Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 45


__ADS_3

Aku sudah rapi dengan jilbabku walaupun belum mandi tapi aku tetap wangi, percaya 'lah! Tak lupa juga aku poleskan lipstik di bibirku, bukan maksudku untuk sok cantik tapi aku tak mau terlihat pucat di hadapan banyak orang. Kesedihanku atas perceraian ini hanya boleh aku yang tahu, bukan mereka.


Ceklek!


"Surprise!" Mas Danu menaburkan kelopak-kelopak bunga tersebut tepat di hadapanku. Setelah kelopak nya pada habis, tiba-tiba aku melihat putraku berjalan ke arahku sambil membawakan bunga.


"Kehidupan baru untuk bahagia!" Kata Zavier membuatku tercengang, bayi kecilku sudah lancar berbicara.


"Terima kasih, Nak." Tak henti-hentinya aku cium kening anakku, satu-satunya alasan untuk aku bertahan di kota ini.


Mbak Hanum mendekatiku, "Jangan mewek lagi, kami ada di sini untuk kamu."


"Terima kasih, Num. Tanpa kamu aku nggak tahu bagaimana hidupku sekarang."


"Sahabatku hanya kamu, jangan berterima kasih karena sahabat tak pernah kenal makasih dan maaf."


Aku tersenyum mendengarnya, sahabatku itu paling tahu cara membuat ku tersenyum.


"Dhira, saya yakin kamu itu kuat," ucap Pak Zaydan sambil menyerahkan satu paperbag untuk aku.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak. Tapi ini apa?"


"Anggap saja hadiah, jangan di buka sekarang ya."


Aku mengangguk, mungkin dia malu, pikirku. "Sudah pada makan belum?"


"Belum, kami di sini justru mau minta makan."


"Astaga, Hanum! Serius? Aku nggak masak, ya sudah aku pesanin makan aja gimana? Pada mau makan apa?"


'Pft, Hahaha!


Seenaknya dia menertawakan ku padahal aku sudah sangat panik sekarang. Menyebalkan!


"Serius? Astaga, Pak Zaydan nggak perlu repot-repot begini. Saya makin nggak enak, atau potong gaji saja, Pak, nggak pa-pa kok."


"Nggak repot, Dhira. Memang saya yang mau," tutur Pak Zaydan.


***

__ADS_1


Selamat pagi dunia!


Ku sapa matahari yang telah bersinar, burung-burung berkicau menyambut sapaku, bahkan ayam juga ikut berkokok meramaikan keadaan saat itu. Kenapa mereka bahagia? Ah, mereka meledekku. Siapa juga yang bahagia dengan status menjadi seorang janda?


Aku! Ya, aku harus bahagia. Ini adalah pilihanku, kebahagiaanku hanya aku yang memutuskan, bukan mereka!


Ku awali pagi ini dengan Bismillah, semoga saja hariku dan Zavier menyenangkan. Astaga! Saking sibuknya dengan hari, aku sampai lupa dengan waktu.


Ku lirik jam di dinding sudah memasuki pukul 7 pagi, ini bukan kesiangan lagi tapi memang sudah siang. Bagaimana ini?


Mandi bebek! Ya, hanya itu satu-satunya cara cepat sampai ke kantor. Lima belas menit aku sudah rapi walau mandiku tidak bersih. STT! jangan bilang siapa-siapa ya, hanya aku yang tahu.


Ceklek!


"Selamat pagi, Bunda." Yang menyapaku adalah si Mbak, benar-benar membuatku terkejut.


"Pagi, Mbak. Ya ampun sudah bangun ternyata, kok nggak bangunin saya dari tadi?"


"Maaf, Bunda. Dina kira Bunda nggak kerja dulu," lirih Dina, sepertinya dia merasa bersalah saat ini.

__ADS_1


"Ya sudah, saya pergi dulu ya, Mbak. Tolong jaga Zavier," titahku sambil pamit pada Mbak Dina.


Dina sebenarnya masih berumur dua puluh tahun, tetapi ia putus sekolah sejak SMP karena kurang nya perekonomian dalam keluarganya. Aku mendapatkannya dari tetangga sebelah yang kebetulan pembantunya juga satu kampung dengan Mbak Dina. Selama satu tahun ini Mbak Dina baik-baik saja bekerja di rumahku. Aku juga sudah menawarkan sekolah untuknya tetapi dia enggan karena merasa tidak enak, katanya.


__ADS_2