Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 10


__ADS_3

Sudah lama aku menginginkan untuk minum Es, dokter sudah melarangku karena katanya berat bayiku sudah sangat normal, jangan terlalu besar agar tidak begitu sakit saat melahirkan.


Biasanya entah berapa kali aku minum Es, sampai-sampai mertuaku pada memarahi aku. Mungkin efek hamil, bawaannya gerah saja.


Walaupun jus nenas ini tidak pakai es batu, menurutku jus ini sudah membuatku merasa lega. Nikmat sekali rasanya!


Aku juga membuat untuk orang yang ada di rumah, Xia juga mengakui jika jus ini sangat enak. Xia dan aku sepertinya satu frekuensi dalam makanan, pantas saja kami langsung akrab saat begitu kenal dulu.


***


Pagi ini aku sempat bercermin, ternyata perut ku semakin membesar, kakiku juga bengkak. Aku sudah seperti raksasa saat berjalan. Jam menunjukkan pukul 5 pagi, setelah sholat subuh aku langsung berjalan mengelilingi rumah. Kini aku tak sanggup mengelilingi rumah sampai lebih dari lima putaran, aku hanya mampu tiga putaran saja.


Selepas itu, aku merasa lelah sekali. Mama Rima juga tidak cerewet pagi ini, tumben sekali pikirku. Tiba-tiba perutku terasa nyeri, sangat sakit rasanya. Suamiku sudah pergi kerja, aku tak tahu harus meminta bantuan dengan siapa.


Sakitnya tak beraturan, ia hilang timbul. Aku sempat bertanya pada dokter ternyata itu adalah kontraksi palsu.


'Deg!


Kontraksi palsu? Apa itu tandanya aku akan segera melahirkan?


Ini masih awal bulan, perkiraan persalinanku adalah akhir bulan. Kenapa semua jadi dadakan seperti ini?


"Ada apa, Dhira?" Mama Rima terlihat panik melihatku meringis kesakitan.

__ADS_1


"Perut Dhira sakit, Ma." Sambil ku pegang perutku.


"Apa rasanya hilang timbul?"


Aku mengangguk, "Sepertinya kamu sudah mau melahirkan, Dhir. Biar Mama telpon suami kamu!"


Aku tertegun, baru kali ini Mama perhatian denganku. Mungkin karena cucunya akan lahir, aku tak ambil pusing soal itu. Yang aku pikirkan adalah rasa sakit ini gimana cerita harus berkurang, astaga aku menghayal soal itu. Mana mungkin sakitnya akan berkurang, yang ada malah semakin dahsyat nikmatnya.


Aku juga menelpon Ibuku, dan memberitahu semuanya. Ibu juga tidak bisa datang dadakan, aku hanya minta doa dari ibu, bapak dan abang. Mereka adalah kekuatanku sejak kecil.


Pagi menjadi siang, aku merasakan seperti keluar cairan berwarna merah di pakaian dalamku. 'Apa ini?'


Aku keluar dari kamar mandi dan langsung menuju kamar Mama Rima. "Ma!" Lirihku.


"Ada apa, Dhira?"


"Kita ke rumah sakit sekarang!"


Mama Rima menelpon Papa Sam, karena Mas Rayyan tidak bisa di hubungi saat ini. Untung saja Papa Sam langsung pulang dan membawaku ke rumah sakit. Tiga puluh menit berlalu, akhirnya kami sampai di rumah sakit. Dokter kandunganku mengatakan jika aku sudah memasuki pembukaan 1.


'Deg!


Hatiku bergetar, tak terasa sebentar lagi aku akan berjuang mempertaruhkan hidupku hanya untuk kehidupan manusia yang lain, seseorang yang akan lahir dari rahimku. Anak yang kutunggu, tak lama lagi akan aku perjuangkan. Ini begitu cepat, untung saja aku sudah mempersiapkan pakaianku sejak lama di dalam tas besar itu.

__ADS_1


***


'Oeeek! 'Oeeeeek!


Hari menjadi gelap dan semakin gelap menandakan sebentar lagi sudah pergantian hari. Tepat pukul satu malam aku berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki, ia sangat tampan dan menggemaskan. Rasanya kesakitan yang dahsyat tadi terobati saat mendengar suara tangisannya.


Hai, Nak. Selamat datang ke dunia, selamat berpetualang dengan Bunda. Ah iya, Ayah dan Bunda sangat menyayangimu.


Tak lupa pula Mas Rayyan mengumandangkan adzan padanya, Masya Allah ... Aku masih tidak menyangka jika saat ini aku sudah memiliki dua jagoan, yaitu Ayah dan anaknya.


"Hai, Sayang. Siapa sih nama cucu Nenek ini?" Mama Rima begitu menyayangi cucunya walaupun ini bukan yang pertama.


"Ah iya, kita belum bicarakan soal nama, Sayang." Mas Rayyan membelai lembut pipiku.


"Zavier Al Fateh, gimana Mas?"


*****


Sambil menunggu jawaban dari Mas Rayyan, yuk baca punya teman Author yang nggak kalah kerennya. cekidot👇



Blurb:

__ADS_1


Gara-gara menolong Rinjani yang terkurung di dalam toilet, Hazel malah harus segera menikahinya. Bukan karena dituntut untuk bertanggung jawab, tetapi orang tua Hezel mengira jika anaknya sudah tidak sabar untuk menyentuh Rinjani.


Hazel dan Rinjani memang sudah ditunangkan saat mereka masih bayi. Namun, Rinjani yang menganggap pertunangan itu tidak sah malah jatuh cinta kepada ketua kelasnya.


__ADS_2