Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 54 (End)


__ADS_3

"Bapak dan Ibu sudah memutuskan untuk merestui hubungan kalian. Nak Zaydan sudah menceritakan semuanya, Bapak dan Ibu akan ikut ke rumah kamu sampai acara selesai. Mengerti?"


"Be -- beneran, Pak?"


Lelaki paruh baya tersebut mengangguk, "Asal kamu bahagia, Nduk. Kamu harus bahagia! Sudah cukup luka selama ini, air matamu terlalu mahal menangisi mereka. Bapak dan Ibu selalu mendukung kamu."


"Alhamdulillah!"


***


Hari berganti, surat undangan pun mulai tersebar termasuk ke rumah Mama Rima. Kebetulan sekali yang menerima undangan adalah Mama Rima, Mbak Hanum yang mengantarkan undangan tersebut tersenyum ramah menjelaskan acaranya dengan mengantongi sabar yang harus berkali lipat.


"Apa ini?" tanya Mama Rima.


"Undangan pernikahan Pak Zaydan dengan Dhira, Bu. Datang ya!"


Tak lama kemudian, Rayyan keluar dan bergabung dengan mereka. "Apa? Dhira mau menikah? Nggak! Nggak mungkin."


"Apanya yang nggak mungkin, Pak?"


"Dhira sangat mencintai saya, itu nggak mungkin terjadi."


"Cinta itu akan pudar jika di taburi dengan rasa sakit. Kalau begitu saya permisi dulu, assalamu'alaikum."


Kepergian Mbak Hanum membuat Rayyan semakin frustasi. "Bilang sama Rayyan, ini nggak mungkin 'kan, Ma?"


"Kamu sudah gila? Lupakan Dhira!"


"Rayyan nggak bisa hidup tanpa Dhira, Ma."


"Kamu yang membuat luka itu, Rayyan. Kamu harus ikhlas!"


"Tolong hentikan pernikahan itu, Ma."


Mama Rima terdiam, kemudian ia menggelengkan kepalanya. "Nggak! Pernikahan ini tidak boleh batal. Dhira itu menantu terbaik Mama, kamu sendiri yang membuangnya. Sudah cukup sakit yang kita berikan padanya selama ini, Ray. Dhira juga berhak bahagia! Mama sudah nggak mau tahu dengan kamu lagi, terserah kamu dan istri kamu mau gimana yang penting Dhira harus bahagia."


"Ma ... Mama ...." Teriak Rayyan, lelaki itu sudah seperti orang gila yang hampir putus urat malunya. Padahal di sana juga ada istri barunya yang menatap suaminya penuh rasa kasihan.

__ADS_1


Hubungan antara Rayyan dengan istrinya cukup renggang sekarang, keduanya sudah merasa menyesal tetapi menyesal saja tidak cukup. Tidak pula menyelesaikan masalah, ingin bercerai pun percuma karena wanita itu sedang mengandung.


***


Adhira Ulya POV


Gaun pengantin berwarna putih melambangkan kesuciannya pernikahan ini. Tak ku sangka, aku akan merasakan ini lagi. Menikah untuk yang kedua kalinya, hal itu sebenarnya tidak ada yang pantas di banggakan. Bahkan aku ingin pernikahan ini hanya sederhana, tetapi Pak Zaydan mengatakan harus mewah. Semata-mata bukan untuk menyombongkan diri, tetapi menunjukkan bahwa aku baik-baik saja tanpa mereka.


Pak Zaydan baik banget ya? Aku bersyukur Tuhan memberikannya padaku. Entah bagaimana nantinya, yang jelas aku sudah mulai nyaman padanya.


"Sah!"


Teriakan itu membuatku meneteskan air mata. Sekarang aku sudah sah menjadi istri dari Pak Zaydan. Tak lama kemudian pintu kamarku terbuka, terlihat ibu di sana yang ingin membawaku keluar.


"Bu ..."


Ibu memelukku, "Selamat, Nak. Bahagia mu telah tiba!"


"Ibu merestui 'kan?"


"Ibu sangat merestui. Ayo keluar! Suamimu sudah menunggu."


"Sekarang salam suami kamu," titah Ibu.


Aku mencium tangannya, lalu ia mengelus kepalaku sambil membacakan doa di ubun-ubun ku. Terima kasih, Tuhan. Karena telah mengirimnya untukku.


Jam berputar, siang harinya kami mengadakan resepsi di gedung yang mewah. Tak ku sangka akhirnya aku bisa mengadakan pesta di tempat ini. Beda sekali sewaktu Mas Rayyan menikahiku. Ah, sudahlah, itu sudah berlalu.


Para tamu bergantian menyalami kami sembari berfoto ria. Saat tidak ada yang mendekati kami, Pak Zaydan menatapku. "Dhira! Terima kasih sudah mau menjadi istri saya. Saya berjanji, seumur hidup saya akan saya serahkan padamu, saya akan menjagamu, membimbingmu hingga kita ke surga bersama-sama. Menjadikanmu bidadari dunia dan akhirat saya. Saya mencintaimu karena Allah!"


