BERSAMBUNG........
__ADS_1