Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 33


__ADS_3

"Ya, Mas juga tahu anak kita normal. Siapa bilang dia cacat? Tapi coba kita lihat dari ciri-cirinya, Dhira. Zavier cenderung ke gejala autis dan semoga saja dia hanya speech delay (terlambat berbicara). Kamu tahu 'kan dia main ponsel saja kerjanya? Dan saat itu, dia terlalu fokus pada ponselnya sampai-sampai kita di abaikannya saat bicara. Atau bisa saja saat kamu hamil, kamu tidak makan yang bergizi dan tidak minum vitamin. Jadi ini bukan salah anak kita! Zavier masih dalam usia emas, dia masih bisa sembuh. Kita akan membawanya therapi nanti saat kembali. Sayang, anak kita itu berbeda. Dia spesial, dan kita harus lebih ekstra sabar lagi menghadapi nya. Kamu nggak mau 'kan kalau Zavier seperti itu terus? Kamu nggak mau 'kan kita sampai terlambat menanganinya? Sayang, kita semua itu sangat menyayangi Zavier. Kita mau yang terbaik untuk anak kita!"


'Hiks ... 'hiks ...


Aku hanya bisa menangis di pelukan Mas Rayyan, ini sudah suratan dan inilah takdirku. Malam ini terasa lebih lama di bandingkan malam sebelumnya. Aku bahkan tak bisa tertidur akibat memikirkan putraku tersebut.


Pagi yang cerah mengawali hari kami, ku lihat tidak ada lagi yang membahas Zavier. Bahkan semuanya sangat menyayanginya, aku benar-benar nyaman di rumah ku ini. Ah, tidak. Ini bukan rumahku sekarang, ini rumah ayah ibuku. Kondisi ibu juga sudah mulai membaik, aku sangat senang mendengarnya.


***


Dua Minggu kemudian


Kami harus pulang sekarang, Mas Rayyan sudah mulai di panggil oleh atasannya. Ini adalah keputusan yang menyedihkan bagiku. Setelah menikah untuk bertemu keluarga saja aku sangat sulit, waktuku juga terbatas. Aku menamakan hari ini adalah hari tangisan keluargaku.

__ADS_1


"Bu, Pak ... jaga diri baik-baik, sehat selalu dan harus bahagia!"


"Kamu nggak perlu mikirin Bapak sama Ibu, kamu pikirkan saja diri kamu, Nak. Kamu dan keluarga kamu 'lah yang harus bahagia." Ucap Ibu, seperti sebuah tamparan untukku.


Setelah berpamitan, kami pun langsung pergi. Kami sengaja memesan sebuah taksi untuk mengantarkan kami ke bandara, kami tidak ingin merepotkan keluarga. Kata orang, anak perempuan setelah menikah ia akan menjadi tamu di rumahnya. Walaupun terlihat konyol, itu benar adanya. Aku sudah merasakan semua itu sekarang.


Setelah empat puluh menit, kami sampai di Medan. Mas Rayyan juga memesan taksi untuk mengantarkan kami sampai rumah. Bawaan kami sangat banyak, aku hanya mampu menggendong Zavier yang semakin lama semakin besar tersebut.


"Waalaikumsalam," sahut semuanya.


Aku tercengang saat melihat rumah tersebut sangat ramai sekarang. Abang iparku juga hadir saat ini. Batinku mengatakan jika mereka mengharapkan oleh-oleh saat ini.


"Kalian mandi 'lah, kardusnya kami buka ya? ucap Mama Rima, sudah ku duga mereka mengingatkan kardus tersebut.

__ADS_1


"Iya, Ma."


Mereka terlihat sangat antusias, bukan hanya makanan yang aku bawa tetapi juga ada beberapa souvernir di sana. Semua memilih bagiannya masing-masing. Aku senang melihat mereka tertawa begitu, padahal hanya sebuah oleh-oleh yang tidak begitu mahal menurutku.


Kami pun mandi, Zavier sedang tidur siang di kamar. Setelah mandi ku lihat semua orang sangat senang dengan oleh-oleh yang ku bawa. Huh, untung saja aku sudah menyisihkan beberapa oleh-oleh untuk Hanum, tetangga sebelahku.


"Bagaimana ibu kamu?" tanya Mama Rima, aku mengernyitkan alis, tumben sekali Mama menanyakannya.


"Alhamdulillah, sudah membaik." Singkat ku, aku tak mau salah menjawab.


"Oh, syukurlah."


Baik aku dan Mas Rayyan tidak ada yang mau bicara terlebih dahulu tentang kondisi Zavier yang sebenarnya. Kami sengaja memberikan ruang untuk mereka bersenang ria terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2