Aku mendapatkan kecupan singkat di kening, ini kali pertamanya aku merasakan itu lagi dari orang yang berbeda. Aku meneteskan air mata saking terharunya. "Aamiin. Terima kasih juga, Pak. Karena telah menjadikan Dhira istri yang akan menemani Bapak sampai maut memisahkan. Entah bagaimana nantinya, tapi yang jelas saya akan terus di samping Bapak apapun yang terjadi. Saya akan berusaha mencintai Bapak, karena Allah Ta'ala."


Tiba-tiba seorang wanita paruh baya beserta suaminya datang ke arahku, memelukku dan mendoakan kebahagiaan untuk pernikahanku. Dia adalah Mama Rima dan Papa Sam. Orang tua yang dulunya aku hormati, orang tua yang pernah masuk dalam kehidupanku. Orang tua yang punya banyak kisah dalam hidupku.


"Ma ... Pa ..."


"Selamat, Nak." Ucap Papa Sam dan Mama Rima secara serempak.

__ADS_1


"Maafkan Dhira!" Ku teteskan air mata ini, mengingat masa-masa yang pernah kami alami bersama.


"Kamu nggak salah, kamu menantu terbaik Mama. Maafkan Mama selama ini banyak menyakitimu, kamu berhak bahagia, Sayang."


Ucapan itu terdengar sangat manis, ku lihat ada ketulusan di sana. Aku langsung memeluknya, "Terima kasih, Ma."


Papa Sam menepuk punggung Pak Zaydan, "Untuk kamu, tolong jaga menantu saya. Jangan sakiti dia seperti anak saya menyakitinya. Dhira adalah berlian yang nggak pernah kami sadari betapa berharganya dirinya."


"Pasti, Pak."


Tiba-tiba hadirlah Mas Rayyan dengan istrinya. Aku tetap tersenyum, apalagi ada suami yang menguatkan ku. Mas Rayyan berhadapan dengan Pak Zaydan. "Pak! Saya mohon, jangan sakiti dia, jangan mengulangi kesalahan yang pernah saya perbuat."


"Pasti!"


Kini Mas Rayyan berada di hadapan ku, "Apa Mas boleh memeluk Dhira untuk yang terakhir kalinya?"


"Maaf," cegahku.


Akan tetapi tiba-tiba Pak Zaydan memegang pundakku, "Nggak apa-apa."


Aku mengerutkan alisku, untuk apa Pak Zaydan mengatakan itu sekarang?


Mas Rayyan langsung memelukku sebentar, kemudian ia berhadapan kembali denganku. Ku lihat air matanya menetes sekarang. "Terima kasih atas semuanya, maaf karena selalu menyakitimu."


"Terima kasih juga telah merubah Dhira menjadi Dhira yang dewasa. Mas adalah kesalahan yang pernah Dhira temukan, tetapi dari kesalahan itu Dhira banyak mendapatkan pelajaran. Mas tetap menjadi ayah dari Zavier, temuilah jika Mas Rayyan mau."


"Terima kasih, Dhira."


Ya, beginilah akhirnya. Pernikahan yang awalnya aku idamkan ternyata berakhir dengan sangat tragis. Aku sempat berpikir jika Tuhan benar-benar tidak adil padaku. Namun ternyata, semesta menjawab keluh kesah ku, menghadirkan laki-laki yang benar-benar tulus dan menyayangiku. Aku harap ini adalah takdir terakhir yang Tuhan gariskan untukku. - Adhira Ulya dalam novel Mertuaku Kang Atur.


-Tamat-


***


Alhamdulillah, Terima kasih semuanya yang sudah mau membaca Mertuaku Kang Atur. Mohon maaf karena sempat membuat kalian menunggu kelanjutannya selama sebulan karena ceritanya digantung sama Author akibat kesibukan di dunia nyata.


Novel ini berisi dari sebagian kisah nyata kebanyakan orang (bukan kisah Author ya, garis bawahi!) , dimana ia harus terpaksa tinggal bersama mertuanya karena pengaruh ekonomi. Kebanyakan mertua pasti menceritakan menantunya yang tidak bekerja hingga sang menantu memutuskan untuk bekerja agar tidak di anggap rendah lagi. Sialnya, keputusannya itu malah menjadi petaka bagi kehidupan rumah tangganya. Ya, Tuhan tidak tidur. Tuhan menggantikannya dengan mengirim laki-laki yang mau menjadikan wanita itu bidadari di kehidupannya.

__ADS_1


Jangan sedih jika seseorang membencimu, karena pasti akan ada yang menyayangi dan menghormati dirimu. Salam sayang, Author❤️


(Sampai jumpa di karya Author berikutnya, see you!)


__ADS_2